Malam ini ku bawa hawa dingin bersamaku, menyusuri jalanan lengang berlampu muram menuju tempatmu. Kau tak pernah tau bagaimana aku bisa sejauh itu melewati setiap kelokan bertebing curam memanggil-manggilku dari dasarnya yang dalam. Aku sekali pernah dengan jelas mendengar ajakannya tapi bukit tempatmu berpijak lebih dulu mengelabui mataku maka ku susuri tanjakan demi tanjakan terus terus sampai aku lupa, aku ini sebenarnya apa? Malam ini ku bawa hawa dingin bersamaku karena hangatmu sudah menguap tadi siang karena dirimu sudah usang lagi kerontang. Malam ini ku bawa hawa dingin bersamaku jauh menuju tempatmu sekadar untuk melihat punggungmu. Lalu hawa dingin ini menyergapku membekukan ingatan-ingatan masa lalu.