Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2013

Like The Sun

ehmm di malming yang cerah ini -tapi gak secerah shcedule gue- bakalan diposting puisi karya Faisal Komandobat yang tak dapet waktu SMA dimuat di novel tapi aku lupa judul novele haha, bagus deh.. nyohhh.. Like The Sun Seperti matahari cinta ini Tak seorang pun yang mampu menciptanya Bahkan kau dan aku Bahkan mawar yang berguru pada musim Serta para rahib yang tekun Menyimak wahyu Mereka tak mampu mencipta cinta Tapi kita yang polos yang berdosa Dapat memilikinya- Tanpa berguru pada musim Dan menjadi seorang pertapa Cinta membuat kita mengerti segalanya Setiap kali kita membuka mata Wajahmu dan wajahku ikut terbuka Layaknya sebuah buku Yang didapat dari arah mana saja Dan memberi makna Sebanyak yang kita minta Tapi kita tak pernah tuntas mempelajarinya Maka kita yang jatuh cinta akan menderita Lebih dalam dari ratap para rahib Lebih dingin dari nyayian mawar Dimusim kering

Aku adalah api

Sepercik api dapat berkobar dan membakar seluruh bumi, setetes air dapat menembus tanah atau menjadi uap karena terpanggang matahari. Sebuah gelas kaca menjadi pecah berkeping-keping jika dibanting. Setiap yang tercipta itu berbeda, tak bisa selalu dipukul rata sama. ~ Andai aku api, laksana kobaran merah jingga menyala di malam yang pekat, membumi hanguskan semua yang ada entah pendosa atau pendoa, menghitamkan pohon-pohon flamboyan.. karena api selalu membakar, karena api tetaplah api, api tak pernah muncul dari kobaran besar, namun api tercipta dari gesekan kecil, bahkan itu hanya sebuah percikan.. Andai kamu air, maka dirimu tak pernah bisa memadamkanku, karena yang kau punya hanyalah air mata, menetes satu-satu dipipimu sementara aku menghanguskan pijakanmu.. lalu masih kah kau ingin memadamkanku? Sekali lagi aku ulangi, aku adalah api aku bukan matahari yang menyinari aku bukan rembulan yang menemani bintang-bintang malam, maka aku juga bukan bintang itu aku adalah a...

Kau hanya tidak tau

Seperti hujan yang jatuh ke tanah Seperti mentari yang menyinari daun-daun kering Seperti rembulan yang setia pada lautan Seperti itulah seharusnya cinta...    Sore ini krisan-krisan putih bermekaran, pohonnya ditanam dalam pot-pot plastik hitam kecil yang terjajar rapi di pekarangan. Riuh rendah suara gerimis semakin menyemarakkan sore itu. Krisan, bunga bermahkota banyak dengan benang sari-benang sari kerdil pada pusatnya, bunga yang indah meski tak seharum bunga mawar.   Maka terbanglah kupu-kupu biru ke pekarangan itu, ingin meminum barang seteguk madu. Sang kupu-kupu biru terpana dengan keindahan bunga krisan lalu sang kupu-kupu biru pun hinggap pada mahkotanya yang putih bersih. “Wahai bunga krisan yang bermekaran dibawah langit senja, bolehkah diriku meminum madu dari mahkotamu yang mulia ini?”    Kelopak krisan bergoyang perlahan tertiup angin sore, juga menggoyangkan kupu-kupu biru yang hinggap pada bunga krisan yang indah. Namun krisan...

Aku mungkin sudah melupa

Wahai malam yang menghitam, apakah kau hanya diam dan menyelimuti bumi? Ataukah kau bertasbih dengan segala puji? Semua tau jawabannya. Hei bulan yang benderang apakah yang sedang kau pikirkan? Apakah kau ingin menangis melihat bumi ini dari atas sana? Atau kau ingin tertawa? Mungkin kedua-duanya. Oh angin yang sejuk, apakah kau tidak ingin mengajakku pergi bersamamu? Apakah itu mungkin? Atau aku yang terlalu berharap? Mereka pikir aku gila. Ingatkan aku wahai bumi, bahwa dunia ini hanyalah persinggahan Ingatkan aku wahai langit bahwa dunia ini tidaklah kekal Dan kita tau, kita kan kembali kemana Jadi haruskah aku memikirkan dunia? Iya. Jadi sudahkan aku memikirkan akhirat? Belum. Aku rindu ibuku, rindu serindu-rindunya...