Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2019
Saat matahari tepat diatas langit, akan ku panggilkan angin-angin teluk, agar siangmu terasa sejuk. Ketika dahaga menyergap tenggorokanmu, akan ku tuangkan air kelapa muda dari pantai berpasir merah muda, agar hausmu segera sirna.  Saat malam terlalu gelap gulita, akan ku nyalakan rembulan, agar tidurmu tak lagi muram.  Ketika hujan membasahi sepatu, akan ku arak awan awan hitam, agar harimu menjadi cerah.  Tapi,  saat itu, jangan mengingatku. Namun,  ketika ingatanmu kembali, jangan mencariku.  Karena aku tidak pernah kemana-mana.  Iya. 

Bulan Kedua

Aku melewatkan bulan kedua dengan tak ingat apa-apa, karena melawan hari-hari biasa saja seperti sudah tak bernyawa. Bagai mumi yang mati tapi tak mati, membakar kertas-kertas mantra. Bahwa tua adalah jalan yang sudah diduga sebelumnya, entah puluhan  kali berapa bulan ber-revolusi, layaknya sepeda yang lama dikayuh, jauh. Hujan, banjir, kekeringan, kebakaran, hujan lagi, banjir lagi, terus begitu. Musim-musim tertawa dan ditertawakan, seru dan membosankan. Kedinginan di sepertiga malam, hanya untuk menarik selimut dan kembali terpejam, karena toh tidur juga kebutuhan. Meremehkan. Hidup itu tidak pernah panjang, karena sebagian besarnya disia-siakan. Setipe kalau sadar kan lumayan. Bulan ketiga sudah seminggu saja, aku sih tak apa, tapi ternyata tak bisa seenaknya soalnya datang kedunia bukan dari sulapan topi kelinci.