Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2017

Puisi

Bagiku rangkaian kata di blog ini adalah luapan amarahku, ke-kesalanku, ke-absurd-an ku dan helaian-helaian salamku untukmu. Aku tak berniat menulis puisi, tapi jika memang ingin menulis kenapa tak sekalian yang presisi??! Seperti malam ini, kau kira malam ini sama dengan malam-malam sebelumnya? Kau pikir tidak apa melewatkannya begitu saja? Kau ini.. Dari sekian sisi yang ku miliki, berimajinasi adalah keahlianku yang paling mumpuni. Aku bisa merubahmu menjadi apa saja; air, oksigen, elang, kelipuk, ilalang, bintang, laut bahkan sesuatu yang tak ku sebut. Aku pun sanggup membawamu kemana saja; palung, taman, cumolonimbus, luar angkasa, jalan tol, kebun teh, atap rumah, bahkan ke tempat yang tak kasat. Menurutmu aku sedang menulis puisi? Bukan, bukan. Curahan hati? Tidak, tidak. Aku hanya sedang berimajinasi, karena keahlian juga butuh latihan. Aha! Yah, bersabarlah, mau bagaimana lagi, aku memang begini.. Selamat hari puisi, hari yang sama dengan hari-hari saat kau tak disini...

Cerita

Apakah kau ingin mendengar sebuah cerita? Mungkin untuk mengisi sedikit lamunan sebelum tidurmu. Dahulu kala terdapat sebuah bukit emas yang jika hujan mengguyurnya maka sungai-sungai akan berkilauan layaknya kau berada di surga. Ikan-ikan pun berenang dengan sisik dan sirip yang dilapisi emas. Batu, lumut, tanah liat dan bahkan jika tak sengaja daun tua jatuh dipermukaan sungainya maka semuanya akan berwana emas. Indah? Apa kau berpikiran itu indah? Simpan dulu pikiranmu, ini adalah ceritaku. Sabar saja, nanti juga ada sesi tanya jawabnya. Apa aku menyebalkan? Terima saja, yang penting aku bisa cerita. Baiklah. Pada suatu waktu, hujan tak pernah turun lagi. Sungai-sungai mulai mengering. Daun tua juga sudah tidak ada. Ikan-ikan telah pergi ke hilir. Hanya tersisa batu dan tanah kering. Tapi, tengoklah bukit emas itu. Warnanya tak pudar bahkan sekarat pun. Malahan lebih bersinar daripada dulu-dulu. Bukit itu menjadi satu-satunya hal yang menantang panasnya matahari. Pasti kau...
Untukmu yang ada disitu, terima kasih atas keberadaanmu kemarin dulu. Apa, hatimu tidak menggebu? Aku, menggebu. Atau... bisa kita bertemu? ...
Untukmu yang ada disitu, Kamu dimana? Aku disini Ah aku lupa kau tak punya telinga Eh apa punya tapi aku belum melihatnya? Hmm... Ada saran?