Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2015

Mati

Kalau boleh aku membunuh, aku akan membunuhmu Tapi aku tidak akan melakukan itu sebelum aku membalasmu Membalas semua sakit yang kurasa karena kamu Tenang, kau tidak akan langsung ku lukai tapi kau akan menderita tapi kau akan terkesima tapi kau tak bisa berbuat apa-apa Lalu baru aku putuskan untuk membunuhmu atau membiarkan dirimu terbunuh.. ..oleh dirimu sendiri Mati, kau akan mati Hidupmu akan mati seperti para zombie Memakan otak otak manusia Karena memang kebanyakan otak mereka tak berguna, jadi tak mengapalah Kau akan menangis, sesenggukan hingga berdarah Melengking panjang namun tak satu orang pun berdatangan Sungguh kasihan Jeritanmu seperti kunang-kunang yang kehilangan pasangan Seperti danau yang tertutup Azolla pinata Mati saja iya, mati saja Selesai.

Sekarat

Aku sedang sekarat, tersuruk masuk ke rusuk karang Menggapai udara yang mulai tak ada Bertarung dengan lelah yang mulai merajalela Gelap pekat mengukungku, menjauhkan cahaya yang merambat bebas di sela-sela lamun Aku terbenam di lautan dalam, di bawah perut lumba-lumba yg berenang dengan gembira Tapi ini bukan palung, sulurnya menjalar-jalar mengikatku kuat-kuat Pasirnya menarikku, berharap aku kehabisan oksigen dan mati membiru Aku ingin pulang, dan tidur tenang di sudut ranjang Melewati hari dengan kedamaian Aku sudah tak mampu berperang Menghindari ranjau yang tertutup belukar senyuman Mari saling menghantam, agar darah dapat tumpah, biar luka bisa menganga Lalu dengan mudah aku tau dimana harus membalutnya...

Untuk apa

Terkadang aku muak menjadi seorang pujangga, yang seolah-olah menuliskan puisi atau prosa, yang dilemparkan ke seluruh sudut dunia maya. Untuk apa? Sebenarnya untuk apa semua ini? Untuk menumpahkan inspirasi seni atau limpahan isi hati? Jadi untuk apa segala rangkaian kata ini? Untuk meramaikan saja atau untuk menyampaikan sesuatu? Untuk apa? Bilang saja sebenarnya ini untuk apa? Untuk siapa? Agar tidak lelah hati menerka-nerka, agar hati tidak terlanjur berbunga-bunga. Untuk siapa? Untuk apa menuliskan ini sementara tak ada jawaban kunci. Untuk sekedar melegakan hati? Menyalurkan perasaan? Memberitahu keadaan? Menyiksa pelan-pelan? Merahasiakan ketulusan? Menghindar? Menahan? Melepaskan? Mengatakan? Apa? Apa? Jadi untuk apa? Untuk apa? Untukmu.

September

Banyak sekali yang terjadi, terlalu banyak hingga jari tak mampu menulisnya, kata-kata tak sanggup menceritakannya dan kosong. Iya, kosong. Entah tertahan atau ditahan, entahlah...