Skip to main content

Posts

Showing posts from 2015

Untukmu yang ada disitu

Malam ini kutuliskan sesuatu untukmu, untukmu yang ada disitu.  Kau tau kabut? Malam lalu dia berlarian diantara pucuk-pucuk pohon, menuruni gunung menuju ke belakang rumah tempatku menengadah. Memandang bulan yang tak penuh, namun cahayanya bagaikan purnama. Ah ya, awan disekitar bulan yang bukan purnama seperti mengerti apa itu harmoni. Mereka menggumpal kelabu mengelilingi satelit bumi. Pementasan ini terpantul sempurna dikubangan air laut yang pasang. Kalau kau tau, sungguh malam itu adalah waktu yang tepat untuk merindu. Yah bukan berarti aku melakukannya, hanya saja... ya memang aku tidak melakukannya. Kadang-kadang aku bertanya, untuk apa kita hidup di dunia? Untung saja jauh-jauh hari aku telah temui jawabannya. Retoris. Perenungan di malam-malam berbintang, berkabut, berpurnama telah membuatku menanyakan banyak hal, kembali memikirkan banyak hal dan tentu saja menikmati banyak hal. Malam lalu listrik tidak menyala, pun malam-malam sebelumnya. Tapi aku menikmati ini,...

Sebelas Purnama

Aku merasa kurang bersyukur dengan kata-kata, tapi entah dengan hati. Aku mendapati diri dalam jalur yang aku ingini, persis. Mengabdi, katanya. Tapi ada hal yang harus direnungi, buah dari pengabdian itu apa? Memang diri ku jauh, jauh berkembang dari yang dulu jika berbicara masalah pribadi, as a person. Lalu bagaimana dengan yang bukan diriku? Hasil yang maksimal dan usaha yang maksimal memiliki perbedaan yang besar. Kadang hal tersebut membuatku gundah. Karena aku merasa belum memberikan hasil yang maksimal lantas aku meragukan apakah aku sudah berusaha dengan maksimal? Sungguh kamu tidak akan mengerti, berderet penjelasan pun tak akan membuatmu paham, karena setiap detik yang ku lalui adalah setiap jengkal yang aku daki. Aku sadar, tidak semua hal bisa kita arahkan sesuai keinginan, menuruti kehendak hati. Tidak bisa. Ada yang pernah bilang, besar usaha mu bukan dilihat apakah kamu yang paling baik, terbaik, bukan, tapi lihat selisihnya. Selisih keadaan saat kau datang dan saat ka...

kenapa?

Kenapa menyembunyikan luka? Apakah kau malu? Kenapa harus mengumbar luka? Kau jawab begitu Kenapa kita selalu ingin terlihat baik-baik saja? Agar orang menyangka kita bahagia? Ada beberapa yang pura-pura menderita, untuk apa? Agar orang-orang kasihan dan memberi perhatian? Terus apa? Kenapa kita tidak belajar menerima? Jujur dengan keadaan. Ada hal yang harus dikatakan, ada hal yang baiknya disimpan. Lalu kenapa saat kata yang keluar malah bukan kenyataan? Apa yang kau cari? Bagaimana lilin akan mati saat kau tiup angin ke dalam hati? Menunggu lilin habis terbakar? Apakah kau pecundang? Aku hanya bertanya. Retoris. Entah mereka yang memuakkan atau aku sendiri yang memuakkan. Tidak ada yang tau. Tidak ada yang ketemu. ...

Batu

Suatu ketika hatiku tiba-tiba mengeras seumpama batu, bahkan lebih keras lagi hingga air yang mengenainya hanya melewatinya, tidak membasahinya. Aku merasa baik-baik saja, aku merasa lalu kenapa? Dan terkadang hatiku melunak, seperti es yang terpapar mentari, mencair, mengalir, meresap ke semua pori. Aku merasa bimbang, aku merasa harus bagaimana? Ada yang harus kulakukan dan akan kulakukan. Lebih baik menjadi batu yang bahagia atau lelehan es yang merana? Kerasnya membuat kesendirian dan cairnya menjadikan kebersamaan. Mungkin tahun-tahun yang dilewati masih lama, jadi aku memilih berjalan perlahan, menikmati setiap tapak kehidupan. Namun jika engkau ingin berlari maka berlarilah, 

Mati

Kalau boleh aku membunuh, aku akan membunuhmu Tapi aku tidak akan melakukan itu sebelum aku membalasmu Membalas semua sakit yang kurasa karena kamu Tenang, kau tidak akan langsung ku lukai tapi kau akan menderita tapi kau akan terkesima tapi kau tak bisa berbuat apa-apa Lalu baru aku putuskan untuk membunuhmu atau membiarkan dirimu terbunuh.. ..oleh dirimu sendiri Mati, kau akan mati Hidupmu akan mati seperti para zombie Memakan otak otak manusia Karena memang kebanyakan otak mereka tak berguna, jadi tak mengapalah Kau akan menangis, sesenggukan hingga berdarah Melengking panjang namun tak satu orang pun berdatangan Sungguh kasihan Jeritanmu seperti kunang-kunang yang kehilangan pasangan Seperti danau yang tertutup Azolla pinata Mati saja iya, mati saja Selesai.

Sekarat

Aku sedang sekarat, tersuruk masuk ke rusuk karang Menggapai udara yang mulai tak ada Bertarung dengan lelah yang mulai merajalela Gelap pekat mengukungku, menjauhkan cahaya yang merambat bebas di sela-sela lamun Aku terbenam di lautan dalam, di bawah perut lumba-lumba yg berenang dengan gembira Tapi ini bukan palung, sulurnya menjalar-jalar mengikatku kuat-kuat Pasirnya menarikku, berharap aku kehabisan oksigen dan mati membiru Aku ingin pulang, dan tidur tenang di sudut ranjang Melewati hari dengan kedamaian Aku sudah tak mampu berperang Menghindari ranjau yang tertutup belukar senyuman Mari saling menghantam, agar darah dapat tumpah, biar luka bisa menganga Lalu dengan mudah aku tau dimana harus membalutnya...

Untuk apa

Terkadang aku muak menjadi seorang pujangga, yang seolah-olah menuliskan puisi atau prosa, yang dilemparkan ke seluruh sudut dunia maya. Untuk apa? Sebenarnya untuk apa semua ini? Untuk menumpahkan inspirasi seni atau limpahan isi hati? Jadi untuk apa segala rangkaian kata ini? Untuk meramaikan saja atau untuk menyampaikan sesuatu? Untuk apa? Bilang saja sebenarnya ini untuk apa? Untuk siapa? Agar tidak lelah hati menerka-nerka, agar hati tidak terlanjur berbunga-bunga. Untuk siapa? Untuk apa menuliskan ini sementara tak ada jawaban kunci. Untuk sekedar melegakan hati? Menyalurkan perasaan? Memberitahu keadaan? Menyiksa pelan-pelan? Merahasiakan ketulusan? Menghindar? Menahan? Melepaskan? Mengatakan? Apa? Apa? Jadi untuk apa? Untuk apa? Untukmu.

September

Banyak sekali yang terjadi, terlalu banyak hingga jari tak mampu menulisnya, kata-kata tak sanggup menceritakannya dan kosong. Iya, kosong. Entah tertahan atau ditahan, entahlah...

Kunang-kunang

Masihkah kau disana? Bernapas dengan udara yang sama, mendengar angin yang sama, merasakan kerinduan yang tak pernah ada.. Masihkah engkau tuli? Sedangkan suara dalam ruang jarak ini semakin bertalu. Apakah dirimu memilih melupa? Membunuh begitu saja apa yang telah engkau rasa.. Pasti kau kesakitan. Mungkin dirimu sudah menghilang. Jika memang begitu, maka seharusnya begitu. Begitukah yang kau mau? Bahkan menjawab itu pun engkau tak mampu. Asal kau tau, ada kunang-kunang di langit-langit kamarku. Malam ini.

Bukan sebuah dilema

Siang ini hujan turun mengusik matahari, mengusir kehangatan. Bukan hujan yang membuatku kedinginan, bukan pula angin yang membuatku menggigil. Tapi kenyataan ini, dilema ini, yang terus menerus menggerus hati nurani. Hujan masih turun, semakin deras malah. Tanah yang tadinya basah kini berlumpur, menodai sendal dan sepatu. Dan aku menyadari bahwa semua ini tidak akan abadi, lalu mengapa terus berkelahi? Riak kubangan menghantam kerikil jalan, menggoyahkan pantulan matahari yang telah kembali. Wangi tanah basah memudar perlahan, meninggalkan kehampaan. Mungkin sebentar lagi akan muncul pelangi atau paling tidak hujan telah berhenti, meski telah ku genggam payung ini di tangan kiri. Jadi, tetaplah berjalan. Ku tunggu kau dipersimpangan..

Dersik

Nyanyian ilalang semakin sayup, hanya dersik yang mengusik, menyamarkan gesekan sayap belalang. Memandang langit dengan awan yang berjalan dan sekilas melirik wajahmu. Ku lihat lekat-lekat, lamat-lamat lensa mataku mengabur, meneruskan pantulan cahaya yang tak sempurna. Aku mencoba akomodasi sebisanya tapi dirimu malah tak ada. Aku kembali memandang angkasa, menerawang masa yang entah hilang atau terlewatkan. Memaklumi angin yang membawamu pergi, atau malah angin belum pernah membawamu kemari. Bukan salah pagi jika yang terlihat hanyalah sepi, bukan salah rerumputan jika vernonia tak ingin berkembang. Tidak ada yang salah di dunia ini, maka jika itu terjadi tak akan mengakhiri apapun. Kecuali dirimu. Ilalang masih terus bernyanyi, menandakan kemarau masih terus melanda hati. Aku tidak mengharap musim hujan sayang, karena air hanya akan membasahiku. Tidak dirimu. Dersik berbisik, dandelion mengangguk, lebah berlalu dan engkau yang parau.

Tapi

Tiba-tiba hujan turun dihatimu. Membanjiri luka yang menganga, membasahi rindu yang berdebu dan merasuk ke akar cintamu.  Lalu harimu yang sendu tak lagi kelabu, segalanya meraki. Tapi, itukah sesungguhnya dirimu? Diam-diam dan perlahan kau undang sang mendung lagi untuk menutupi mawar dan krisan yang sedang bersemi. Kau tanam semak peniti yang tinggi. Namun, akankah kau terus begitu? Hari-hari yang dulu tak akan kembali, meski kau telah membingkainya dengan rapi. Membiarkan bunga berguguran hingga kau meratapi sebuah kepergian. Jadi, masihkah kau terdiam? Dirimu kesepian, menangis sendirian, napasmu sesak. Dengarlah sayang, matahari pun sendiri, membakar tubuhnya hingga pasi. Tapi perasaan adalah sebuah perasaan. Bunuhlah pelan-pelan atau katakan pada sang malam. Dan, cinta bukanlah segalanya...

Mangata

Berpendar keemasan di tengah guratan hitam Beriak pelan seolah mengejar sang bulan Menapaki malam Melihatmu dan purnama yang syahdu membuatku tak ingin gelap cepat berlalu Melukismu garis demi garis diingatanku, karena aku terduduk bersama sunyi Hanya bisa membagi ini dengan papan-papan kayu yang bisu dengan gemintang tapi, keindahan selalu sebentar Entah kau yang mulai pudar atau aku yang pergi menghindar Lalu biarkan aku berjalan padamu menuju satelit bumi yang sendiri dalam mimpi dalam imajinasi ...

Musim ini

Daun-daun flamboyan masih menghijau, menari-nari kecil ditiup sang angin. Terlena oleh matahari yang hangat. Polong hitamnya belum berkuncup, menandakan musim hujan belum akan datang. Tapi itu dulu sayang, sebelum gas rumah kaca berlarian ke awan. Itu dulu, sebelum timbal dan monooksida berdansa dengan udara. Sangat dulu. Kemarin, hujan turun membasahi jalan. Menyuburkan rerumputan ditepian. Padahal, bunga flamboyan belum lagi bermekaran sayang. Musim kini tak menentu, seperti hatimu. Musim kini cepat berganti dan berlalu, seperti perasaanmu. Tapi tak apa sayang, karena sepertinya hatiku pun begitu, juga perasaanku. Musim ini sayang, musim yang tak ditunggu. Musim ini, musim yang tersendu.

Bahagia

Aku menemukan bahwa hidup ini terus berjalan. Seperti malam yang kadang tak berbintang atau seperti siang yang dilanda hujan. Mengeluhkan luka tak akan menyembuhkannya, menangisi kemarau tak akan menyuburkannya. Jadi untuk apa terus terkurung dalam rasa yang menyedihkan kalau kita bisa berdiri dan menghadapinya? Aku menemukan kenyataan bahwa di luar sana ada orang yang sangat menginginkan berada di posisi kita sekarang, menganggap apa yang kita lalui adalah segalanya, adalah luar biasa. Mungkin mereka benar, mungkin yang kita lalui ini memang luar biasa, tanpa mereka tau luar biasa menyakitkannya, luar biasa terlukanya, luar biasa segalanya. Tapi mereka memang tidak perlu tau. Karena kita memang luar biasa, karena akan menjadi luar biasa saat kita mampu melalui segalanya sehingga yang tampak hanyalah rasa bahagia. Bukankah itu luar biasa? Berhenti meratap, karena aku bukan pecundang. Aku akan bahagia, entah mereka suka atau tidak suka, yang jelas aku memilih bahagia dan menikmati...

ku kabarkan padamu

Ku kabarkan padamu bahwa enam purnama telah berlalu Menyisakan kisahnya yang haru dan sendu Menjadikanku setegar batang berkayu Mungkin aku yang terlalu lemah atau badai ini yang terlalu kuat menghantamku menggerogotiku seperti korosi tapi aku bukan besi aku masih tetap menjadi api Ingin ku tanyakan padamu Bagaimana cara menenangkan hatiku tapi ternyata kau bisu telingamu tuli karena sejatinya, kehadiranmu sepi lalu aku menyadari jika aku hanyalah sendiri.. ku kabarkan padamu lewat angin yang berlalu bahwa hatiku masih sekeras batu bahwa aku akan menikmati ini seperti purnama yang sinarnya terpantul di riak lautan seperti lumba-lumba yang mengarungi teluk seperti itulah sayang, seperti itulah seharusnya kehidupan..

Teluk Sepi

Di sini, nun jauh di teluk sepi Tak ku temu cabang-cabang tinggi pohon flamboyan Sisa-sisa mahkota merahnya pun tak tampak Lalu bagaimana aku tau musim hujan akan datang, sedang aku tak tau kapan flamboyan berkembang Yang ku lihat hanyalah deretan pohon nyiur, berjajar rapi, bersama bakau-bakau Ku temu pohon bidari Berbuah kuning, berbunga kuning, berasa asam, seperti perjalanan ini Setiap hari dapat ku pandang laut Setiap saat dapat ku lihat cakrawala Tapi sejauh aku mencari tak ku temu polong hitam flamboyan, yang menggantung dengan enggan Sudah jauh-jauh aku pergi, jauh ke dalam negeri, laut pun terasa berbeda karena hanya berteman kesunyian Hamparan samudra memang berwarna tosca, menyejukkan mata tak sampai ke hati karena ku kayuh sampan ini sendiri... *catatan di bulan februari

Kelak engkau akan tau

Daun-daun jambu air mulai mengering, berwarna coklat lalu jatuh ke tanah. Menutupi tanah kapur dan semut-semut kecil, mengotori halaman belakang. Engkau memandangnya sambil lalu, mencoba memahami bahwa hidup ini tak pernah keliru, menempatkan apa saja ditempatinya. Menghembuskan angin badai bukan sesukanya. Jadi pasti ada, ada sesuatu yang kelak sekali baru engkau tau. Hatimu keras lagi kaku, bukan terbentuk dari batu, tapi karena engkau telah disakiti berkali-kali, sehingga layaknya kulit kaki yang menebal. Sebenarnya sama lukanya tapi engkau tidak asing rasanya. Maka setiap luka itu adalah anugrah, yang menjadikannya mengerti bahwa melukai bukanlah tindakan sejati. Berdiri, engkau sekuat tardigrada yang mampu melewati ini. Hatimu akan terlahir kembali, hati yang jujur, kuat dan menerima. Hati paling indah yang pernah engkau punya, karena dengan begitulah aku tau engkaulah pemenangnya. Jangan kalah, engkau tidak salah. Tersenyumlah, buat hidupmu lebih berharga.. Daun-daun ker...

Ajari Aku

Ajarkan aku untuk tidak menaruh dendam, membenci sesuatu yang keliru lalu kebencian itu menggumpal hingga ke ulu hatiku. Bagaimana caranya memiliki hati layaknya bayi, yang bersih lagi suci. Bukan baik jika dilihat orang, sebaik yang bisa dilakukan lalu menyakiti pelan-pelan dan dalam. Aku membenci sebenci-bencinya, tapi mau bagaimana, tidak ada keadilan di dunia. Aku terlalu lelah, aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Yang ku mampu hanya berdoa, semoga engkau diberikan balasan. Dengan segera. Yang ku mampu hanya meminta kekuatan untuk menghadapimu. Dan semoga dibersihkan hatiku, karena kebencian ini menyiksaku.

Aku mengerti

Aku berdiri dengan kakiku sendiri, aku melangkah dengan keingananku sendiri, saat aku tersakiti pun pada hatiku sendiri. Jujur, aku tidak peduli dengan pendapat orang yang meragukan langkahku, seolah aku ini tak mampu karena ketahuilah diriku bukan dirimu, kalau kamu merasa berat melakukannya bukan berarti aku tak bisa, karena segala hal bisa dipandang dari sudut hal yang berbeda karena di setiap hal selalu ada dua sisi, gelap dan terang, bukan berarti gelap itu tak baik dan bukan berarti terang itu akan selalu menggembirakan.  Tahukah kamu? Ada orang yang sangat menyukai malam, dan ada orang yang bersemangat dengan siang. Setiap orang itu diciptakan berbeda, ah ya berbeda, oke, aku mengerti sekarang. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan dan aku pun begitu. Selamat menempuh kehidupan masing-masing, dan mari kita lihat bagaimana akhirnya.. Menyenangkan bukan??!!

Kupu-kupu bersedih

Seperti seekor kupu-kupu yang terbang hingga ke atas dahan, dia melihat sarang burung yang penuh dengan telur burung parkit. Di bawah naungan pohon meliuk-liuk seekor ular coklat yang sedang mencari mangsa. Perlahan ular tersebut merambat naik ke atas, seolah mengetahui adanya telur-telur lezat yang terkumpul dalam sebuah sarang, telur yang jika menetas nantinya akan menjadi penerus baru, para penjelajah angkasa, penghias langit, pembawa asa dari spesies. Ular itu tinggal sedepa lagi, sang kupu-kupu berteriak meminta tolong, dia memohon kepada dedaunan, batang pohon jambu, angin yang sedang bertiup, manusia yang lalu lalang, tapi mereka semua tidak mendengar. Tapi mereka semua pura-pura tidak mendengar. Tapi meskipun mereka mendengar bagi mereka tidak ada yang bisa mereka lakukan karena begitulah peraturan alam. Kupu-kupu tersebut juga tidak bisa melakukan apapun, selain meratap sedih, merapal do'a dalam hati melihat satu demi satu telur itu dimangsa ular, membayangkan satu demi s...

Negeri Mimpi

Aku terdampar di negeri mimpi, dengan sejuta bintang yang menghiasi langitnya, dengan rembulan bulat penuh yang berwarna merah bata, dikelilingi kurcaci-kurcaci lusuh. Airnya berwarna coklat keruh, dinaungi ratusan pohon kelapa. Disana akan kau temui puluhan spesies burung berbagai warna, suaranya sahut-menyahut saat senja tiba. Negeri itu memiliki sebuah laut yang tenang, dengan pinggiran berwarna hitam dan tosca di tengahnya. Akan kau temui juga ikan-ikan beraneka ragam. Dari yang berwarana hitam, merah muda, kuning, coklat hingga putih berenang-renang di bawah sampan kayu, bersembunyi dibalik tiang dermaga, terapung pasrah dimainkan ombak atau tersangkut mata kail. Keindahan negeri ini seperti mimpi, tapi tahukah kamu? Mimpi tetaplah sebuah mimpi. Indahnya sebuah mimpi tak akan pernah menghapus kenyataan. Mungkin ibarat wonderland aku sedang tersesat di kerajaan ratu merah, bukan berarti tidak baik, tapi petualangan dan kenyataan hiduplah yang menjadi daya tariknya, yang terkadan...

Mari

Sebuah jalan yang tak pernah kau bayangkan ujungnya, atau mungkin jalan itu tak pernah berujung, namun jalan itu seringkali bercabang, membuatmu termenung sesaat untuk memutuskan kemana kakimu akan melangkah. Percayalah, apapun pilihanmu tak pernah ada kesalahan dalam pilihan, pun jika kau menganggap itu adalah sebuah kekeliruan selalu ada cara untuk memperbaikinya, membuatnya lebih indah dari harapan semula, mencoba melihat dari sudut langit yang berbeda. Terkadang malah apa yang kau harapankan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam bayanganmu, tapi dirimu tak perlu muram, karena hidup ini seperti kata orang adalah sebuah roda yang kadang tertindas atau melindas, seperti satu hari, dimana ada malam yang gelap dan siang yang benderang, bukankah itu yang malahan yang membuatnya seimbang?   Pergi mengawali hari tanpa ekspetasi, mari :)

Rasa Hati

Siang perlahan meredup, angin sore bertiup dengan lembut, membelai rambutmu yang hitam juga tulang pipimu. Burung-burung kecil belum kembali ke sarang, mereka masih bernyanyi mengitari pepohonan. Tapi engkau tak menyadari itu semua, dirimu sedang teguh menghadap jalan, dengan tawa dan senyum yang sesekali terkembang. Akhirnya aku menemukan sebuah alasan, kenapa kalimat-kalimat ini dituliskan. Tidak, tidak ada alasan baku, dan lama-kelamaan alasan itu tak menjadi prioritas, seperti benih yang lupa akan embun karena dia telah tumbuh dan berkuncup. Langkah kakimu seolah tak berhenti, meninggalkan sore ini yang mulai sepi. Bukan, itu bukan sebuah tangisan, karena kebahagiaan tak pernah bisa dijelaskan. Sore ini mulai menggelap, menerbangkan burung-burung kecil menuju kabel-kabel hitam, dari segala penjuru. Daun-daun kering tak pernah terbakar, berserakan menutupi tanah yang lembab, menyembunyikan jejakmu, menyamarkan ingatan yang masih kelabu.

Rasa Hatimu

Pagi ini sudah terlalu siang untuk berjalan. Panasnya mulai naik menggelak, menerbangkan burung-burung kecil ke sela-sela daun jambu air. Kau masih terpekur disudut kamar, memandangi layar beradiasi, menerawang jauh melewati lautan berombak. Hatimu bimbang, karena hatimu sedang berkembang. Pikiranmu hanya bisa menerka, entah ini imajinasi atau harapan, lalu kau sadar bahwa kita memiliki batasan. Batasan itu seperti sebilah pedang, yang bisa kau gunakan untuk memotong jarak yang membentang atau memotong perasaan. Maka dirimu masih terdiam, terengah-engah memutuskan untuk apa pedang itu kau gunakan. Jarak itu masih menunggu, perasaan itu belum membeku. Pelan-pelan tolong kau pahami, bagaimana rasa hatimu yang sejati. Karena jauh disini, sesungguhnya sebuah buku telah terbuka, menunggu sebuah tangan untuk menuliskan cerita. Burung-burung kecil keluar dari tempat berteduhnya, melintasi langit biru cerah, tak berawan.

Sebenarnya Aku Peduli

Sebenarnya aku sangat peduli Tapi engkau sama sekali tak mengerti Melihatku pun kau enggan Lalu bagaimana kau tau apa yang telah aku lakukan Tidak masalah jika kau tak meliriknya sama sekali Tapi paling tidak jangan biarkan aku menghadapinya sendiri Karena ini semua bukan untukku Karena mudah saja bagiku untuk tak mau tau Namun kau tak menyadari Engkau terlalu sibuk menyibukkan diri Sudah kuberitahu lewat bahasa Sudah kukatakan lewat perbuatan Dan matamu tetap saja tak melihat ke arahku Haruskah aku berteriak dan menamparmu? Aku tidak ingin begitu, sungguh Tapi ingatlah, ingat baik-baik Jangan timbul peyesalan saat aku pergi Karena sejatinya aku ini bukan siapa-siapa Aku tak tau hatimu terbuat dari apa Dan semoga hatimu tetap di tempatnya..

Bisa?

Suatu hari, aku ingin duduk sendiri saja mencoba mencerna setiap kejadian dan menikmati kehidupan. Beri aku waktu hanya untuk memandang laut yang luas dan bergeming menatap ikan-ikan kecil. Tapi, tak peduli dimana pun aku berlari, sejauh apapun aku pergi, tetap saja kau berhasil menemukanku. Setinggi apapun, sekeras apapun tembok yang ku bangun, dengan mudahnya kau robohkan. Hey, aku tersiksa... Oksigen, oksigen, oksigen. Hidup ini terlalu singkat untuk kuhabiskan dengan menghirupmu Waktu ini terlalu berharga untuk berlalu dengan merasakanmu Baiklah, akan ku kibarkan bendera putih datanglah semaumu, sesukamu.. tapi aku mohon jangan sekarang, setidaknya sampai tahun depan... bisa?

Tapi Kau Tak Tau

Jika aku adalah api aku akan membakar apapun yang kuinginkan kenangan, masa depan maupun masa sekarang ku kobarkan apa yang ingin kuhancurkan ku hanguskan apa yang ingin kulumatkan maka oksigen akan berkata ya, ya dan selalu iya karena jika dia berkata tidak, masih ada hidrogen ataupun helium yang dengan senang hati menyalakanku yang nyalanya lebih besar dari padamu yang kerusakannya lebih hebat dari kamu menangislah dengan keras, biar ku bakar hatimu dimana sebagiannya adalah punyaku tapi kau tak tau karena yang kau rasa hanya rasa sakitmu karena mulutmu hanya bisa bisu karena matamu hanya melihat tanganmu dan tanganmu, hanya memegang hatimu dimana sebagiannya adalah punyaku tapi kau tak tau tapi mungkin itu lebih baik tapi mungkin itu yang terbaik bagiku, mungkin juga bagimu tapi aku tak tau tak mau tau

Bintang

Aku seperti sebongkah bintang, yang memancarkan cahayanya dengan kelu Bersua dengan banyak asteroid, namun sesungguhnya sendirian melintasi orbit Tampak indah, romantis dipandang dari bumi Hampa, dingin dan sunyi di ngkasa Maka aku putuskan jatuh, tepat di atas planet berwarna biru Menghantam atmosfernya hingga debu menderu Terbakar, hancur berantakan Lalu jadilah aku api Yang membakar daratan manapun yang kuinginkan Sayang, aku jatuh di tempat yang bernama laut Air asin itu memadamkanku, menenggelamkanku Hampa, dingin dan basah Berteman anthozoa, molusa dan ulva Ikan ikan bersirip bengkok, putih, kuning, hitam YYYang menggelitik hingga aku tertawa Lalu aku bertanya kepada mereka, inikah bahagia?

Kenangan

Hidup ini penuh dengan kenangan, yang terkadang dengan hati-hati kita simpan kita kumpulkan kepingannya satu per satu, lalu kita rajut menjadi selendang rindu lalu, lukakah hatimu saat selendang itu terbang melayang, hilang terbawa angin dan tak sempat kau raih?! luka, tak selamanya mengeluarkan darah bahkan ada suatu luka yang kita sendiri tak yakin dimana letaknya, namun sakitnya luar biasa urusan hati memang begitu rumit, karena dia berisi hal-hal absurd luka, kenangan, pilu, sendu, bahkan kita sendiri tak tau definisinya dengan pasti ya, saat selendang rindu yang sudah susah payah kau buat pergi tanpa alamat masihkah hatimu merasa luka? atau mungkin kehilangan? setelah seminggu? sebulan? dua bulan? setahun? berubahkah perasaan itu? masihkah luka?? kehilangan? terlupakan?? ketahuilah, kenangan memang indah sayangnya, kita bukan bayangan yang selalu hidup dibelakang gelap dan terabaikan

Nyamuk

jika kau membenci nyamuk, pernahkah kau berpikir bahwa nyamuk mungkin membenci dirinya sendiri? dan nyamuk akan berteriak bahwa mereka tak pernah meminta dilahirkan menjadi seekor nyamuk lantas, adakah nyamuk berhenti menghisap darah? Tidak, nyamuk harus menghisap darah.. karena itulah takdirnya nyamuk dengan tekun menjalankan perannya setiap malam berbekal nyawa dan dua pasangg sayap yang tipis nyamuk terbang membelah udara meraba panas tubuh yang ada dengan gagah berani hinggap dikulit, menusuk epidermis hingga kapiler berdenyut pilihannya hanya dua hidup atau mati hidup dengan darah penuh atau mati sebagai nyamuk ...

Atau

aku telah mendaki pegunungan menyelami lautan membelah angkasa tapi masih ada daratan sana yang ingin kususuri tanganku masih ingin terentang menggapai udara bukan digenggam bukan kau genggam karena aku masih ingin bebas berlarian menemu segala yang kurindu diamlah dan bertahan atau pergilah dan lupakan karena tak ada yang bisa kujanjikan karena dunia ini penuh dengan kejutan... karena hatiku bukan diurutan terdepan..
Genderang perang terlanjur ditabuh anak panah telah dilepaskan panji-panji telah dibentangkan maka waktu yang akan membuktikkan siapa yang akhirnya bertepuk tangan aku sudah bilang setiap luka yang ditorehkan tak akan pernah melemahkanku itu akan membuatku semakin kuat bukan berarti luka itu tak terasa sakit, luka itu rasanya sama tapi hatiku lebih tahan dari baja jangan kira aku akan menyerah karena aku tak kan kalah..

mengejar senja

jalanan ini berkerikil tajam, menghujam rapat ke kulit memejamkan mata, berhibernsi menunggu waktu berlalu tapi aku lupa jika tak ada musim dingin disini mau tak mau mataku harus terjaga kakiku harus melangkah menanggalkan sepatu, merasakan mineral alam yang memadat menciptakan guratan ungu sepanjang tangan mengusap lebam menegakkan punggung bertahan dalam kebosanan memekik dalam diam tertawa dalam kesunyian melewati setapak berkerikil tajam, menuju padang ilalang... melukis bunga-bunga coklatnya yang tak wangi meraba keindahan yang belum terlihat berteman dedaunan kasar terus terjaga, mengejar senja yang tak pernah lama.. menikmati dunia dari jendela yang berbeda mencari bahagia dari sisi gulita, hei, ini dunia aku yang punya tak usah risau, lakukan apa yang ingin dilakukan karena kita ini manusia..

Dua belas purnama

Senja ini aku menikmati pelangi, ditemani tetes kecil air yang turun dari langit Ditonton rumput-rumput liar yang basah Dan deru senja yang tentram Andai kau disampingku, tapi memang engkau tak disampingku Menikmati sore yang teduh ini bersama Bercerita hari yang telah dilewati, merencanakan esok hari nanti Hari-hari yang harus dijalani, hari-hari perjuangan yang telah dimimpi Menahan setiap luka, menggengam setiap perih Menekan suara, melukis wajah dengan senyuman sepanjang waktu Andai kau disampingku, tapi memang engkau tak disampingku Engkau akan bekata bahwa ketabahan adalah kunci dari segala rasa Yang harus kulewati di dua belas purnama Agar aku mengerti, agar aku menghayati, agar aku memahami Inilah yang ku mimpi, maka kau akan bercerita Menceritakan hal-hal yang membuat kita tertawa Tertawa dipundakmu, bersandar di bahumu Senja ini lamat-lamat pergi ke barat Menyisakan semilir angin yang dingin Meninggalkanku menatap langit, seorang diri.....