Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Itu

Matamu seperti embun di pagi hari, menyapa tepi-tepi daun yang bersiap memproduksi oksigen bagi bumi. Meski perlahan-lahan suhu disana membara,  kehadiranmu tak lekang begitu saja. Ikatan kimiamu hanya berubah dari yang tampak menjadi sesuatu yang bijak, yaitu menyatu dengan udara. Lakumu tersamar oleh mentari yang menebar sinar warna-warni. Suaramu diiringi serbuk sari - serbuk sari wangi, menerbangkan sayap kecil bunga trembesi. Kekasih rabawi, siklus ini mungkin suatu siang akan terguncang. Menghempaskamu pada kaca mobil yang melaju kencang, membawamu pada polusi tak bertepi yang menghalangi matahari menghangatkan buaianmu.  Tapi, jika kau putus asa akan ku lontarkan sebuah tanya hey bukankah hidup memang begitu? dan akan terus begitu itu. 

Tabebuia

Jika kau adalah bunga tabebuia warna mahkotamu pastilah merah muda halus tapi menggoda bahkan orang lalu lalang mengira kau bunga sakura tak apa kalau kau tak suka suruh saja Alice mengecatmu jadi putih kalau kau tak cocok minta Ratu Merah melukismu jadi kuning tapi apapaun warnamu kau tetaplah bunga tabebuia bagiku yang mekar saat hujan datang menghapuskan penantian dari kemarau panjang meski sebentar bertahanlah untuk tetap mekar karena untuk menunggu tahun depan aku mungkin akan kesulitan jika kau adalah bunga tabebuia maka aku adalah aspal jalan kota surabaya

Pasar Besi

Kalau kau susuri gang-gang kecil pasar besi menuju lapak paling selatan akan kau temui dua kursi kayu yang reot para pekerjanya berkulit kusam menawarkan drum bekas dan peleg jika hujan datang kanan kiri kios menjadi parit berwarna cokelat karamel mengalirkan sisa-sisa tembaga saat senja menghantar malam mereka pulang ke peraduan menyalakan pelita menyiapkan raga untuk besok lusa apa menurutmu cerita ini bermakna? 

Sudah saatnya

Mungkin sudah saatnya musim hujan melanda gang-gang kecil Membuat basah kusen-kusen jendela Membiakkan nyamuk-nyamuk hitam Mungkin sudah saatnya sedikit air bah melanda jalan-jalan raya Memperlambat laju motor dan mobil Menggenang tepi-tepi aspal Mungkin sudah saatnya penantian ini diganti sebuah perjalanan Mencari sebelah rembulan Mengakhiri sabit di malam-malam Mungkin sudah saatnya masa depan adalah masa sekarang Dan hari ini adalah hari-hari depan Tapi sungguh sayang,  Aku masih ingin merasakan petualangan Petualang yang akan ramai Yang bukan hanya aku dan tulisanku Menyusuri hutan-hutan tak dikenal Pulau-pulau yang terpetakan Gedung-gedung berwarna merah dan kuning gading Serta pohon-pohon sakura di Nagoya Sore ini bawalah jaketmu Lalu berdoalah Kemudian temui aku Hujan itu Tempat kenangan berlarian Juga masa depan yang terbuka lebar

Di matamu

Di matamu Aku adalah kemarau yang tak berujung Yang membuat matamu kebas memanas Membebani bulu matamu dengan debu-debu halus Di matamu Aku adalah matahari di tengah hari Yang membuatmu menutup mata Dan menghindar di bawah naungan gedung-gedung Di matamu Aku adalah gumpalan awan pada malam hari Yang menghalangimu memandang bintang Mengharuskanmu melewatkan petang dalam kegelapan Di matamu Aku adalah baling-baling kipas angin Yang tak pernah kau hirau berapa jumlahnya Berputar tanpa lelah untuk menggerakkan udara Di matamu Jauh di dalam pupil matamu Bayangan diriku tak pernah terbalik sempurna Karena aku Selalu dan akan selalu Berdiri disni Di titik buta Titik buta matamu

Hujan Pertama

Sore ini, oksigen dan hidrogen bersama Melompati atap, bunga, hingga berlari di tepian jalan Tertawa-tawa dikubangan Berdansa di talang-talang rumah Teduh sekali Seperti hujan ditengah lautan Masa-masa ini tolong lihatlah kanan dan kiri Di sepanjang tol bandara Di pinggir jalan tak bernama Atau di taman-tamn kota Ada Pohon Flamboyan yang sedang berbunga Warnanya merah Layaknya cinta Dari semua itu Payung adalah yang terpenting bagimu Bukan aku

Kahat

Warnanya pudar Walau semua sinar terus berpendar Tegaknya gusar Karena akar-akar tak lagi gahar Nyawanya samar Seperti jawaban yang tak lagi benar Selain merapal doa Apalagi yang ku punya Sampah-sampah plastik pun tak ada Bunga matahari merah tinggi menjulang Menangkis panas dari siang ke siang Mengalihkanku dari kenyataan yang belang Padamu saja sore ini kutunggu Biar bintang-bintang malam tak ada yang tau Sambil ku rangkaikan buket zinnia ungu agar kau senang dan jatuh cinta padaku tanah yang gersang menghilangkan jejakmu meski di tengah padang ku letih menunggu hingga kahat rindu melandaku puisi ini adalah salah satu seni berdamai dengan hati karena gelas-gelas baru sayang untuk dibeli dan teriakan merupakan tabu hingga saat ini

Malam lalu

Bulan yang kokoh tadi malam menyelinapkan bayanganmu dalam bunga tidur menebar senyummu seperti biji dandelion kering yang diterpa angin senja indah dan nyaman meski alur ceritanya bukan picisan kenangannya adalah romansa yang legit dan pahit kebosanan waktu yang membuat kita terjaga memakai peran sehari-hari sedang hati masih bermimpi di berkas sinar mentari yang menembus kaca ingatan padamu selalu berkata 'ayo kita lari dari masing-masing asumsi dan berkelana seperti jiwa bebas lumba-lumba' semaraknya hilang dalam sekejap seperti tisu melap debu tapi jika pena adalah suara maka bisikkan padaku siapakah mimpimu malam lalu dan tutup rapat-rapat jendelamu agar tak ada serangga yang menggangu

Rudita

Merebahkan diri sama seperti saat kita patah hati ditengah malam yang linangan air matanya diwarnai bias rembulan Kemudian kantuk dan sesak membuat tubuh cepat terlelap Mimpinya hitam kelam sedang esok tak kunjung datang Hari ini pun kosong Melewati putaran waktu dengan lubang yang teramat dalam Separuhnya hilang Membiarkan angin meniupnya Bunyinya nyaring Darah-darahnya tak terlihat Lalu dengan sepatah kata, tangisnya tak bersuara Menjerit-jerit di kepalanya sendiri Besok lusa Jika mata masih kita punya Terpejamlah Baru kita berbicara Tentang khayalan panjang Dan melewati satu sama lain

Bokeh

Terlahir dengan lensa mata yang tak mau berakomodasi sesukanya membuat saya melewatkan hal-hal kecil sejak masa kecil. Seperti bagaimana bentuk mata anda, seberapa lentik bulu mata anda atau berapa jerawat yang anda punya, apa warna kuku anda, bahkan noda di baju anda. Saya tidak akan ingat semua itu dari siapapun. Tidak akan. Sebaliknya saya tidak akan mudah lupa dengan hal-hal yang tak membutuhkan mata, seperti suara anda, cara anda menghadapi masalah, sikap anda, apa saja yang keluar dari mulut anda, hal-hal macam itu yang bisa anda tanyakan pada saya. Saya akan mengingat -sangat ingat- setiap suku katanya. Dan jika anda merasa saya sedang lupa mungkin saya hanya pura-pura lupa. Bulan lalu saya baru menyadari satu hal pada mata saya yaitu bokeh. Ya benar, bokeh. Jika suatu objek (dalam kasus saya yang paling dekat) akan terlihat jelas dan lainnya buram nahhhhhh seperti itulah mata saya bekerja, persis. Saya rasa, itu tidak buruk juga, teknologi lensa mata saya sudah mampu mengeli...

Tanggal Tujuh Belas

Pada tanggal ini suara-suara bising menyerbu jadi satu, memekakkan hatiku. Derap langkah orang tak dikenal menghantuiku, membuatku was-was dan cemas. Di peraduanku, tak ada lagi bekas cat biru, mengering di ujung-ujung kuas. Mimpiku seperti sebuah perjalanan, yang membuat tidurku kelelahan. Rutinitasku adalah kebosanan dan menjadi sama adalah ketakutan. Bayangan pohon dikala senja menari-nari, menjadikan segala penatku tak berarti. Atau sesungguhnya arti itu sendiri adalah kekalutan yang tidak bisa terdefinisikan dengan benar. Gedung, pohon jati, tebu dan sawah-sawah membentang, semuanya seperti punya kehidupannya sendiri. Lalu aku? Ya, aku punya. Dan akan sangat sempurna suatu hari nanti. Rajutanku masih satu warna, dan terus akan ku ulang sampai ada warna kedua, ketiga, keempat dan kelima. Motifnya masih rahasia. Kidung-kidung petang mulai berdatangan, melarutkan mentari pada satu sisi. Selamat datang kembali wahai pemimpi :)

Discovered

Beberapa dekade terakhir banyak tanaman yang 'baru ditemukan' oleh para peneliti botani. Sebagian tanaman memang belum pernah dikenali sebelumnya namun sebagian lain telah 'ditemukan' oleh suku-suku di pedalaman bahkan telah dimanfaatkan selama ribuan tahun dalam kehidupan mereka. Mungkin kata 'ditemukan' ini bermaksud pemberitahuan secara luas ke publik, hemat saya seharusnya ditemukan oleh suku tertentu lalu diperkenalkan oleh fulan atau diklasifikasikan oleh fulan. Yah, memang inilah perbedaan dasar dari ilmu pengetahuan yang telah disepakati bersama -kecuali suku pedalaman-. Entah kenapa penggunaan kata 'ditemukan' ini cukup menganggu pikiran saya di hari sabtu yang panas ini. Mungkin bisa saja dipahami, atas jasa para 'penemu' ini akhirnya pemanfaatan bisa dilakukan secara besar-besaran dan maksimal. Hal yang tidak perlu diributkan sih. Karena panasnya udara, saya jadi berandai-andai, jangan-jangan ada beberapa species tanaman yang saya t...

Hai

Hai, Bulan mei hampir berlalu, separuh tahun tinggal menunggu waktu tapi kita tak kunjung bertemu Matahari panas sekali disini angin berhembus juga sangat kuat meretakkan epidermis kulit jangan lupa pakai pelembab tak seperti diriku Setiap sore orang-orang berlalu-lalang tertawa, bercerita atau diam-diam menjilat gula sambil melewatkan gulita Malam hari adzan-adzan bersahut-sahutan memanggilku -ku harap juga dirimu- menapaki jalan aspal diiringi rembulan Sebenarnya, aku hanya ingin menyapa memanfaatkan dunia maya karena dunia nyata tak pernah ada untuk kita berdua Sedih ya
malam ini ku tuang madu ke dalam cangkir teh mu agar lidahmu tak pahit lalu ku taburkan nektar agave ke atas kudapanmu agar mulutmu tak kecut biar bahagia engkau melihat purnama malam ini ku ceritakan dongeng sebelum tidur agar cepat engkau terlelap ku doakan dengan sungguh agar teratur dengkurmu lalu ku taruh setangkai mawar putih di genggamanmu agar wanginya menenangkanmu biar durinya juga menusuk kulitmu esok hari akan engkau lihat goresannya agar tak apa aku tak ada

Jangan pergi

jalan ini sudah ribuan kali kulewati dengan amarah dengan gundah dengan gembira dengan biasa saja dengan segala pikiranku dengan segala pikiranku tentang hari ini dengan segala pikiranku tentang besok dengan segala pikiranku tentang lusa dengan segala pikiranku tentangmu dan dari semua itu kebosananlah yang menjemukanku lalu kebosanan itu pergi karena hari-hari yang akan datang aku tak lagi melewati jalanan ini dan aku rindu rindu saat-saat memikirkanmu dan aku takut takut saat-saat ini akan berganti  dan pasti berganti karena tak ada yang tau esok hari apalagi isi hati maka kulewati jalanan ini sekali lagi agar aku nanti tak merindukannya lagi agar aku tidak menangis karenanya aku ketakutan aku tak pernah begini sebelumnya ku lewati jalanan ini untuk terakhir kali berharap lampu-lampu jalannya mati bunga-bunganya berdebu dengan begitu aku bisa pergi tanpa masalalu aku bisa saja pergi tanpamu kamu tak bisa per...

Aku padamu

Prosaku menari sendiri di tengah pupil matamu melewati lekukan amigdala berhamburan dalam ruang sinapsis Pesanku tak kau temu aku kesana kau kesitu seperti hukum newton pertama yaitu percuma Cintaku masih sama entah untuk siapa dan kau kau ini siapa? kerang mutiara dari tengah samudera?  echinodermata dari tepi laut jawa?  biston betularia dari benua eropa?  rusa cokelat dari arizona?  entah, tak masalah karena aku pun antah berantah yang kau harus tau adrenalmu itu keliru bilik kirimu menipu karena degupmu hanya padaku dan aku aku ini padamu ingat itu! 

Sayang

Sayang, ku lihat bulan di ujung selatan langit malam pendarnya pudar seperti dirimu padaku Entah lensa mataku yang tak mau berakomodasi atau memang bahumu yang berlalu pergi bisakah aku mulai mencari lagi rasanya percuma bergumam pada awan jikalau telingamu telah terkubur dalam lautan. Sayang, perkotaan ini kadang membosankan kuharap karbon monooksida tidak membuatmu kesakitan karena deretan mobil dan motor berdempetan atau kecemasan yang menggilakan dan kelezatan menu-menu kekinian ah, mungkin bagimu itu semua adalah kebahagiaan.  Sayang, hidup ini sudah mulai menghambar tak ada rasa pasti yang tercecap aku yang pahit kau yang manis Sayang, prosa ini memuakkan seperti dirimu persis. 

Romanticism

Jika hujan telah menderu-deru dan rindu-rindu berguguran dari hatiku, maka pada petang mana hatimu akan tergugu..  Meraba setiap sayatan yang mengering, menimang kepedihan yang usai, menghela gambaran ketakutan.  Jika dirimu seumpama langit yang akan bersinar sangat cerah dan berdarah biru maka hanya pada malam harilah aku bisa memelukmu, membuat bintang-bintangmu berjatuhan ke lautan yang hitam.  Akan kubuatkan jalanan bercahaya agar kau tidak lupa kemana harus mengeluh. Ku pasangi lentera-lentera kuning pada dermaga agar angin meniupnya, seolah melambai-lambai padamu, seolah aku memanggil-manggil perahumu.  Lemparkan sauhmu wahai kekasihku, saatnya lautan dan daratan bertemu..  sebelum badai memisahkanmu sebelum fajar menyamarkan lenteraku sebelum itu berdoalah dulu lalu sebut namaku ... 

Menuju tempatmu

Malam ini ku bawa hawa dingin bersamaku, menyusuri jalanan lengang berlampu muram menuju tempatmu.  Kau tak pernah tau bagaimana aku bisa sejauh itu melewati setiap kelokan bertebing curam memanggil-manggilku dari dasarnya yang dalam.  Aku sekali pernah dengan jelas mendengar ajakannya tapi bukit tempatmu berpijak lebih dulu mengelabui mataku maka ku susuri tanjakan demi tanjakan terus terus sampai aku lupa,  aku ini sebenarnya apa?  Malam ini ku bawa hawa dingin bersamaku karena hangatmu sudah menguap tadi siang karena dirimu sudah usang lagi kerontang.  Malam ini ku bawa hawa dingin bersamaku jauh menuju tempatmu sekadar untuk melihat punggungmu.  Lalu hawa dingin ini menyergapku membekukan ingatan-ingatan masa lalu.