Matamu seperti embun di pagi hari, menyapa tepi-tepi daun yang bersiap memproduksi oksigen bagi bumi. Meski perlahan-lahan suhu disana membara, kehadiranmu tak lekang begitu saja. Ikatan kimiamu hanya berubah dari yang tampak menjadi sesuatu yang bijak, yaitu menyatu dengan udara. Lakumu tersamar oleh mentari yang menebar sinar warna-warni. Suaramu diiringi serbuk sari - serbuk sari wangi, menerbangkan sayap kecil bunga trembesi. Kekasih rabawi, siklus ini mungkin suatu siang akan terguncang. Menghempaskamu pada kaca mobil yang melaju kencang, membawamu pada polusi tak bertepi yang menghalangi matahari menghangatkan buaianmu. Tapi, jika kau putus asa akan ku lontarkan sebuah tanya hey bukankah hidup memang begitu? dan akan terus begitu itu.