Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2015

Kunang-kunang

Masihkah kau disana? Bernapas dengan udara yang sama, mendengar angin yang sama, merasakan kerinduan yang tak pernah ada.. Masihkah engkau tuli? Sedangkan suara dalam ruang jarak ini semakin bertalu. Apakah dirimu memilih melupa? Membunuh begitu saja apa yang telah engkau rasa.. Pasti kau kesakitan. Mungkin dirimu sudah menghilang. Jika memang begitu, maka seharusnya begitu. Begitukah yang kau mau? Bahkan menjawab itu pun engkau tak mampu. Asal kau tau, ada kunang-kunang di langit-langit kamarku. Malam ini.

Bukan sebuah dilema

Siang ini hujan turun mengusik matahari, mengusir kehangatan. Bukan hujan yang membuatku kedinginan, bukan pula angin yang membuatku menggigil. Tapi kenyataan ini, dilema ini, yang terus menerus menggerus hati nurani. Hujan masih turun, semakin deras malah. Tanah yang tadinya basah kini berlumpur, menodai sendal dan sepatu. Dan aku menyadari bahwa semua ini tidak akan abadi, lalu mengapa terus berkelahi? Riak kubangan menghantam kerikil jalan, menggoyahkan pantulan matahari yang telah kembali. Wangi tanah basah memudar perlahan, meninggalkan kehampaan. Mungkin sebentar lagi akan muncul pelangi atau paling tidak hujan telah berhenti, meski telah ku genggam payung ini di tangan kiri. Jadi, tetaplah berjalan. Ku tunggu kau dipersimpangan..

Dersik

Nyanyian ilalang semakin sayup, hanya dersik yang mengusik, menyamarkan gesekan sayap belalang. Memandang langit dengan awan yang berjalan dan sekilas melirik wajahmu. Ku lihat lekat-lekat, lamat-lamat lensa mataku mengabur, meneruskan pantulan cahaya yang tak sempurna. Aku mencoba akomodasi sebisanya tapi dirimu malah tak ada. Aku kembali memandang angkasa, menerawang masa yang entah hilang atau terlewatkan. Memaklumi angin yang membawamu pergi, atau malah angin belum pernah membawamu kemari. Bukan salah pagi jika yang terlihat hanyalah sepi, bukan salah rerumputan jika vernonia tak ingin berkembang. Tidak ada yang salah di dunia ini, maka jika itu terjadi tak akan mengakhiri apapun. Kecuali dirimu. Ilalang masih terus bernyanyi, menandakan kemarau masih terus melanda hati. Aku tidak mengharap musim hujan sayang, karena air hanya akan membasahiku. Tidak dirimu. Dersik berbisik, dandelion mengangguk, lebah berlalu dan engkau yang parau.

Tapi

Tiba-tiba hujan turun dihatimu. Membanjiri luka yang menganga, membasahi rindu yang berdebu dan merasuk ke akar cintamu.  Lalu harimu yang sendu tak lagi kelabu, segalanya meraki. Tapi, itukah sesungguhnya dirimu? Diam-diam dan perlahan kau undang sang mendung lagi untuk menutupi mawar dan krisan yang sedang bersemi. Kau tanam semak peniti yang tinggi. Namun, akankah kau terus begitu? Hari-hari yang dulu tak akan kembali, meski kau telah membingkainya dengan rapi. Membiarkan bunga berguguran hingga kau meratapi sebuah kepergian. Jadi, masihkah kau terdiam? Dirimu kesepian, menangis sendirian, napasmu sesak. Dengarlah sayang, matahari pun sendiri, membakar tubuhnya hingga pasi. Tapi perasaan adalah sebuah perasaan. Bunuhlah pelan-pelan atau katakan pada sang malam. Dan, cinta bukanlah segalanya...

Mangata

Berpendar keemasan di tengah guratan hitam Beriak pelan seolah mengejar sang bulan Menapaki malam Melihatmu dan purnama yang syahdu membuatku tak ingin gelap cepat berlalu Melukismu garis demi garis diingatanku, karena aku terduduk bersama sunyi Hanya bisa membagi ini dengan papan-papan kayu yang bisu dengan gemintang tapi, keindahan selalu sebentar Entah kau yang mulai pudar atau aku yang pergi menghindar Lalu biarkan aku berjalan padamu menuju satelit bumi yang sendiri dalam mimpi dalam imajinasi ...