Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2015

Musim ini

Daun-daun flamboyan masih menghijau, menari-nari kecil ditiup sang angin. Terlena oleh matahari yang hangat. Polong hitamnya belum berkuncup, menandakan musim hujan belum akan datang. Tapi itu dulu sayang, sebelum gas rumah kaca berlarian ke awan. Itu dulu, sebelum timbal dan monooksida berdansa dengan udara. Sangat dulu. Kemarin, hujan turun membasahi jalan. Menyuburkan rerumputan ditepian. Padahal, bunga flamboyan belum lagi bermekaran sayang. Musim kini tak menentu, seperti hatimu. Musim kini cepat berganti dan berlalu, seperti perasaanmu. Tapi tak apa sayang, karena sepertinya hatiku pun begitu, juga perasaanku. Musim ini sayang, musim yang tak ditunggu. Musim ini, musim yang tersendu.

Bahagia

Aku menemukan bahwa hidup ini terus berjalan. Seperti malam yang kadang tak berbintang atau seperti siang yang dilanda hujan. Mengeluhkan luka tak akan menyembuhkannya, menangisi kemarau tak akan menyuburkannya. Jadi untuk apa terus terkurung dalam rasa yang menyedihkan kalau kita bisa berdiri dan menghadapinya? Aku menemukan kenyataan bahwa di luar sana ada orang yang sangat menginginkan berada di posisi kita sekarang, menganggap apa yang kita lalui adalah segalanya, adalah luar biasa. Mungkin mereka benar, mungkin yang kita lalui ini memang luar biasa, tanpa mereka tau luar biasa menyakitkannya, luar biasa terlukanya, luar biasa segalanya. Tapi mereka memang tidak perlu tau. Karena kita memang luar biasa, karena akan menjadi luar biasa saat kita mampu melalui segalanya sehingga yang tampak hanyalah rasa bahagia. Bukankah itu luar biasa? Berhenti meratap, karena aku bukan pecundang. Aku akan bahagia, entah mereka suka atau tidak suka, yang jelas aku memilih bahagia dan menikmati...

ku kabarkan padamu

Ku kabarkan padamu bahwa enam purnama telah berlalu Menyisakan kisahnya yang haru dan sendu Menjadikanku setegar batang berkayu Mungkin aku yang terlalu lemah atau badai ini yang terlalu kuat menghantamku menggerogotiku seperti korosi tapi aku bukan besi aku masih tetap menjadi api Ingin ku tanyakan padamu Bagaimana cara menenangkan hatiku tapi ternyata kau bisu telingamu tuli karena sejatinya, kehadiranmu sepi lalu aku menyadari jika aku hanyalah sendiri.. ku kabarkan padamu lewat angin yang berlalu bahwa hatiku masih sekeras batu bahwa aku akan menikmati ini seperti purnama yang sinarnya terpantul di riak lautan seperti lumba-lumba yang mengarungi teluk seperti itulah sayang, seperti itulah seharusnya kehidupan..

Teluk Sepi

Di sini, nun jauh di teluk sepi Tak ku temu cabang-cabang tinggi pohon flamboyan Sisa-sisa mahkota merahnya pun tak tampak Lalu bagaimana aku tau musim hujan akan datang, sedang aku tak tau kapan flamboyan berkembang Yang ku lihat hanyalah deretan pohon nyiur, berjajar rapi, bersama bakau-bakau Ku temu pohon bidari Berbuah kuning, berbunga kuning, berasa asam, seperti perjalanan ini Setiap hari dapat ku pandang laut Setiap saat dapat ku lihat cakrawala Tapi sejauh aku mencari tak ku temu polong hitam flamboyan, yang menggantung dengan enggan Sudah jauh-jauh aku pergi, jauh ke dalam negeri, laut pun terasa berbeda karena hanya berteman kesunyian Hamparan samudra memang berwarna tosca, menyejukkan mata tak sampai ke hati karena ku kayuh sampan ini sendiri... *catatan di bulan februari