Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2019

Prosa Untukmu

Jika di ibaratkan tinta kau adalah warna jingga yang sangat sempurna untuk melukis senja Jika di ibaratkan langit kau adalah satu-satunya satelit yang berpendar indah layaknya forsterit Bila di ibaratkan musim kau adalah sebuah hiponim yang menumbuhkan perasaan lalim dan takzim Bila di ibaratkan kisah kau adalah segala resah yang digubah dalam melodrama bersesah Andai di umpamakan rasa kau adalah cinta sedangkan aku adalah rindu yang tak pernah bertemu di satu waktu maka prosa ini aku tulis untukmu untukmu yang ada disitu

Dwi

Aku seperti menjadi dua. Satu saat ini dan satu lagi yang muncul tiba-tiba. Kami berdua terlihat telah jauh berlari tapi ternyata aku sendiri, tapi ternyata aku tak berlari. Aku yang saat ini hanya menunggu mati, sedang aku yang tiba-tiba masih bernapas satu dua. Dipundaknya diikatkan aku yang saat ini dengan kain cokelat tersimpul didada. Entah kemana. Saat aku yang saat ini jemu dengan siang dan petang, aku yang tiba-tiba menulis paragraf semu sambil bernyanyi lagu-lagu sendu. Lalu di pagi buta, aku terjaga. Aku menyesali mimpi yang sebenarnya tak ada. Mengangguk-angguk seolah mengerti bagaimana hidup ini bekerja. Menendang selimut berlapis dua, mencoba merapal doa agar diriku tetap bisa bernyawa. 

Najandra

Aku seperti mati suri, tapi matinya hidup dan hidupnya mati. Seperti tergagu apa aku harus terjaga atau tetap menipu diri sendiri. Hidupnya tajam, hujaman apa saja mungkin bisa dilawan, tapi tidak dengan kenyataan. Jika menyelam ke dalam samudera bisa membasuh semua keraguan maka sekarang saja aku mau berlari, terjun bebas dari tebing karang. Meski matahari hampir tenggelam aku tak pernah takut akan kegelapan, aku tak pernah gamang dengan kesendirian, aku hanya tak bisa berteriak dari diriku sendiri, dari apa yang bisa terjadi. Lalu aku harus apa? Menangis menderu bukan tabiatku, mengiba merana bukan prinsipku, aku terlalu mandiri untuk ini atau aku terlalu sendiri untuk diriku sendiri. Aku terlalu kuat untuk terlihat lemah dan aku terlalu lemah untuk benar-benar kuat. Dari ujung waktu ke waktu aku selalu sadar, teramat sadar bahwa tak ada yang ku punya di dunia ini selain diriku sendiri. Ya, buat apa? Toh kita nanti mati juga.