Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2019

Mudita

Seperti pohon bakau dibibir pantai, yang terdera deburan gelombang , dan menjadi rumah bagi para burung berbulu kecokelatan, menempelkan benih-benih harapan di kambiumnya, bersemi pada air payau. Bakau-bakau itu tak pelak roboh, daunnya terendam laut, membuat kutikulanya asin. Aves berkaki merah muda terbang sebentar, menari di ranting-ranting kecil. Paruh kuning hitamnya bergerak ke kanan dan kekiri, menonjolkan hidung birunya. Pasir putih merendam kaki-kaki kita dengan lembut, selembut angin selatan yang membelai rambutmu.
Kaki-kaki dingin melompat di atas kubangan,  menggilas kerikil dan pasir basah. Angin-angin kencang membuat kulit mengkerut, memutihkan ujung-ujung jari. Sampai sekian malam perjalanan ini tak kunjung usai, meski pohon bidara telah tumbang melintang hingga tepian parit berumput hijau. Punggung bungkuk yang berdiri tegak, menggapai sarang kupu-kupu, membuat lelah dan kebodohan menjadi satu. Panas memanggang telah ditantang namun hujan topan mengguyurkan kedinginan. Hal-hal mempesona tak seperti itu sama sekali. Lalu baru disadari, jika sudah tersesat sejauh ini. Dan bila semua arah terlihat sama maka harus bagaimana? 
Lingkaran hitam dan abu-abu berputar dikepalaku, menghisap mata-mata raga. Terkulai dengan kelopak terbuka, menghayati dinding dan helaan napas. Aku ingin tertidur dengan damai, berselimut hangat, menyapa angin yang berhembus. Hati berkecamuk, mejalar ke nalar, tergeletak dengan tatapan nanar. Rasanya begitu sepi. Lagi. Tak ada yang dipunya selain diri sendiri. Bahkan diri ini bukan milik sendiri. Kilat-kilat menyambar dengan terang benderang, memberi tahu jalan menuju awan kelabu. Buku baru telah sobek ujungnya, menyisakan pena biru ditepian meja, mengunciku dalam kata. Gunting kuku lapuk dan peniti karatan terguncang, sisa kulit arinya berguguran. Masih disudut rak buku, semut merah tersesat jauh, tak mati juga tak pulang. Gigitannyalah pengantar ajal.  Ketakutan tak pernah senyata ini.