Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Tardigrada

Jika aku adalah tardigrada maka aku tak akan terlalu membutuhkanmu hey oksigen.. Jika dunia ini harus hancur ataupun terkontaminasi radiasi nuklir aku akan tetap bertahan Jika kau membuangku ke luar angkasa atau memenjarakanku di bulan aku masih bisa melanjutkan kehidupan Terdengar seperti siluman, jika dulu aku adalah api yang membakar maka sekarang aku adalah tardigrada gendut, berlipat, jelek, coklat, kecil, tak terlihat, diabaikan tapi yang harus kau tau, kemampuan adaptasiku tak terkalahkan didepanmu aku akan menjadi tardigrada, itu lebih aman meski sebenarnya aku tetaplah api yang dengan senang hati membakar kenangan mungkin nanti akan seperti siluman kembali, membutuhkanmu lagi, mencarimu lagi karena sejatinya aku bukan mahluk anaerob ah ya, tetap saja bukan kamu oksigen itu berlimpah selama aku masih menanam pohon-pohon berdaun hijau hey oksigen, aku tardigrada.. senang berkenalan denganmu

Oksigen

Hey oksigen, apakah itu kau? yang masuk ke dalam paru-paruku mengalir bersama darahku menembus mitokondriaku dan menghasilkan energi bagi tubuhku? Oh oksigen, jangan kau berikatan dengan si karbon di dalamku aku bisa keracunan napasku pasti sesak Ah ya aku lupa, kau tak punya telinga, bagaimana mungkin bisa mendengarku? atau aku saja yang belum melihatnya aku pun tak pernah mendengar suaramu apalagi melihat wujudmu lalu bagaimana mungkin aku bisa sangat membutuhkanmu? Sebentar, aku akan menyelami lautan sebentar napasku mungkin akan ku tahan dan mungkin aku tak akan menghirupmu belasan atau puluhan detik tunggulah sejenak sampai aku kembali ke permukaan karena hal pertama yang aku lakukan nantinya adalah mencarimu...

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Tanah

Bisakah kau mengerti kenapa matahari itu harus tenggelam? Bisakah kau terima jika setiap hidup akan dihampiri kematian? Bisakah kau pahami bahwa pertemuan selalu bertemu perpisahan? Kau tidak harus mengerti Kau hanya harus menerima Kau juga tak perlu memahaminya Jangan terlalu pada sesuatu Hidup ini memiliki 360 derajat banyaknya Pernahkah kau membanyangkan rasanya menjadi tanah? diinjak-injak milyaran manusia diludahi jutaan di antaranya dibom ratusan tentara apa pun tanah tetap menjadi tanah kadang permukaannya bergejolak tapi tanah tetap menjadi tanah gaya gravitasinya tak hilang lalu haruskah engkau menjadi tanah? tidak, kau tidak akan pernah bisa terimalah, bahwa engkau hanyalah segumpal tanah andai kau mengerti dan memahami
Suatu sore aku berpikir alangkah bahagianya memiliki hidup yang sederhana, hidup damai dengan orang-orang yang dicinta, seadanya tapi bahagia. Tidak perlu memiliki mimpi tinggi-tinggi, mati-matian kesana kesini mengejarnya, melalaikan yang ada di depan mata, jauh dari orang yang dicinta. Ada yang bilang, hidup tanpa mimpi seperti tanpa tujuan, tapi bukankah hidup sederhana itu juga sebuah impian? Kebanyakan, orang-orang yang kita cinta atau bahkan kita sendiri menganggap itu bukan sebuah mimpi, sama sekali bukan. Tak apa, hiduplah sederhana, dekat dengan orang-orang yang dicinta lewat doa, seadanya tapi bahagia. Tak selamanya dekat itu berarti harus bersama dalam satu tempat, karena sungguh dunia luar sedang menunggu untuk ditaklukkan. Bagiku mimpi adalah suatu keharusan, meski mimpi itu tak pasti lalu apa bedanya dengan dunia ini? Berikan segala yang kita punya, maka kita akan mendapatkan segala yang kita butuhkan. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan di satu tempat. Bangunla...