Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2016

Tidak

Apakah menurutmu malam ini terlalu sunyi untuk dilewati sendiri? Setiap laut memiliki badainya sendiri, begitu juga dirimu. Bertahan ditengah tingginya gelombang mungkin sulit dilakukan, apalagi memutuskan melawan. Ada dua kemungkinan, tenggelam atau selamat hingga ke bibir pantai. Lalu kamu berpikir, jika mengikuti ombak saja bisa baik-baik saja kenapa harus mengambil resiko? Dunia yang kelam selalu menyenangkan, tapi apakah menenangkan? Dan kamu ingin bangun di siang hari, menutup malam sebagai masa lalu tapi bulan, bintang bahkan kegelapan mencibirmu. Cupu. Akankah kau kembali? Atau melangkah pergi? Ini tak semudah itu, katamu. Adakah sesuatu yang mudah di dunia ini? Alasan demi alasan kamu jabarkan, logika dan perasaan kau mainkan. Apakah itu mengubah kenyataan? Aku terluka di masalalu, ujarmu. Aku akan menangis untukmu. Ikut merutuki ketidakadilan waktu. Namun, bisakah kau memaafkan masalalumu? Apakah ini wujud balas dendam? Sampai kapan? Kau terdiam. Tidak akan ada y...

Aku sudah kembali

Aku sudah kembali. Bersama molekul-molekul air yang memukuli aspal hitam, bersama suara petir yang tak terlalu menggelegar. Aku basah kuyup. Tak ada yang ku punya selain badan yang kedinginan. Hidrogen dioksida terus tumpah ruah, menurunkan suhu udara, merendam kaki-kaki tanpa alas kaki. Aku sudah kembali. Melewati genangan coklat muda. Aku menangis, mencoba merubah warnanya dengan air mata namun suspensi air dan lumpur itu seolah telah menjadi larutan. Tangisanku sia-sia. Lalu aku memutuskan untuk kembali, meski banjir dan sampah kali menggores kulit ini. Aku telah kembali. Tak membawa apa-apa selain diri ini. Mimpi yang dulu aku punya, tersuruk jauh di dalam palung samudera. Aku telah kembali. Dengan setangkup rindu pada masa lalu dan berjuta tandan untuk masa depan. Aku sudah kembali. Aku sudah di sini. Tapi kau tidak!

Aku kembali

Masih belum pukul tujuh belas, entah mengapa waktu yang berlalu saat ini seperti wujud dari perlambatan teori relativitas. Aku bergerak maju, sedikit demi sedikit, meninggalkan bekas telapak kaki di pasir kali. Vernonia yang dulu ungu berbunga telah berganti dengan pakis-pakis tinggi, menebar bubuk spora ke udara yang lembab. Aku masih menelusuri jalan setapak, berhati-hati pada alga licin yang menyelimuti tanah. Aku pun harus bergegas, karena malam akan segera datang, menyelimuti hutan. Seharusnya aku tergesa-gesa, tapi nyatanya aku masih dengan perlahan berjalan. Ya, perlahan. Lalu datang elang berbulu putih dan hitam, terbang rendah mengitari tempatku berdiri. Lengkingannya membuatku takjub, bukan takut. Dia terus berputar-putar di atas kepalaku, seolah ingin mengatakan sesuatu namun aku tak mengerti apa. Aku terus memandanginya, tersenyum dan kagum. Elang itu pergi, bersembunyi dari petang yang menjalar, meninggalkanku seorang diri. Seorang diri. Aku tak apa deng...