Siang perlahan meredup, angin sore bertiup dengan lembut, membelai rambutmu yang hitam juga tulang pipimu. Burung-burung kecil belum kembali ke sarang, mereka masih bernyanyi mengitari pepohonan. Tapi engkau tak menyadari itu semua, dirimu sedang teguh menghadap jalan, dengan tawa dan senyum yang sesekali terkembang. Akhirnya aku menemukan sebuah alasan, kenapa kalimat-kalimat ini dituliskan. Tidak, tidak ada alasan baku, dan lama-kelamaan alasan itu tak menjadi prioritas, seperti benih yang lupa akan embun karena dia telah tumbuh dan berkuncup. Langkah kakimu seolah tak berhenti, meninggalkan sore ini yang mulai sepi. Bukan, itu bukan sebuah tangisan, karena kebahagiaan tak pernah bisa dijelaskan. Sore ini mulai menggelap, menerbangkan burung-burung kecil menuju kabel-kabel hitam, dari segala penjuru. Daun-daun kering tak pernah terbakar, berserakan menutupi tanah yang lembab, menyembunyikan jejakmu, menyamarkan ingatan yang masih kelabu.