Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2015

Rasa Hati

Siang perlahan meredup, angin sore bertiup dengan lembut, membelai rambutmu yang hitam juga tulang pipimu. Burung-burung kecil belum kembali ke sarang, mereka masih bernyanyi mengitari pepohonan. Tapi engkau tak menyadari itu semua, dirimu sedang teguh menghadap jalan, dengan tawa dan senyum yang sesekali terkembang. Akhirnya aku menemukan sebuah alasan, kenapa kalimat-kalimat ini dituliskan. Tidak, tidak ada alasan baku, dan lama-kelamaan alasan itu tak menjadi prioritas, seperti benih yang lupa akan embun karena dia telah tumbuh dan berkuncup. Langkah kakimu seolah tak berhenti, meninggalkan sore ini yang mulai sepi. Bukan, itu bukan sebuah tangisan, karena kebahagiaan tak pernah bisa dijelaskan. Sore ini mulai menggelap, menerbangkan burung-burung kecil menuju kabel-kabel hitam, dari segala penjuru. Daun-daun kering tak pernah terbakar, berserakan menutupi tanah yang lembab, menyembunyikan jejakmu, menyamarkan ingatan yang masih kelabu.

Rasa Hatimu

Pagi ini sudah terlalu siang untuk berjalan. Panasnya mulai naik menggelak, menerbangkan burung-burung kecil ke sela-sela daun jambu air. Kau masih terpekur disudut kamar, memandangi layar beradiasi, menerawang jauh melewati lautan berombak. Hatimu bimbang, karena hatimu sedang berkembang. Pikiranmu hanya bisa menerka, entah ini imajinasi atau harapan, lalu kau sadar bahwa kita memiliki batasan. Batasan itu seperti sebilah pedang, yang bisa kau gunakan untuk memotong jarak yang membentang atau memotong perasaan. Maka dirimu masih terdiam, terengah-engah memutuskan untuk apa pedang itu kau gunakan. Jarak itu masih menunggu, perasaan itu belum membeku. Pelan-pelan tolong kau pahami, bagaimana rasa hatimu yang sejati. Karena jauh disini, sesungguhnya sebuah buku telah terbuka, menunggu sebuah tangan untuk menuliskan cerita. Burung-burung kecil keluar dari tempat berteduhnya, melintasi langit biru cerah, tak berawan.

Sebenarnya Aku Peduli

Sebenarnya aku sangat peduli Tapi engkau sama sekali tak mengerti Melihatku pun kau enggan Lalu bagaimana kau tau apa yang telah aku lakukan Tidak masalah jika kau tak meliriknya sama sekali Tapi paling tidak jangan biarkan aku menghadapinya sendiri Karena ini semua bukan untukku Karena mudah saja bagiku untuk tak mau tau Namun kau tak menyadari Engkau terlalu sibuk menyibukkan diri Sudah kuberitahu lewat bahasa Sudah kukatakan lewat perbuatan Dan matamu tetap saja tak melihat ke arahku Haruskah aku berteriak dan menamparmu? Aku tidak ingin begitu, sungguh Tapi ingatlah, ingat baik-baik Jangan timbul peyesalan saat aku pergi Karena sejatinya aku ini bukan siapa-siapa Aku tak tau hatimu terbuat dari apa Dan semoga hatimu tetap di tempatnya..

Bisa?

Suatu hari, aku ingin duduk sendiri saja mencoba mencerna setiap kejadian dan menikmati kehidupan. Beri aku waktu hanya untuk memandang laut yang luas dan bergeming menatap ikan-ikan kecil. Tapi, tak peduli dimana pun aku berlari, sejauh apapun aku pergi, tetap saja kau berhasil menemukanku. Setinggi apapun, sekeras apapun tembok yang ku bangun, dengan mudahnya kau robohkan. Hey, aku tersiksa... Oksigen, oksigen, oksigen. Hidup ini terlalu singkat untuk kuhabiskan dengan menghirupmu Waktu ini terlalu berharga untuk berlalu dengan merasakanmu Baiklah, akan ku kibarkan bendera putih datanglah semaumu, sesukamu.. tapi aku mohon jangan sekarang, setidaknya sampai tahun depan... bisa?