Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2014

Mari Berpesta

Dari pada boneka sebesar badanmu lebih baik berikan aku satu set peralatan lukis, atau cat nya saja deh, emm kanvas doang boleh kok karena aku suka melukis. Aku sangat suka melukis namamu di hatiku, melukis senja yang berwarna-warni dan melukis ilalang yang terus tegak menghadap mentari. Melukis itu seperti menciptakan duniamu, tentu kau pasti akan menyayangi segala karyamu, karena itu adalah jerih payahmu, seperti aku juga aku sangat suka melihat hasil lukisanku. Campuran warnanya dan temanya membuatku terlalu kagum pada diri sendiri. Sombong, haha. Mencampurkan warna, memilih warna apa dalam melukis seperti menata mimpi. Ramuan dan pilihan yang tetap akan menghasilkan lukisan yang bukan cuma indah tapi juga menyentuh hati. Tatanan yang kau bangun sekarang adalah pondasi mimpimu dimasa depan. Aku sangat suka bermimpi, ini, itu, banyak sekali. Tak pernah ada batas maksimum dalam bermimpi pun berimajinasi. Bisakah kau bayangkan, saat ini kau sedang melihat lukisan sebuah danau di k...

Say No to Golput

Apa sih yang ada dipikiran orang yang golput saat pemilihan presiden? Kecuali memang lagi berhalangan banget, eh nyantai-nyantai golput itu lho gak ngerti aku sama jalan pikiran mereka. Kenapa disini yang dibahas pemilihan presiden karena presiden adalah kandidat kuat yang bakalan di'cacati' orang dari pada caleg, lurah, menteri atau walikota. Kalau lurah sih paling yang nyacati orang-orang cangkrukan di warung, ibu-ibu yang suka nggosip, levelnya sih masih desa. Yang lain? Jarang banget dah. Tapi kalau presiden? Huuuuuhhhh kebanyakan pasti pernah nyacat. Kembali ke topik awal, orang-orang golput ini alasan klasiknya sih gak ada yang pas di hati, calon-calon gak ada yang bener makanya mereka pada gak mau milih. Lah, kalau orang se-Indonesia pikirannya kayak mereka mau jadi apa tata kepemerintahan negara ini? Presiden kosong, gak ada yang milih. Trus mau jadi apa negara ini? Trus pemuli lagi? Duit lagi, duit negara loh itu, duit kita juga. Trus golput lagi-pemilu lagi-golput la...

After 'Just One Hour'

Kan, belum tidur kan? Habis liat film nih, sedih nih. Apa judulnya? Film jadul sih, judulnya 'Satu jam saja'. Kenapa kok sedih? Pasti pemerannya mati ya? Iya sih mati, tapi bukan perkara matinya. Lalu? Dari dulu nih ya, kalo ada yang tanya kamu milih sama orang yang mencintaimu tapi kamu gak mencintainya atau sama orang yang kamu cintai tapi dia gak mencintaimu, maka aku memilih yang kedua. Hubungannya sama film? Setelah liat tuh film, aku berubah pikiran, jadi aku memilih pernyataan yang pertama. Jadi lebih milih ada orang yang mencintai kamu meskipun kamu gak cinta gitu sama dia? Yah kan suruh milih cuma 2 itu, kalo bisa sih saling cinta aja biar gak ribet, ahahahaha. Alay banget, udah gak penting tuh, tidur sana! Ini kepala pusing tau??! Iye, iye. Bon amie :)

Hujan ini

Hujan menderu-deru menghujam kalbu menusuk jantungku dengan keliru kini tak pernah ada tersisa luka karena ingatan sudah terhapus bersama rasa terima masih, malam ini masih hitam masih, malam ini masih hujan hanya itu, sudah tak ada yang tersisa lupa memang tak bisa selamanya, namun rasa telah lama meregang nyawa hujan ini, adalah hujan terakhir dari mataku hujan ini menari-nari di atas masa lalu

Belasan kali dalam sehari

Kenapa aku terus menulis? Kenapa matahari masih sudi bersinar? Kenapa hujan tak segan jatuh ke tanah? Karena setiap ucap bisa salah. Karena kepatuhan melebihi keegoisan. Karena memberi tak kenal kata mati. Setiap cahaya yang kau pantulkan akan kembali padamu, setiap senyum yang kau ulum akan mencerahkan hatimu dan setiap panah yang kau lepaskan akan menancap juga di jantungmu. Alur ini seperti sungai di pegunungan nun jauh, arusnya mengalir deras, jernih dan menyejukkan. Meski terhantam batu berkali-kali, melewati pusaran yang bertubi-tubi airnya tetaplah jernih dan menyejukkan. Kita tak pernah tau kapan aliran itu berubah menjadi hijau lalu coklat susu, kita tak pernah menyadari kapan batu-batu itu tak terlihat lagi diganti kelipuk, kita juga tak harus mengerti saat arus hilang sama sekali. Andai akhir dari alur ini adalah laut, yang meskipun air berwarna coklat, lumpur, cadmium, timbal terus menerus mengalirinya air laut masih tetap biru. Tak seorang pun bisa menjamin. Jik...