Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2016

Kode

Kau tau kode? Biasanya digunakan untuk menyampaikan pesan. Tapi, kode-kode jaman sekarang semakin aneh cara penyampaiannya. Meski aku pernah ikut Pramuka dan belajar beberapa kode pesan -atau sandi-, aku tetap tidak bisa mencerna kode masa kini. Jika orang bilang cowok itu tidak peka maka mungkin aku bisa dikategorikan ke dalamnya. Masalahnya kode-kode itu disebar di segala tempat seperti jala nelayan yang dilemparkan ke lautan, nelayan itu menulis besar-besar di jalannya 'Ikan Tuna', tapi mana tau ikan gabus tulisan itu, mana paham si ubur-ubur, selagi mereka berenang dan kurang gesit tertangkaplah semuanya. Dan lagi, dikiranya ikan tuna bisa membaca? Ah nelayan ini kadang suka bercanda. Lalu aku berpikir, jangan-jangan tulisanku ini termasuk kode masa kini. Yah kan, gagal paham. Aku gagal paham dunia perkodean. Hal ini lebih rumit dari masalah reklamasi pantai. Lebih susah dari masalah menentukan jadwal motor len siapa esok hari. Sebenarnya, sejak kapan kode-kode ini mer...

Malam ini

Malam ini, lihatlah ke atas pada bulan yang penuh dan berwarna merah bata. Lalu, (jika kau ada disampingku) akan kuceritakan padamu tentang purnama yang juga berwarna merah bata terpantul sempurna di atas laut yang beriak pelan, membentuk jalanan setapak bercahaya yang aku sebut mangata. Indah sekali, andai kau melihatnya, kau harus melihatnya. Suara debur ombak, air yang gelap dengan kelip-kelip bintang yang gemerlap. Bahkan, kau bisa melihat dengan jelas galaksi bima sakti. (Andai kau ada di sini) Akan kulanjutkan ceritaku mengenai pucuk-pucuk pohon di deretan bukit dan kabut-kabut putih yang seumpama lukisan saat bermandikan cahaya bulan, kau pasti akan takjub. Aku belum selesai, angin yang menerpa wajahmu begitu sendu, seolah membawamu ke dimensi lain dari ruang waktu. Dan akan selalu mengingat itu, sama sepertiku. Bulan di sini memang sama dengan bulan di sana, tapi mengapa rasanya berbeda? Aku mungkin akan terus bercerita jika kau tidak kemana-kemana.

....

Setiap bangunan menyimpan sebuah kenangan. Ia adalah saksi bisu betapa cepatnya manusia melewati waktu, dimana kisah mereka berceceran di lantai, tembok, kusen dan pintu. Setiap kenangan bersemayam dalam relung ruang yang paling dalam, namun bisa terjaga begitu saja saat seseorang mengunjunginya. Kenangan menjadi palu, mengetuk-ngetuk hati di masalalu. Bangunan yang dari dulu begitu seolah menjadi kelabu, menyisakan langit-langit gelap tanpa lampu. Sang waktu seolah tau, dia melesat cepat membawamu pada kenyataan baru, mengenalkan hal-hal asing yang lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan lambat laun berubah kembali menjadi kenangan. Setiap kenangan tersimpan di sebuah bangunan. Menyisakan cat yang terkelupas dan sarang laba-laba. Tak ada saksi yang perlu dicari, karena dia akan dan semoga tetap kokoh berdiri.

Lilin kecil

Malam ini seperti tak berujung, setiap kelipnya membuatku tertahan, sedikit terbawa suasana. Malam ini seperti sebuah perjalanan, yang membuatku tertawa dan menertawai sebuah tangisan. Teruntuk lilin-lilin kecil yang pernah menerangi malamku dan meninggalkanku di tengah kegelapan, terima kasih atas waktu dan sumbu yang telah terbakar demi menghabiskan kesunyian bersamaku. Meskipun akhirnya sinarmu berlalu, namun kehangatanmu makin memperkokoh hatiku. Wahai api yang tak kunjung membara, lilin-lilin kecil ini terus berlarian menghampiriku. Jika satu mati, maka akan menyala satu lagi, begitu terus berganti. Aku gusar jika pagi tergesa datang, dan api mu tak kunjung ku temukan maka bisa jadi lilin-lilin kecil itu yang akan menggantikanmu. Wahai lilin-lilin kecil, teruslah begitu. Berpura-puralah seolah malam baru saja dimulai sehingga kebersamaan kita akan terasa lama, temani aku hingga api itu benar-benar ada. Ah ya, aku lupa. Ternyata api itu aku sendiri. Mungkin saja akulah yang...