Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017
Kau berpagar terali besi tinggi berjajar menghujam tanah yang ditumpuki batu gunung mengaburkan pintu yang selalu terkunci.  Engkau, sang mulia yang berjubah satin, mendiami kastil megah dan terjaga. Gerbangnya dari pohon eek berusia ratusan tahun, diganjal besi besi hitam yang kokoh. Sedang pintumu berukir sempurna itu terkunci. Jendelamu berteralis rapat. Apakah engkau tak merasa dipenjara?  Jangan tuan, ku mohon jangan jawab ini dengan anggukan. Di luar sini jauh lebih mengerikan, banyak penyamun amatir yang tak berotak. Engkau bisa langsung tertusuk hanya karena mendelik. Tetaplah disana, tempat paling aman yang pernah ku percaya. Aku hanya iseng bertanya, berharap engkau murka lalu mengurungku disana. Tidurlah yang nyeyak di bantal bulu angsa, tanpa tempias air hujan di ujung kakimu.

Kamu

Bayangan lampu terpantul semu di aspal yang basah oleh hujan tadi sore, sinarnya sendu seperti mendung di atasmu. Jalanan ini tak pernah sepi, berlalu lalang kendaraaan, tak sedikit yang memacunya kencang-kencang, entah apa yang ingin dikejarnya, mungkin waktu, mungkin kamu. Dikemacetan pun ada kamu, di lampu merah, di pos polisi, juga di sebelah alfamart. Wajahmu ada di baliho, namamu tertulis pada pamflet warna kuning dan merah muda yang kotor terlindas roda,  kamu ada dimana-mana, disana disini disitu... tapi tidak di hatiku.

Hmmm

Di sana menjulur sebuah sulur yang jika kau turuti pangkalnya akan kau temui sebuah pohon raksasa berbuah cinta. Bunganya adalah rindu dan daunnya adalah ketertarikan. Pohon itu bercahaya maya seperti mangata di malam purnama. Semerbak wanginya bisa kau cium dari dua pertiga hari perjalanan berkuda. Akarnya adalah masalalu, terpendam jauh ke dalam tanah. Itulah mengapa pohon itu bisa sekuat baja, berdiri kokoh melawan pancaroba. Keringnya kemarau dan arus air bah tak pernah menggores epidermisnya.  Pohon itu hanya butuh seminggu untuk menjadi membahana, dimana awalnya hanyalah sebiji kecil rasa penasaran atau bahkan bisa saja sebiji kecil rasa kesal. Lalu 'boom' dengan satu hantaman ketulusan yang mencairkan bongkahan es besar, kotiledonnya menghambur keluar, menarik tangkai dan menapakkan akar. Tanpa kau sadari beberapa hari biji itu telah berubah menjadi sebuah pohon raksasa sampai detik ini, meski sudah berkali-kali bumi mengelilingi matahari. Kambiumnya telah berlapis-...

Cerita (Pendek)

Hey!! Jika kau rasa bayangan kita masih terjebak pada kegelapan yang sama sedang diri kita sudah jauh ke dalam cahaya kenapa tak kita relakan saja bayangan hitam itu. Ya, diri kita tanpa bayangan adalah kurang. Tapi, mundur lagi ke belakang merupakan kesia-siaan. Andai kau tau sesungguhnya aku tak pernah meninggalkan sedikit pun bayanganku bersama bayanganmu, hanya saja semuanya tak melihat begitu. Jadi tak perlu ada badai yang akan memporak-porandakan apa yang sudah terjaga. Karena aku tak akan padamu. Aku pada oksigenku, meski aku belum tau, tetap saja itu bukan dirimu. Jangan (pura-pura) mematahkan apapun, saat engkau tak (pernah) melakukan apapun. Jangan (pura-pura) patah, saat sebenarnya tak (pernah) ada kisah. .
Engkau menyembunyikan hujan, di atas awan-awan putih. Melabur mendung dengan pelangi. Mengatakan pada semua orang bahwa kemarau kali ini lama sekali. Alasanmu hujan hanya menghambat aspal jalanan memuai, menumpuk mobil dan motor di jalur kanan dan basah itu menyebalkan. Engkau pandangi sungai besar yang arusnya hampir tak terlihat, memaki hujan karena menimbulkan warna cokelat susu persis seperti seruputanmu setiap malam minggu. Engkau bilang hujan itu sia-sia karena rambut jadi lepek,  kaki jadi mengkerut,  dan berlumpur. Jelek. Panaslah juaranya, kalau kepanasan masuk saja ruangan berpendingin. Lalu hujan turun dengan deras, menyapu aspal dari debu dan sisa bungkus permen.

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...
Selamat tengah malam untukmu, untukmu yang ada disitu. Waktu telah habis membunuhku. Berapa musimkah yang kau minta? Bukankah telah ku kosongkan musim-musim sebelumnya? Tapi kau dimana? Untukmu yang ada disitu, apakah dirimu cemburu saat jarak yang ada ini seperti bisu? Tahun-tahun telah berlari berganti tapi tidak jarak ini. Aku adalah seorang pujangga di kegelapan malam, menuliskan setiap sayatan angin kesunyian. Semua ini bukan tentang aku padamu, padamu yang tak ku tahu.

Kemarau

Hujan belum datang. Ranting-ranting flamboyan masih tertutup daun-daun majemuk, meneduhkan rumput gajah. Menengadah pada matahari yang panas seperti menantang udara siang, membangunkan melanin yang tertidur. Partikel-partikel debu ikut bersatu dengan angin yang berhembus dari arah utara, menciptakan dersik. Suara itu seperti nyanyian musim panas yang menggoyangkan belalang sembah hijau. Kumpulan kupu-kupu kuning kehijauan terlihat berkejar-kejaran di tepi sungai batu. Kemarau ini adalah musim yang harus dilewati, tanpa gugurnya daun jati, juga tanpa mengeringnya pucuk-pucuk meranti. Diikuti lalat buah yang telah bertelur di dalam buah pepaya. Rasanya tak ada yang kurang dengan padang ini, bahkan kunang-kunang jantan sudah bersiap menunggu senja untuk menarik hati para pujaannya. Lalu, kaukah itu? Berdiri termangu ditengah ilalang sendu. Merapal doa yang tak pernah ku tahu. Menatap gamang jajaran bukit berwarna cokelat, seolah sebentar lagi dirimu akan turut menguap bersama tetes ...

Mimpiku kemarin malam

Kemarin malam aku bermimpi naik kereta, jauh sekali perjalanan yang ku tempuh. Aku melewati gunung, sawah, hutan, pasar dan jalanan yang lengang. Mungkin saja aku melewati rumahmu, tapi sayangnya mimpiku bukan tetang dirimu jadi tak apa aku melewatkan bagian itu. Di dalam kereta tak banyak penumpang yang saling berbicara, aku bahkan tak bisa melihat dengan jelas wajah mereka, sepertinya bukan karena aku tak pakai kacamata - aku tidur memang tidak pakai kacamata jadi mungkin sekali pas bermimpi kacamataku tak terbawa-, tapi karena memang mimpi itu bukan tentang mereka. Aku berjalan menyusuri gerbong dari gerbong depan ke gerbong belakang. Rasanya semua yang kulihat menjadi abu-abu. Tak ada pemandangan dijendela, hanya gelap gulita dengan semburat putih yang ikut berlarian. Beberapa kursi yang ku lewati tampak kosong. Rasanya aku juga tak mendengar apa-apa. Bukankah suara kereta api akan terasa semakin keras saat malam hari? Ah, tapi aku tidak yakin latar waktu mimpiku, entah memang ma...

O2?

Hey oksigen, selamat sore.. Bagaimana kabarmu? Apakah engkau telah menjadi senyawa, berikatan dengan unsur lainnya? Ah, andai udara berwarna pastilah aku tau jawabannya. Atau kau bisa menjawabnya? Mulutmu dimana? Kenapa aku tidak bisa melihatnya? Ah, ternyata aku belum pernah melihatnya... Baiklah, sore ini hampir tergantikan petang tapi lumba-lumba belum juga berenang pulang, menghirup setiap kubikmu ke dalam paru-parunya. Untuk itu ku tuliskan ini untukmu, karena sang waktu mulai usil padaku. Jadi, bagaimana?

Bulan separuhnya separuh

Suara suara serangga malam bersahutan, mengisi kesunyian angin yang bergerak perlahan, menggoyangkan ranting kelengkeng. Sesekali, langit hitam bersemburat merah dan kuning, membentuk bunga-bunga unsur kimia diikuti suara tak merdu yang terus berulang. Suara itu bercampur dengan suara-suaramu mengetuk jendela kamarku. Menjelma menjadi lebah madu yang masuk lewat celah kusen dan diam-diam bersarang sesukamu. Aku baru tau itu kemarin lalu. Menyisakan dilema rasa antara menunggu adanya madu atau tak ada apa-apa. Lalu seekor kucing hitam mengeong halus, menuntunku membuka jendela, matanya yang hitam seolah bersinar dikegelapan. Tapi aku hanya sekilas memandangnya karena bulan dilangit sana lebih bercahaya. Bulan, sang penarik ombak lautan, bertengger anggun di atas pegunungan menyanyikan lagu syahdu lewat bisikan malam. Bulan masih separuhnya separuh. Cahayanya belumlah terpantul sempurna, tapi kita semua tau dia akan sempurna. Kita tak semua peduli, buat apa juga kan ya?  Jika kau...

Merasa-kan

Kau pernah merasakan hujan? Aku pernah dulu saat di tengah laut. Aku tak menghindarinya, memang aku tak bisa menghindarinya dan aku suka. Kau pernah merasakan cinta? Aku pernah dulu sekali saat belum ada yang punya layar sentuh. Aku menghindarinya, memang aku bisa menghindarinya dan aku tak apa. Kau pernah merasakan rindu? Sejujurnya untuk yang satu ini definisiku agak rancu jadinya jawabanku pun tak bisa pasti. Kau pernah merasakan cinta (lagi)? Aku belum pernah, entah. Tertarik saja mungkin, itu pun tak lama, hanya momentum. Kau pernah merasakan penyesalan? Aku pernah, sekali-kali tapi tak berlarut-larut. Aku belajar bahwa tak ada yang salah dengan apa yang terjadi, jadi apa yang perlu disesali dengan mendalam? Kau pernah merasakan sesuatu? Meski itu bukan cinta atau rindu, katakanlah. Karena perasaan tak bisa bertahan lama dan waktu bisa merubah apa saja. Memang kita tak perlu menyesal tapi apa iya tak apa tak terkatakan?  Kau pernah merasakan malam? Dia merubah api...

Gabut

Siang ini aku melihat danau saat keluar tol. Banyak pepohonan yang berjaga disampingnya, sejuk. Pengennya sih duduk disitu, tapi pasti banyak yang bisik-bisik gini 'Lapo se wong iku, kurang gawean ta?'*), berisik woey! Heran deh. Eh itu cuma pikiranku ding. Tapi kalau mau beneran duduk disitu sendiri itu bakal sendirian banget nget. Gak tau ya, harusnya tempat itu favorit buat cari udara segar -dalam artian yang sesungguhnya-, tapi setiap lewat situ sepi, mau sore siang pagi tetep aja sepi. Yah mungkin selera orang emang berbeda kali ya. Sebulan lalu di danau itu pernah ditemukan mayat bayi laki-laki, sedih banget gak sih. Liat keponakanku yang masih bayi trus mikir kok ada orang yang tega ngebuang bayi yang lemah lembut gemulai tak berdaya. Kalau nonjok orang nyebelin sih aku masih bisa maklum ya. Hmm, kembali lagi emang indera perasa orang beda-beda sih. Kayak cowok yang kalau duduk di kursi kendaraan umum ngangkang banget sampek butuh satu setengah kursi jadi yang duduk dise...

Lalu apa?

Pasir pantai terbawa arus laut, menempel pada kaki-kaki telanjang. Angin yang sepoi membelai dagumu, menemani terik matahari. Kau menghela napas, merasakan syukur yang sangat ketika melihat ujung lautan. Tersenyum pada kapal-kapal yang tak dikenal. Lalu dalam hati, dengan segala keindahan ini apa yang sebenarnya kau cari? Kekasih hati? Keridhoan ilahi? Tidak, kau tidak tau jawabannya. Hidup ini terlalu penuh nafsu untuk sesederhana itu. Hatimu menjadi kecut, tapi untuk apa saat secuil surga ada di depan mata? Maka renungan itu selalu cepat berlalu, secepat camar yang terbang dari ranting pohon bakau tua. Mengepakkan sayap mengikuti kawanannya. Riak ombak menenggelamkan telapak kaki, membasuh kulit yang kering. Sekali lagi sebelum pergi melompat ke dermaga kau hayati birunya samudera. Jika ini semua tak ada, lalu apa? ...
Untukmu yang ada disitu, Malam ini hujan deras menderu-deru, menjadikan malam sunyi tak lagi sepi. Untukmu yang ada disitu, Tanah basah telah berkali-kali dilalui, tak bosankah kau dengan masa kini? Aku bosan. Mari melukis sinar matahari, tapi tidak hari ini. Tidak juga besok, apalagi lusa. Bulan depan, tahun depan, tidak akan. Sebaiknya tidak usah. Tidak usah saja. ...

Puisi

Bagiku rangkaian kata di blog ini adalah luapan amarahku, ke-kesalanku, ke-absurd-an ku dan helaian-helaian salamku untukmu. Aku tak berniat menulis puisi, tapi jika memang ingin menulis kenapa tak sekalian yang presisi??! Seperti malam ini, kau kira malam ini sama dengan malam-malam sebelumnya? Kau pikir tidak apa melewatkannya begitu saja? Kau ini.. Dari sekian sisi yang ku miliki, berimajinasi adalah keahlianku yang paling mumpuni. Aku bisa merubahmu menjadi apa saja; air, oksigen, elang, kelipuk, ilalang, bintang, laut bahkan sesuatu yang tak ku sebut. Aku pun sanggup membawamu kemana saja; palung, taman, cumolonimbus, luar angkasa, jalan tol, kebun teh, atap rumah, bahkan ke tempat yang tak kasat. Menurutmu aku sedang menulis puisi? Bukan, bukan. Curahan hati? Tidak, tidak. Aku hanya sedang berimajinasi, karena keahlian juga butuh latihan. Aha! Yah, bersabarlah, mau bagaimana lagi, aku memang begini.. Selamat hari puisi, hari yang sama dengan hari-hari saat kau tak disini...

Cerita

Apakah kau ingin mendengar sebuah cerita? Mungkin untuk mengisi sedikit lamunan sebelum tidurmu. Dahulu kala terdapat sebuah bukit emas yang jika hujan mengguyurnya maka sungai-sungai akan berkilauan layaknya kau berada di surga. Ikan-ikan pun berenang dengan sisik dan sirip yang dilapisi emas. Batu, lumut, tanah liat dan bahkan jika tak sengaja daun tua jatuh dipermukaan sungainya maka semuanya akan berwana emas. Indah? Apa kau berpikiran itu indah? Simpan dulu pikiranmu, ini adalah ceritaku. Sabar saja, nanti juga ada sesi tanya jawabnya. Apa aku menyebalkan? Terima saja, yang penting aku bisa cerita. Baiklah. Pada suatu waktu, hujan tak pernah turun lagi. Sungai-sungai mulai mengering. Daun tua juga sudah tidak ada. Ikan-ikan telah pergi ke hilir. Hanya tersisa batu dan tanah kering. Tapi, tengoklah bukit emas itu. Warnanya tak pudar bahkan sekarat pun. Malahan lebih bersinar daripada dulu-dulu. Bukit itu menjadi satu-satunya hal yang menantang panasnya matahari. Pasti kau...
Untukmu yang ada disitu, terima kasih atas keberadaanmu kemarin dulu. Apa, hatimu tidak menggebu? Aku, menggebu. Atau... bisa kita bertemu? ...
Untukmu yang ada disitu, Kamu dimana? Aku disini Ah aku lupa kau tak punya telinga Eh apa punya tapi aku belum melihatnya? Hmm... Ada saran?

Perjalanan Sang Tardigrada

Sebagai Tardigadra yang suka ngemil daun stevia tapi gemuknya standar aja dan gak takut diabetes karena kata jurnal internasional kadar glikemiknya nol, menghadapi kekeringan dan kelaparan yang sedang melanda salah satu benua penghasil berlian kece ini pun Tardigrada hanya tinggal menggulung tubuhnya, selesai. Sebenarnya Tardigrada pengen juga ngajak Simba dan Ular Derik ngemil stevia, tapi selain dulu kala nyesepin steviol glikosida belum nge-trend, belum sederet sama aspartam atau pun si sakarin karena katanya penelitian belum memadai, ternyata si Simba maupun Ular Derik ini karnivora alias gak suka sayur!! Padahal Tardigrada sudah panjang lebar menjelaskan kalau daun berbulu halus yang manisnya 200-300 kali gula tebu ini asli bukan sayur, cuma cemilan yang enak dimasukin ke sirup tapi mereka tetep gak mau nyoba, ya sudah. Dua hari kemudian kabarnya ada kebocoran pipa dari instalasi pembangkit tenaga nuklir. Ratusan ribu warga di evakuasi termasuk kucing-kucing dan jerapah yang ti...

Lelah?

Hari ini aku lelah menunggu. Kemarin pun lelah. Kemarin dulu pun juga sudah lelah. Jadi sudah terlalu lelah menunggu. Maka, hiburlah aku hari ini. Ajak aku bercerita atau ceritakan hal-hal lucu yang bisa membuatku tertawa. Ah percuma, kau kan tidak peka.. Aku putuskan menghitungi bunga-bunga putih kecil famili Syzygium yang gugur di paving abu-abu. Diacuhkan merpati-merpati berbulu cokelat susu. Tik tok tik tok, angka-angka di pojok kiri atas layar ponselku terus berganti, tapi tetap tidak terjadi apa-apa, eh belum. Kucing yang tadi berwarna hitam putih sudah jadi kuning, eh ternyata beda kucing. Apa aku sedikit menyebalkan? Yah, kita kan tidak bisa menyenangkan semua orang. Wah, aku dikabari!! Oke, selamat siang, selamat mendaki jalanan panjang! ❤

Lapar

Klotak-klotak bunyi air hujan menghantam atap seng penjual sate. Mobil dan motor lalu-lalang dengan pelan karena banyak genangan air disana sini. Tapi mungkin berkat hujan atau entah memang sedang dalam siklus larva, nyamuk-nyamuk yang biasa mangkal disini tak datang jadi aku bisa dengan tenang mengantri, meskipun tak terlalu tenang juga karena perut sudah agak lapar sementara antrian masih panjang. Aku memang tidak tahan lapar dan lagi aku tau rasanya kelaparan yang menjadi-jadi kemarin dulu, dulu sekali di tempat yang jauh sana. Karena itu aku semakin tidak suka dengan rasa lapar, karena rasa lapar kadang-kadang mengingatkanku pada masa waktu yang itu. Lapar dengan tidak ingin makan meskipun belum makan itu berbeda. Aku lapar dan aku ingin makan. Aku bersyukur kembali ke tempat yang dengan mudah aku bisa makan,  apa saja bahkan. Aku lebih bersyukur lagi bisa kembali kesini jika melihat orang-orang entah di negeri mana bahkan untuk minum saja kesusahan. Semoga mereka segera diber...

Kita bermimpi

Malam ini mari kita bermimpi. Memupuk imajinasi agar kita terbang sejajar dengan para bintang. Berlarian di atas bulan. Tenang saja, kali ini mimpi kita sangat indah. Bintang dan bulan bukan cuma batu yang gompal disana-sini, lebih dari itu mereka tampak bercahaya dan lucu. Kau tak suka lucu? Jangan protes karena hanya malam ini saja kita mengarungi galaksi bersama. Sebelum itu pejamkanlah matamu, tidurlah yang tenang, pakai selimutmu dan jangan lupa berdoa. Aku sudah ngantuk sekali. Apakah kau berdoa agar kita bertemu dalam mimpi? Benarkah? Kenapa? Kau ini pecundang sekali. Jadi kita mulai dari mana? Apakah kita bertemu di atas sana atau dimana? Baiklah kita bertemu di atas awan cumulonimbus yang putihnya tak menyala karena gulita, dari situ kita terus terbang melewati stratosfer, tenang ini mimpi spesial kita jadi tak perlu baju astronot atau takut tak bisa bernapas karena malam ini kita bebas kemana saja, karena ini mimpi kita. Setelah melewati atmosfer mungkin kita akan sedi...
aku ingin memberimu bunga mawar tapi takut jarimu tertusuk duri aku ingin memberimu bunga krisan tapi takut semerbaknya tak harum aku ingin memberimu bunga tulip tapi takut karena mahal 🙍 akhirnya aku memberimu harapan tapi kau tak mewujudkannya jika yang kau minta adalah cinta, aku tak yakin punya tapi jika kau tak meminta apa-apa maka aku sudah tau mau-mu apa.

Satu tahun

Sore ini, hujan terlalu deras menghantam beton, menenggelamkan teritis got. Hujan memang paling suka tiba saat bumi sampai di sepertiga porosnya, menguarkan bau tanah basah. Biasanya hujan adalah pertanda mekarnya kelopak-kelopak merah bunga flamboyan. Ah, dulu aku sangat mengagumi bunga pohon itu sama seperti sekarang. Dulu aku sangat suka memperhatikanmu, menanti-nanti waktu kapan dapat melihatmu. Satu tahun. Hanya butuh satu tahun untuk merubah segalanya. Satu tahun tanpa sekalipun memandangmu membuat sedikit banyak perubahan dalam perasaanku. Lalu tahun-tahun berikutnya pun datang, masih menyamarkan merahmu yang menyala. Ini semua karena hujan, ini semua karena kenangan. Hari ini meski kenangan menjadi-jadi, semua itu tak akan pernah kembali lagi. Tapi bisakah diperbaiki? Tidak. Sayangnya tidak bisa. Kita hanya perlu terus melaju, mendekap setiap hawa yang baru dan tersenyum seolah hatimu batu. Aku merindu bunga-bunga flamboyan yang gugur menutupi rerumputan. Aku ingin terus me...