Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2017
Selamat tengah malam untukmu, untukmu yang ada disitu. Waktu telah habis membunuhku. Berapa musimkah yang kau minta? Bukankah telah ku kosongkan musim-musim sebelumnya? Tapi kau dimana? Untukmu yang ada disitu, apakah dirimu cemburu saat jarak yang ada ini seperti bisu? Tahun-tahun telah berlari berganti tapi tidak jarak ini. Aku adalah seorang pujangga di kegelapan malam, menuliskan setiap sayatan angin kesunyian. Semua ini bukan tentang aku padamu, padamu yang tak ku tahu.

Kemarau

Hujan belum datang. Ranting-ranting flamboyan masih tertutup daun-daun majemuk, meneduhkan rumput gajah. Menengadah pada matahari yang panas seperti menantang udara siang, membangunkan melanin yang tertidur. Partikel-partikel debu ikut bersatu dengan angin yang berhembus dari arah utara, menciptakan dersik. Suara itu seperti nyanyian musim panas yang menggoyangkan belalang sembah hijau. Kumpulan kupu-kupu kuning kehijauan terlihat berkejar-kejaran di tepi sungai batu. Kemarau ini adalah musim yang harus dilewati, tanpa gugurnya daun jati, juga tanpa mengeringnya pucuk-pucuk meranti. Diikuti lalat buah yang telah bertelur di dalam buah pepaya. Rasanya tak ada yang kurang dengan padang ini, bahkan kunang-kunang jantan sudah bersiap menunggu senja untuk menarik hati para pujaannya. Lalu, kaukah itu? Berdiri termangu ditengah ilalang sendu. Merapal doa yang tak pernah ku tahu. Menatap gamang jajaran bukit berwarna cokelat, seolah sebentar lagi dirimu akan turut menguap bersama tetes ...

Mimpiku kemarin malam

Kemarin malam aku bermimpi naik kereta, jauh sekali perjalanan yang ku tempuh. Aku melewati gunung, sawah, hutan, pasar dan jalanan yang lengang. Mungkin saja aku melewati rumahmu, tapi sayangnya mimpiku bukan tetang dirimu jadi tak apa aku melewatkan bagian itu. Di dalam kereta tak banyak penumpang yang saling berbicara, aku bahkan tak bisa melihat dengan jelas wajah mereka, sepertinya bukan karena aku tak pakai kacamata - aku tidur memang tidak pakai kacamata jadi mungkin sekali pas bermimpi kacamataku tak terbawa-, tapi karena memang mimpi itu bukan tentang mereka. Aku berjalan menyusuri gerbong dari gerbong depan ke gerbong belakang. Rasanya semua yang kulihat menjadi abu-abu. Tak ada pemandangan dijendela, hanya gelap gulita dengan semburat putih yang ikut berlarian. Beberapa kursi yang ku lewati tampak kosong. Rasanya aku juga tak mendengar apa-apa. Bukankah suara kereta api akan terasa semakin keras saat malam hari? Ah, tapi aku tidak yakin latar waktu mimpiku, entah memang ma...

O2?

Hey oksigen, selamat sore.. Bagaimana kabarmu? Apakah engkau telah menjadi senyawa, berikatan dengan unsur lainnya? Ah, andai udara berwarna pastilah aku tau jawabannya. Atau kau bisa menjawabnya? Mulutmu dimana? Kenapa aku tidak bisa melihatnya? Ah, ternyata aku belum pernah melihatnya... Baiklah, sore ini hampir tergantikan petang tapi lumba-lumba belum juga berenang pulang, menghirup setiap kubikmu ke dalam paru-parunya. Untuk itu ku tuliskan ini untukmu, karena sang waktu mulai usil padaku. Jadi, bagaimana?