Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2017

Hmmm

Di sana menjulur sebuah sulur yang jika kau turuti pangkalnya akan kau temui sebuah pohon raksasa berbuah cinta. Bunganya adalah rindu dan daunnya adalah ketertarikan. Pohon itu bercahaya maya seperti mangata di malam purnama. Semerbak wanginya bisa kau cium dari dua pertiga hari perjalanan berkuda. Akarnya adalah masalalu, terpendam jauh ke dalam tanah. Itulah mengapa pohon itu bisa sekuat baja, berdiri kokoh melawan pancaroba. Keringnya kemarau dan arus air bah tak pernah menggores epidermisnya.  Pohon itu hanya butuh seminggu untuk menjadi membahana, dimana awalnya hanyalah sebiji kecil rasa penasaran atau bahkan bisa saja sebiji kecil rasa kesal. Lalu 'boom' dengan satu hantaman ketulusan yang mencairkan bongkahan es besar, kotiledonnya menghambur keluar, menarik tangkai dan menapakkan akar. Tanpa kau sadari beberapa hari biji itu telah berubah menjadi sebuah pohon raksasa sampai detik ini, meski sudah berkali-kali bumi mengelilingi matahari. Kambiumnya telah berlapis-...

Cerita (Pendek)

Hey!! Jika kau rasa bayangan kita masih terjebak pada kegelapan yang sama sedang diri kita sudah jauh ke dalam cahaya kenapa tak kita relakan saja bayangan hitam itu. Ya, diri kita tanpa bayangan adalah kurang. Tapi, mundur lagi ke belakang merupakan kesia-siaan. Andai kau tau sesungguhnya aku tak pernah meninggalkan sedikit pun bayanganku bersama bayanganmu, hanya saja semuanya tak melihat begitu. Jadi tak perlu ada badai yang akan memporak-porandakan apa yang sudah terjaga. Karena aku tak akan padamu. Aku pada oksigenku, meski aku belum tau, tetap saja itu bukan dirimu. Jangan (pura-pura) mematahkan apapun, saat engkau tak (pernah) melakukan apapun. Jangan (pura-pura) patah, saat sebenarnya tak (pernah) ada kisah. .
Engkau menyembunyikan hujan, di atas awan-awan putih. Melabur mendung dengan pelangi. Mengatakan pada semua orang bahwa kemarau kali ini lama sekali. Alasanmu hujan hanya menghambat aspal jalanan memuai, menumpuk mobil dan motor di jalur kanan dan basah itu menyebalkan. Engkau pandangi sungai besar yang arusnya hampir tak terlihat, memaki hujan karena menimbulkan warna cokelat susu persis seperti seruputanmu setiap malam minggu. Engkau bilang hujan itu sia-sia karena rambut jadi lepek,  kaki jadi mengkerut,  dan berlumpur. Jelek. Panaslah juaranya, kalau kepanasan masuk saja ruangan berpendingin. Lalu hujan turun dengan deras, menyapu aspal dari debu dan sisa bungkus permen.