Di sana menjulur sebuah sulur yang jika kau turuti pangkalnya akan kau temui sebuah pohon raksasa berbuah cinta. Bunganya adalah rindu dan daunnya adalah ketertarikan. Pohon itu bercahaya maya seperti mangata di malam purnama. Semerbak wanginya bisa kau cium dari dua pertiga hari perjalanan berkuda. Akarnya adalah masalalu, terpendam jauh ke dalam tanah. Itulah mengapa pohon itu bisa sekuat baja, berdiri kokoh melawan pancaroba. Keringnya kemarau dan arus air bah tak pernah menggores epidermisnya. Pohon itu hanya butuh seminggu untuk menjadi membahana, dimana awalnya hanyalah sebiji kecil rasa penasaran atau bahkan bisa saja sebiji kecil rasa kesal. Lalu 'boom' dengan satu hantaman ketulusan yang mencairkan bongkahan es besar, kotiledonnya menghambur keluar, menarik tangkai dan menapakkan akar. Tanpa kau sadari beberapa hari biji itu telah berubah menjadi sebuah pohon raksasa sampai detik ini, meski sudah berkali-kali bumi mengelilingi matahari. Kambiumnya telah berlapis-...