Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2017

Gabut

Siang ini aku melihat danau saat keluar tol. Banyak pepohonan yang berjaga disampingnya, sejuk. Pengennya sih duduk disitu, tapi pasti banyak yang bisik-bisik gini 'Lapo se wong iku, kurang gawean ta?'*), berisik woey! Heran deh. Eh itu cuma pikiranku ding. Tapi kalau mau beneran duduk disitu sendiri itu bakal sendirian banget nget. Gak tau ya, harusnya tempat itu favorit buat cari udara segar -dalam artian yang sesungguhnya-, tapi setiap lewat situ sepi, mau sore siang pagi tetep aja sepi. Yah mungkin selera orang emang berbeda kali ya. Sebulan lalu di danau itu pernah ditemukan mayat bayi laki-laki, sedih banget gak sih. Liat keponakanku yang masih bayi trus mikir kok ada orang yang tega ngebuang bayi yang lemah lembut gemulai tak berdaya. Kalau nonjok orang nyebelin sih aku masih bisa maklum ya. Hmm, kembali lagi emang indera perasa orang beda-beda sih. Kayak cowok yang kalau duduk di kursi kendaraan umum ngangkang banget sampek butuh satu setengah kursi jadi yang duduk dise...

Lalu apa?

Pasir pantai terbawa arus laut, menempel pada kaki-kaki telanjang. Angin yang sepoi membelai dagumu, menemani terik matahari. Kau menghela napas, merasakan syukur yang sangat ketika melihat ujung lautan. Tersenyum pada kapal-kapal yang tak dikenal. Lalu dalam hati, dengan segala keindahan ini apa yang sebenarnya kau cari? Kekasih hati? Keridhoan ilahi? Tidak, kau tidak tau jawabannya. Hidup ini terlalu penuh nafsu untuk sesederhana itu. Hatimu menjadi kecut, tapi untuk apa saat secuil surga ada di depan mata? Maka renungan itu selalu cepat berlalu, secepat camar yang terbang dari ranting pohon bakau tua. Mengepakkan sayap mengikuti kawanannya. Riak ombak menenggelamkan telapak kaki, membasuh kulit yang kering. Sekali lagi sebelum pergi melompat ke dermaga kau hayati birunya samudera. Jika ini semua tak ada, lalu apa? ...
Untukmu yang ada disitu, Malam ini hujan deras menderu-deru, menjadikan malam sunyi tak lagi sepi. Untukmu yang ada disitu, Tanah basah telah berkali-kali dilalui, tak bosankah kau dengan masa kini? Aku bosan. Mari melukis sinar matahari, tapi tidak hari ini. Tidak juga besok, apalagi lusa. Bulan depan, tahun depan, tidak akan. Sebaiknya tidak usah. Tidak usah saja. ...