Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

Hujan Ketiga

Di penghujung senja angin memutar ranting ranting pohon cahaya jingga perlahan surut meninggalkan langit yang sepenuhnya kelabu hingga hujan ketiga menyapu tanah di saat semua berlarian maka aku akan tetap tegak memandang meski dari tepian padang meski tersamar cokelatnya ilalang berjalanlah di atas bunga berlarilah menuju awan seutuhnya perjalanan tanpa tapi tanpa jika berbahagialah seperti aku bergembiralah  seperti yang lalu-lalu ya

Prosa Untukmu

Jika di ibaratkan tinta kau adalah warna jingga yang sangat sempurna untuk melukis senja Jika di ibaratkan langit kau adalah satu-satunya satelit yang berpendar indah layaknya forsterit Bila di ibaratkan musim kau adalah sebuah hiponim yang menumbuhkan perasaan lalim dan takzim Bila di ibaratkan kisah kau adalah segala resah yang digubah dalam melodrama bersesah Andai di umpamakan rasa kau adalah cinta sedangkan aku adalah rindu yang tak pernah bertemu di satu waktu maka prosa ini aku tulis untukmu untukmu yang ada disitu

Dwi

Aku seperti menjadi dua. Satu saat ini dan satu lagi yang muncul tiba-tiba. Kami berdua terlihat telah jauh berlari tapi ternyata aku sendiri, tapi ternyata aku tak berlari. Aku yang saat ini hanya menunggu mati, sedang aku yang tiba-tiba masih bernapas satu dua. Dipundaknya diikatkan aku yang saat ini dengan kain cokelat tersimpul didada. Entah kemana. Saat aku yang saat ini jemu dengan siang dan petang, aku yang tiba-tiba menulis paragraf semu sambil bernyanyi lagu-lagu sendu. Lalu di pagi buta, aku terjaga. Aku menyesali mimpi yang sebenarnya tak ada. Mengangguk-angguk seolah mengerti bagaimana hidup ini bekerja. Menendang selimut berlapis dua, mencoba merapal doa agar diriku tetap bisa bernyawa. 

Najandra

Aku seperti mati suri, tapi matinya hidup dan hidupnya mati. Seperti tergagu apa aku harus terjaga atau tetap menipu diri sendiri. Hidupnya tajam, hujaman apa saja mungkin bisa dilawan, tapi tidak dengan kenyataan. Jika menyelam ke dalam samudera bisa membasuh semua keraguan maka sekarang saja aku mau berlari, terjun bebas dari tebing karang. Meski matahari hampir tenggelam aku tak pernah takut akan kegelapan, aku tak pernah gamang dengan kesendirian, aku hanya tak bisa berteriak dari diriku sendiri, dari apa yang bisa terjadi. Lalu aku harus apa? Menangis menderu bukan tabiatku, mengiba merana bukan prinsipku, aku terlalu mandiri untuk ini atau aku terlalu sendiri untuk diriku sendiri. Aku terlalu kuat untuk terlihat lemah dan aku terlalu lemah untuk benar-benar kuat. Dari ujung waktu ke waktu aku selalu sadar, teramat sadar bahwa tak ada yang ku punya di dunia ini selain diriku sendiri. Ya, buat apa? Toh kita nanti mati juga.

Niskala

Pada zenit jumantara maya Menyongsong Nadir seloka rindu Dalam jenggala anggara badi Matamu tertutup mega Menebarkan sangsaya ke setiap penjuru Hati yang basau pun menjadi-jadi Terpegan dalam mudita delusi Hingga halimun pertama menghilang di pagi hari

Kirim salam

Malam ini ku kirimkan hujan deras padamu yang membasahi pagar rumahmu menyegarkan tanaman pekaranganmu menyejukkan hawa kamarmu saat wangi khas hujan dan tanah telah menyeruak di indera penciumanmu, saat itulah salamku telah tiba dengan bahagia.  Meski kemudian hujan reda dan suara gemerciknya tak lagi nyata, tak apa aku telah sampai padamu mengendap-endap dalam mimpi pendekmu membayangi lamunanmu esok hari.  Tapi,  sebentar lagi musim ini berganti membuatku mustahil menjadi petrichor yang membelai kenyenyakanmu dan menyelingi siangmu ... 
Saat matahari tepat diatas langit, akan ku panggilkan angin-angin teluk, agar siangmu terasa sejuk. Ketika dahaga menyergap tenggorokanmu, akan ku tuangkan air kelapa muda dari pantai berpasir merah muda, agar hausmu segera sirna.  Saat malam terlalu gelap gulita, akan ku nyalakan rembulan, agar tidurmu tak lagi muram.  Ketika hujan membasahi sepatu, akan ku arak awan awan hitam, agar harimu menjadi cerah.  Tapi,  saat itu, jangan mengingatku. Namun,  ketika ingatanmu kembali, jangan mencariku.  Karena aku tidak pernah kemana-mana.  Iya. 

Bulan Kedua

Aku melewatkan bulan kedua dengan tak ingat apa-apa, karena melawan hari-hari biasa saja seperti sudah tak bernyawa. Bagai mumi yang mati tapi tak mati, membakar kertas-kertas mantra. Bahwa tua adalah jalan yang sudah diduga sebelumnya, entah puluhan  kali berapa bulan ber-revolusi, layaknya sepeda yang lama dikayuh, jauh. Hujan, banjir, kekeringan, kebakaran, hujan lagi, banjir lagi, terus begitu. Musim-musim tertawa dan ditertawakan, seru dan membosankan. Kedinginan di sepertiga malam, hanya untuk menarik selimut dan kembali terpejam, karena toh tidur juga kebutuhan. Meremehkan. Hidup itu tidak pernah panjang, karena sebagian besarnya disia-siakan. Setipe kalau sadar kan lumayan. Bulan ketiga sudah seminggu saja, aku sih tak apa, tapi ternyata tak bisa seenaknya soalnya datang kedunia bukan dari sulapan topi kelinci.

Mudita

Seperti pohon bakau dibibir pantai, yang terdera deburan gelombang , dan menjadi rumah bagi para burung berbulu kecokelatan, menempelkan benih-benih harapan di kambiumnya, bersemi pada air payau. Bakau-bakau itu tak pelak roboh, daunnya terendam laut, membuat kutikulanya asin. Aves berkaki merah muda terbang sebentar, menari di ranting-ranting kecil. Paruh kuning hitamnya bergerak ke kanan dan kekiri, menonjolkan hidung birunya. Pasir putih merendam kaki-kaki kita dengan lembut, selembut angin selatan yang membelai rambutmu.
Kaki-kaki dingin melompat di atas kubangan,  menggilas kerikil dan pasir basah. Angin-angin kencang membuat kulit mengkerut, memutihkan ujung-ujung jari. Sampai sekian malam perjalanan ini tak kunjung usai, meski pohon bidara telah tumbang melintang hingga tepian parit berumput hijau. Punggung bungkuk yang berdiri tegak, menggapai sarang kupu-kupu, membuat lelah dan kebodohan menjadi satu. Panas memanggang telah ditantang namun hujan topan mengguyurkan kedinginan. Hal-hal mempesona tak seperti itu sama sekali. Lalu baru disadari, jika sudah tersesat sejauh ini. Dan bila semua arah terlihat sama maka harus bagaimana? 
Lingkaran hitam dan abu-abu berputar dikepalaku, menghisap mata-mata raga. Terkulai dengan kelopak terbuka, menghayati dinding dan helaan napas. Aku ingin tertidur dengan damai, berselimut hangat, menyapa angin yang berhembus. Hati berkecamuk, mejalar ke nalar, tergeletak dengan tatapan nanar. Rasanya begitu sepi. Lagi. Tak ada yang dipunya selain diri sendiri. Bahkan diri ini bukan milik sendiri. Kilat-kilat menyambar dengan terang benderang, memberi tahu jalan menuju awan kelabu. Buku baru telah sobek ujungnya, menyisakan pena biru ditepian meja, mengunciku dalam kata. Gunting kuku lapuk dan peniti karatan terguncang, sisa kulit arinya berguguran. Masih disudut rak buku, semut merah tersesat jauh, tak mati juga tak pulang. Gigitannyalah pengantar ajal.  Ketakutan tak pernah senyata ini.