Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

Tidak Seperti Itu

Apakah kapas itu ringan? Ataukah bulu angsa? Yang bisa terbang kesana-kemari sesuai kehendak angin. Bahagiakah menjadi biji dandelion? Yang terlihat indah membelah langit sore menuju padang ilalang panjang. Aku kadang ingin menjadi batu. Terdiam dan tertutup rumput gajah. Tak merasa panas tak merasa dingin. Tapi aku bukan batu. Seringkali terlintas dipikiranku untuk menjadi bunga kakao yang dengan mudahnya gugur saat terkena hujan, jatuh ke tanah lalu selesai sudah. Tidak rumit. Tapi aku bukan itu. Bagaimana jika aku sudah bosan menjadi diriku? Siapa lagi yang mau menjadi diriku? Bagaimana jika aku sudah tak mau lagi ini itu? Ah, kadang tertidur sepanjang waktu adalah hal paling baik yang bisa ku temu. Tapi, dunia tidak bekerja seperti itu. Bagaimana jika aku tak sanggup lagi menjadi diriku? Apa yang harus aku lakukan? Aku adalah orang yang bernapas dengan oksigen kan?  Apakah aku akan lari?  Apakah aku pengecut pada dunia ini?  Mungkin Tidak.  Tidak seperti itu....

Bunga merah muda

Musim gugur telah meninggalkan ranting terakhir, menyapu daun-daun kuning kering ke arah selatan. Matahari yang tak lagi hangat menahan kuncup-kuncup mungil dari lebah-lebah madu yang sudah jarang datang. Entah karena mereka telah mati atau mereka hanya telah pergi. Sesudah dingin yang panjang, bunga-bunga merah muda akan mekar bersamaan. Memperlihatkan keindahan tertinggi yang bisa kau pahami. Namun, meski rerumputan telah berganti menjadi permadani serbuk sari, lebah-lebah madu itu tak kunjung datang. Hingga musim gugur kembali datang, tak satupun bunga-bunga merah muda menyelesaikan misinya. Walau kuncup-kuncup tetap ada dan matahari yang tak hangat tetap menahannya, tapi siklus telah terputus. Lebah-lebah madu itu bukan cuma pergi membawa dirinya, tapi juga membawa separuh nyawa bunga-bunga merah muda.

Belantara

kanopi yang lebat membantumu hilang dari silaunya surya daun-daun memberimu napas yang lebih panjang serangga dan burung menemanimu meski dimalam tergelap pelarian yang damai ah ya tak pernah ada cerita pelarian akan berakhir dengan kedamaian maka engkau terus berjalan  menempuh bukit dan punggungan gunung meneguk air dingin

Tidak ada siapa-siapa

Dari malam yang akan menjadi pagi Dari ramai yang akan menjadi sunyi Dari hangat yang akan menjadi tak dikenali Suatu ketika Jalan yang bercabang menghilang seperti camar di tengah lautan Menunjukkan setapak batu yang indah seperti dongeng sedang berkisah Bukankah tidak apa-apa jika kau memutuskan melewatinya? Bernyanyi bersama akasia yang berguguran di tengah sabana Sampai, Di tebing tinggi yang dipenuhi belukar biduri Suara yang lama hilang berbisik pelan sekali Ayo lompat Ayo Kau seperti berhalusinasi Melongok ke dasar lembah Merasa tubuhmu terdorong sesuatu Merasa kakimu melangkah maju Padahal itu hanya dirimu Sedikit lagi, Gemanya semakin menjadi-jadi Memanggilmu kuat sekali Tapi kau tau kau hanya sendiri Ya, Tidak ada siapa-siapa Suara itu Gema itu Itu sebenarnya hanyalah dirimu

Celoteh

Hujan deras yang turun di hati tidak pernah menenggelamkan apapun. Tidak pula membasahi apapun. Kamu tau kenapa? Karena tidak ada apa-apa. Kosong. Angin kencang yang melanda, tidak mampu memporak-porandakan hati. Semua pada tempatnya. Tidak bergeser atau tergeser. Kamu tau kenapa? Karena yang ada hanya ruang. Sepi.  Katanya, kehidupan itu baiknya dua-dua, satu itu sendu. Tapi apa iya? Kenapa?  Katanya, cinta itu kebahagiaan yang penuh perjuangan. Buat apa? Bagaimana? Kamu belum bertemu orang yang tepat. Ah, bukankah tepat atau tidak itu kita yang menentukan? Cinta dan orang yang tepat menurutku dua hal yang berbeda. Karena sejauh ini tak pernah dilanda yang pertama, pilihan kedua terdengar lebih masuk akal. Betul?  Jangan skeptis, toh kita bisa jatuh cinta berulang kali entah dengan orang yang sama atau dengan orang yang berbeda. Tapi susah juga kalau tidak pernah jatuh cinta. Ah iya, kan masih ada logika. Ya, begitulah.