Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Lampu-lampu Jalan

Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Sucralose, Ace-K dan karbondioksida telah bersentuhan dengan udara. Hujan dari sore juga sudah reda. Meja-meja di atas atap sudah dilap. Menu yang dipesan telah siap disantap. Memainkan pita suara hingga menguap. Malam ini adalah malam yang panjang karena syahdunya kelembapan telah bersatu dengan malam sabtu, membuat rindu tak lagi mengganggu. Tanaman hias yang berdebu turut menikmati langit malam yang tak pernah gelap, tak pernah berbintang. Tak ada bintang, tak nampak bulan, tak apa karena tempat ini tak butuh itu semua. Aspal hitamnya, paving trotoarnya, gedung-gedungnya, pohon-pohonnya, kesibukannya akan membuat masalalu menjadi masalalu. Jauh sekali. Ketidakpastian dan keremangan. Kesempatan dan kekecewaan. Kucing jalanan yang lucu. Ditempat ini engkau bisa pergi kapan saja dan kembali kapan saja. Seluas laut, sesempit pembuluh darah. Dimana plastik-plastik licin dan berwarna dipelihara. Menyenangkan!! Lampu-lampu jalan akan dimatikan. Su...

Tidak

Apakah menurutmu malam ini terlalu sunyi untuk dilewati sendiri? Setiap laut memiliki badainya sendiri, begitu juga dirimu. Bertahan ditengah tingginya gelombang mungkin sulit dilakukan, apalagi memutuskan melawan. Ada dua kemungkinan, tenggelam atau selamat hingga ke bibir pantai. Lalu kamu berpikir, jika mengikuti ombak saja bisa baik-baik saja kenapa harus mengambil resiko? Dunia yang kelam selalu menyenangkan, tapi apakah menenangkan? Dan kamu ingin bangun di siang hari, menutup malam sebagai masa lalu tapi bulan, bintang bahkan kegelapan mencibirmu. Cupu. Akankah kau kembali? Atau melangkah pergi? Ini tak semudah itu, katamu. Adakah sesuatu yang mudah di dunia ini? Alasan demi alasan kamu jabarkan, logika dan perasaan kau mainkan. Apakah itu mengubah kenyataan? Aku terluka di masalalu, ujarmu. Aku akan menangis untukmu. Ikut merutuki ketidakadilan waktu. Namun, bisakah kau memaafkan masalalumu? Apakah ini wujud balas dendam? Sampai kapan? Kau terdiam. Tidak akan ada y...

Aku sudah kembali

Aku sudah kembali. Bersama molekul-molekul air yang memukuli aspal hitam, bersama suara petir yang tak terlalu menggelegar. Aku basah kuyup. Tak ada yang ku punya selain badan yang kedinginan. Hidrogen dioksida terus tumpah ruah, menurunkan suhu udara, merendam kaki-kaki tanpa alas kaki. Aku sudah kembali. Melewati genangan coklat muda. Aku menangis, mencoba merubah warnanya dengan air mata namun suspensi air dan lumpur itu seolah telah menjadi larutan. Tangisanku sia-sia. Lalu aku memutuskan untuk kembali, meski banjir dan sampah kali menggores kulit ini. Aku telah kembali. Tak membawa apa-apa selain diri ini. Mimpi yang dulu aku punya, tersuruk jauh di dalam palung samudera. Aku telah kembali. Dengan setangkup rindu pada masa lalu dan berjuta tandan untuk masa depan. Aku sudah kembali. Aku sudah di sini. Tapi kau tidak!

Aku kembali

Masih belum pukul tujuh belas, entah mengapa waktu yang berlalu saat ini seperti wujud dari perlambatan teori relativitas. Aku bergerak maju, sedikit demi sedikit, meninggalkan bekas telapak kaki di pasir kali. Vernonia yang dulu ungu berbunga telah berganti dengan pakis-pakis tinggi, menebar bubuk spora ke udara yang lembab. Aku masih menelusuri jalan setapak, berhati-hati pada alga licin yang menyelimuti tanah. Aku pun harus bergegas, karena malam akan segera datang, menyelimuti hutan. Seharusnya aku tergesa-gesa, tapi nyatanya aku masih dengan perlahan berjalan. Ya, perlahan. Lalu datang elang berbulu putih dan hitam, terbang rendah mengitari tempatku berdiri. Lengkingannya membuatku takjub, bukan takut. Dia terus berputar-putar di atas kepalaku, seolah ingin mengatakan sesuatu namun aku tak mengerti apa. Aku terus memandanginya, tersenyum dan kagum. Elang itu pergi, bersembunyi dari petang yang menjalar, meninggalkanku seorang diri. Seorang diri. Aku tak apa deng...

Waktu

Dan waktu terus-terusan berlalu, tak mengubah apapun selain jarak yang kian menjauh. Dahulu, aku menikmati perjalanan ini, tak peduli kemana dan sampai dimana. Namun pada titik ini aku mulai bertanya-tanya, akan seperti apa rupa jalan di ujung sana. Apakah ada dirimu? Dirinya? Atau seseorang yang baru? Lebih dari semua itu, apakah aku rela melepasmu? Apakah kau rela melepasku? Dan sekali lagi, waktulah yang akan menguji. Waktu tak pernah keliru membuktikan kesungguhan insan, kata-kata hanyalah sepah dan kode membuat gelisah. Lalu bagaimana mungkin diam bisa berarti lain? Ah, aku seperti berbicara pada batu, yang tetap dingin meski aku sudah tersedu-sedu. Waktu memberikan kita sesuatu, dengan berjalannya waktu kita bisa jatuh cinta berkali-kali, entah dengan orang yang berbeda atau dengan orang yang sama. Jadi, jika suatu saat nanti kau temui tambatan hati, jangan pernah bilang padaku karena aku pasti cemburu.

Bulan, kereta malam dan ketidaktahuan

Angin malam begitu dingin, menyapu awan kelabu di langit, menarik ulur cahaya purnama. Aku di satu sisi, tak punya cinta dan di sisi kedua, tak punya nyali. Aku, seluruhnya, adalah hal yang tak terduga. Apa kau pernah melihat kereta malam yang meninggalkan bulan? Itu terjadi, malam ini. Kereta malam terus melaju melawan arah keberadaan rembulan. Namun sewaktu-waktu, jika rindu, kereta malam bisa menengok dahulu. Di sana ada sang bulan yang dengan tenang menina bobokan bintang-bintang. Aku dan angin yang berlalu, masih ingin berlarian bersama, menari di atas kerikil, batu dan pasir. Mendaki puncak-puncak baru hanya untuk mengisi waktu. Malam ini, dalam perjalanan yang bisu, aku tak tau. Aku tak tau. Jadi, bisakah kau memberi tau ku?

Anggap aku sang bulan

Bulan lalu aku lupa menuliskan sesuatu disini, mungkin karena bulan disini tak seindah bulan disana atau bulan sekarang tak semenarik bulan yang dulu, padahal bulan dari dulu sama saja. Bulat, abu-abu dan bopeng-bopeng. Tapi kenapa bisa bulan begitu mempesona saat dilihat dari tempat yang berbeda, sebut saja bumi. Bulan, yang abu-abu, bisa serupa batu bata, warnanya merah, kadang kuning, malahan pujangga bilang keemasan. Kenapa ya? Kalau kata anak IPA, bulan memantulkan sinar matahari, bulan menerima semua panjang gelombang matahari yang sampai padanya lalu memantulkannya kembali, bahkan lebih indah dari sinar sebuah bintang yang menjadi pusat tata surya kita. Kenapa lebih indah? Karena bulan hadir saat malam yang gulita, saat manusia meratapi kesunyiannya, saat angin lebih dingin dari biasanya. Matahari terlalu cerah, matahari hadir setiap hari tak pernah absen. Tak sama dengan bulan yang hanya bisa dilihat penuh pada malam kelimabelas. Nah tahu kan, pertemuan yang jarang adalah seni...

Kode

Kau tau kode? Biasanya digunakan untuk menyampaikan pesan. Tapi, kode-kode jaman sekarang semakin aneh cara penyampaiannya. Meski aku pernah ikut Pramuka dan belajar beberapa kode pesan -atau sandi-, aku tetap tidak bisa mencerna kode masa kini. Jika orang bilang cowok itu tidak peka maka mungkin aku bisa dikategorikan ke dalamnya. Masalahnya kode-kode itu disebar di segala tempat seperti jala nelayan yang dilemparkan ke lautan, nelayan itu menulis besar-besar di jalannya 'Ikan Tuna', tapi mana tau ikan gabus tulisan itu, mana paham si ubur-ubur, selagi mereka berenang dan kurang gesit tertangkaplah semuanya. Dan lagi, dikiranya ikan tuna bisa membaca? Ah nelayan ini kadang suka bercanda. Lalu aku berpikir, jangan-jangan tulisanku ini termasuk kode masa kini. Yah kan, gagal paham. Aku gagal paham dunia perkodean. Hal ini lebih rumit dari masalah reklamasi pantai. Lebih susah dari masalah menentukan jadwal motor len siapa esok hari. Sebenarnya, sejak kapan kode-kode ini mer...

Malam ini

Malam ini, lihatlah ke atas pada bulan yang penuh dan berwarna merah bata. Lalu, (jika kau ada disampingku) akan kuceritakan padamu tentang purnama yang juga berwarna merah bata terpantul sempurna di atas laut yang beriak pelan, membentuk jalanan setapak bercahaya yang aku sebut mangata. Indah sekali, andai kau melihatnya, kau harus melihatnya. Suara debur ombak, air yang gelap dengan kelip-kelip bintang yang gemerlap. Bahkan, kau bisa melihat dengan jelas galaksi bima sakti. (Andai kau ada di sini) Akan kulanjutkan ceritaku mengenai pucuk-pucuk pohon di deretan bukit dan kabut-kabut putih yang seumpama lukisan saat bermandikan cahaya bulan, kau pasti akan takjub. Aku belum selesai, angin yang menerpa wajahmu begitu sendu, seolah membawamu ke dimensi lain dari ruang waktu. Dan akan selalu mengingat itu, sama sepertiku. Bulan di sini memang sama dengan bulan di sana, tapi mengapa rasanya berbeda? Aku mungkin akan terus bercerita jika kau tidak kemana-kemana.

....

Setiap bangunan menyimpan sebuah kenangan. Ia adalah saksi bisu betapa cepatnya manusia melewati waktu, dimana kisah mereka berceceran di lantai, tembok, kusen dan pintu. Setiap kenangan bersemayam dalam relung ruang yang paling dalam, namun bisa terjaga begitu saja saat seseorang mengunjunginya. Kenangan menjadi palu, mengetuk-ngetuk hati di masalalu. Bangunan yang dari dulu begitu seolah menjadi kelabu, menyisakan langit-langit gelap tanpa lampu. Sang waktu seolah tau, dia melesat cepat membawamu pada kenyataan baru, mengenalkan hal-hal asing yang lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan lambat laun berubah kembali menjadi kenangan. Setiap kenangan tersimpan di sebuah bangunan. Menyisakan cat yang terkelupas dan sarang laba-laba. Tak ada saksi yang perlu dicari, karena dia akan dan semoga tetap kokoh berdiri.

Lilin kecil

Malam ini seperti tak berujung, setiap kelipnya membuatku tertahan, sedikit terbawa suasana. Malam ini seperti sebuah perjalanan, yang membuatku tertawa dan menertawai sebuah tangisan. Teruntuk lilin-lilin kecil yang pernah menerangi malamku dan meninggalkanku di tengah kegelapan, terima kasih atas waktu dan sumbu yang telah terbakar demi menghabiskan kesunyian bersamaku. Meskipun akhirnya sinarmu berlalu, namun kehangatanmu makin memperkokoh hatiku. Wahai api yang tak kunjung membara, lilin-lilin kecil ini terus berlarian menghampiriku. Jika satu mati, maka akan menyala satu lagi, begitu terus berganti. Aku gusar jika pagi tergesa datang, dan api mu tak kunjung ku temukan maka bisa jadi lilin-lilin kecil itu yang akan menggantikanmu. Wahai lilin-lilin kecil, teruslah begitu. Berpura-puralah seolah malam baru saja dimulai sehingga kebersamaan kita akan terasa lama, temani aku hingga api itu benar-benar ada. Ah ya, aku lupa. Ternyata api itu aku sendiri. Mungkin saja akulah yang...

Sebuku Rindu

Ditanganku, ada sebuku rindu untukmu. Mengusik malam yang sunyi dan meriuhkan kerisauan. Engkau yang ada di situ, lampu-lampu jalan telah menang mengalahkan bintang-bintang, menjadikan bulan bersinar merah sendirian. Adakah kau menyadarinya? Untukmu yang ada di situ, rinduku ini entah dari mana, tiba-tiba saja merasukiku. Membuat hariku yang cerah menjadi kelabu. Membuat hariku yang hambar menjadi kepahitan. Telah lama waktu berlalu, hampir habis masa menunggu tapi tak sedikit pun ku lihat dirimu. Untukmu yang ada di situ, adakah kau merindukanku? Dan tak tau mengapa, aku tak pandai menuliskan rindu padamu.

Penghabisan

Seperti permukaan daun kering yang telah lama menguning, seperti sisa-sisa bayangan saat petang menjelang, seperti keindahan matahari yang ditelan lautan, itulah sebuah penghabisan. Akhir dari segala kerupawanan perasaan. Mendayu-dayu melantukannya tak akan merubah apa-apa, menggubahnya menjadi sajak berirama cinta tak mampu menahannya. Karena kepergian adalah kepergian. Bukan karena rasa yang mati, tapi justru sebaliknya. Perasaan itu terlalu kuat untuk diungkapkan, terlalu dahsyat untuk diwujudkan dan mungkin memang ada sedikit sifat pecundang sehingga menyembunyikannya dalam-dalam adalah sebuah pilihan. Aku menitipkan rindu pada para angin yang berlalu, namun terkadang entah telingamu atau angin itu, telah merubah merindukamu menjadi tinggalkanku. Aduh kasihan, seperti cerita lama yang lakonnya tidak bisa bersama meski sejatinya memendam cinta. Malam ini, bisa jadi salam terakhirku -karen terlalu lelah menunggumu- padamu yang akan kutitipkan pada kunang-kunang sehingga meski gelap...

Pergi bersama

Pergi bersama, tersesat berdua. Saling mendengar cerita dan cara pandang terhadap dunia. Aku sudah bukan seorang pengelana. Aku sedang menyiangi ilalang, memasang tatakan batu, membuat jalan baru. Jalan menuju tempat yang tak kutau. Tempat yang menjadi tujuan. Tujuan yang ketika sampai aku tak bisa kembali, meski jalan yang ku buat telah rapi karena jalan ini hanyalah jalan untuk pergi, bukan jalan untuk kembali. Kau ingin bertemu? Atau sekedar mengunjungiku? Sebaiknya jangan. Karena kau akan ku anggap angin lalu. Aku tak perlu ditemui, dikunjungi. Aku butuh ditemani. Rasanya sekarang juga aku ingin meneriaki bulan, menyumpahi bintang-bintang lalu mengobrol santai dengan kegelapan. Kalau kau pikir aku gila maka jangan memikirkanku. Tidak usah memaksakan dirimu. Segeralah berlalu, tak perlu pura-pura mengerti. Basi. Tak pernah bertemu. Itulah aku dan kamu. Jadi kutuliskan ini agar kau tak usah menemuiku, karena aku tak butuh ditemui. Aku butuh ditemani. Dan jangan merasa kamu itu...

Layang-layang yang tak pernah terbang

Aku telah mengejarmu seperti api Membabi buta membakar daun-daun yang bersemi Bahkan jejakmu pun tak ku temui, meski telah ku telusuri tempatmu berdiri Engkau terus menyayat-nyayat hati ini Membiarkan aku bergumam, membelai layang-layang yang tak pernah terbang Mengitari matahari dengan perlahan Melukaiku dengan tajamnya ilalang Syahdu bersyair, bahwa hidup ini harus berakhir Oksigen yang murni, berhembuslah kau di hati ini Lewatlah disetiap ruas nadi, merasuk ke dalam inti Rubahlah semua senyawa ini Agar aku tau bagaimana hasilnya Agar aku mau menerima partikelnya Tapi jangan pernah menyalahkanku Jika dirimu habis terbakar olehku Dan malam pun kian menikam

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.