Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2018

Sayang

Sayang, ku lihat bulan di ujung selatan langit malam pendarnya pudar seperti dirimu padaku Entah lensa mataku yang tak mau berakomodasi atau memang bahumu yang berlalu pergi bisakah aku mulai mencari lagi rasanya percuma bergumam pada awan jikalau telingamu telah terkubur dalam lautan. Sayang, perkotaan ini kadang membosankan kuharap karbon monooksida tidak membuatmu kesakitan karena deretan mobil dan motor berdempetan atau kecemasan yang menggilakan dan kelezatan menu-menu kekinian ah, mungkin bagimu itu semua adalah kebahagiaan.  Sayang, hidup ini sudah mulai menghambar tak ada rasa pasti yang tercecap aku yang pahit kau yang manis Sayang, prosa ini memuakkan seperti dirimu persis. 

Romanticism

Jika hujan telah menderu-deru dan rindu-rindu berguguran dari hatiku, maka pada petang mana hatimu akan tergugu..  Meraba setiap sayatan yang mengering, menimang kepedihan yang usai, menghela gambaran ketakutan.  Jika dirimu seumpama langit yang akan bersinar sangat cerah dan berdarah biru maka hanya pada malam harilah aku bisa memelukmu, membuat bintang-bintangmu berjatuhan ke lautan yang hitam.  Akan kubuatkan jalanan bercahaya agar kau tidak lupa kemana harus mengeluh. Ku pasangi lentera-lentera kuning pada dermaga agar angin meniupnya, seolah melambai-lambai padamu, seolah aku memanggil-manggil perahumu.  Lemparkan sauhmu wahai kekasihku, saatnya lautan dan daratan bertemu..  sebelum badai memisahkanmu sebelum fajar menyamarkan lenteraku sebelum itu berdoalah dulu lalu sebut namaku ...