Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

Suatu masa di sudut ganglia

Suatu masa di sudut ganglia. Kok jam segini belum tidur? Iya, gak bisa tidur nih. Gak bisa tidur apa gak mau tidur? Haha, tau aja. Emangnya kenapa? Gak tau, males aja. Kamu tau kan itu gak baik buat kesehatan? Taulah, trus gimana lagi. Eh tapi aku tidur cukup kok. Kamu jadi kelelawar? Yah gitu deh, kelelawar diantara manusia 'normal'. Kamu gak nyuci baju? Itu pertanyaan apaan.. Habis aku bingung mau nanya apa. Em, kita diskusi aja. Eh kamu serius jam segini masih nyanggong depan laptop, gak takut gitu orang-orang pada mikir aneh-aneh? So what?? Itu pikiran mereka, bukan pikiran gue. Pikiran mereka gak akan ngebunuh kita, santai sob. Tapi kan pikiran mempengaruhi perasaan, perasaan mempengaruhi sikap! Jadi maksudmu sikap mereka jadi 'beda' gitu? whateverlah ya, sikap mereka mau gimana ya urusan mereka. Silahkan bersikap semaumu asal gak ganggu aku aja. Ayolah, ngapain mikirin orang lain yang cuma mikir jelek tentang kita?! Aku cuma pingin k...

Suatu masa di sudut hatinya

Baiklah, bisa kita mulai lagi? Oke, eh sebentar, aku boleh bertanya sesuatu? Apa? Kenapa kau terus bertanya padaku? Jadi kau tak mengerti kenapa aku terus bertanya padamu? Belum, coba jelaskan. Aku terus bertanya agar kau tidak gila, paham? Maksudnya? Ingat, kau tak pernah bercerita kepada siapapun tentang hatimu. Kalau aku tidak bertanya kau mungkin akan bicara sendiri dan menjadi gila. Harusnya kau berterima kasih kepadaku! Oke, terima kasih. Bagaimana harimu hari ini? Standart. Apakah kau bertemu dengan cintamu? Cinta apa? Aku ini hatimu, bukan otakmu! Ya, lalu? Berbicalah dari hati ke hati, kita tidak sedang wawancara kerja!  Aku tak pernah melakukannya. Yang mana? Dua-duanya. Bagaimana perasaanmu sekarang? Gak oke. Sudahlah, aku muak dengan pertanyaan-pertanyaanmu. Tau tidak, masih banyak masalah yang harus kuhadapi, yang jauh lebih penting dari masalah hati. Percakapan ini tak berguna. Suatu saat nanti kau akan mencariku. Oke, bisa kau pergi sekar...

Suatu masa disudut hati

Suatu masa disudut hati. Siapakah orang yang paling kamu cintai? Diriku sendiri, tapi tetap saja aku tak pernah bisa terlalu mencintai sesuatu, belum pernah, bahkan untuk diriku sendiri. Orang tua? Ya, tentu saja mereka adalah segalanya, lebih dari sekedar cinta. Buktinya? Mau bukti apa? Sudah kubilang mereka segalanya, lebih dari sekedar cinta. Bahkan sesungguhnya cinta itu tak pernah bisa dibuktikan dengan jelas, parameternya tidak pernah akurat, lalu bukti apalagi yang kau minta? Bisa kita anggap ini retoris? Bukankah tidak ada orang di atas bumi ini yang tak pernah jatuh cinta? Ya, kau benar. Termasuk dirimu? Termasuk diriku. Seperti apa cintamu itu? Bisa kita ganti pertanyaan lain yang lebih berbobot? Jadi pertanyaan barusan kurang berbobot? Ya. Bisa kau beri contoh satu pertanyaan yang berbobot? Kenapa pada monokotil keberadaan sitokinin diabaikan pada pembentukan kalus? Ini bukan sidang skripsi, oke? Oke, tapi pertanyaan tadi tak pernah muncul pada ...

Bintang-bintang terdiam

Malam ini agaknya sedikit mendung, di balik kelabunya malam bintang mengutuk awan. "Oh, sudah panas-panas aku menanti, sudah seharian aku terpanggang matahari, tapi saat petang datang mendung menggantung menyelubungi pantulan cahayaku yang indah." "Wahai mendung-mendung hitam, bergeserlah sedikit, engkau menutupi kami, menutupi kerlip kecil cahaya kami dari pandangan orang-orang di bumi?" Mendung hitam diam sejenak, lalu menjawab, "Sudah berapa ribu hari yang kalian lewati dengan memandang bumi, apakah kalian tak jemu?" "Bagaimana mungkin kami jemu, jika selalu ada pengagum dalam setiap malam berbintang?" "Bukankah itu terjadi sudah dulu sekali? Apakah kau tak melihat kerlap-kerlip warna-warni lebih semarak menghias bumi? Mereka menyebutnya lampu, lampu taman, lampu jalan, lampu pusat perbelanjaan, lampu apartemen, lampu disko. Mereka memiliki segala jenis lampu yang memancarkan segala jenis cahaya, mereka tak perlu lagi memanda...

Nyanyian Sang Flamboyan

Hujan itu, tidak turun satu-satu ke hatimu Ia tumpah dari langit menghantam tanah, membentuk kubangan yang bisu Airnya membasahi kelopak-kelopak bunga flamboyan Meski berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan air itu membasuhnya Tak sedikitpun warna merah luntur dari kelopak indahnya Tidak, sang flamboyan tak pernah gusar Karena dia tau bukan air hujan yang akan merusak kelopaknya, sama sekali bukan Sang flamboyan hanya menunggu waktu, waktu saat dia gugur kepastian yang tidak bisa ditawar, sepertinya hatimu juga begitu Hujan masih membasahi malam, menyamarkan purnama yang bundar dengarlah, sekali ini dengarkanlah nyanyian sang flamboyan kelopaknya yang merah jatuh ke kubangan yang bisu merangkaikan syair yang menyayat kalbu, bisakah kau merasakannya? bisa?