Seperti
hujan yang jatuh ke tanah
Seperti mentari yang
menyinari daun-daun kering
Seperti rembulan yang
setia pada lautan
Seperti itulah
seharusnya cinta...
Sore ini krisan-krisan
putih bermekaran, pohonnya ditanam dalam pot-pot plastik hitam kecil yang terjajar
rapi di pekarangan. Riuh rendah suara gerimis semakin menyemarakkan sore itu.
Krisan, bunga bermahkota banyak dengan benang sari-benang sari kerdil pada
pusatnya, bunga yang indah meski tak seharum bunga mawar.
Maka terbanglah
kupu-kupu biru ke pekarangan itu, ingin meminum barang seteguk madu. Sang
kupu-kupu biru terpana dengan keindahan bunga krisan lalu sang kupu-kupu biru
pun hinggap pada mahkotanya yang putih bersih.
“Wahai bunga krisan yang bermekaran dibawah langit senja, bolehkah diriku meminum madu dari mahkotamu yang mulia ini?”
Kelopak krisan
bergoyang perlahan tertiup angin sore, juga menggoyangkan kupu-kupu biru yang
hinggap pada bunga krisan yang indah. Namun krisan tak menjawab. Kupu-kupu biru
pun bertanya sekali lagi,
“Wahai bunga yang diciptakan seindah embun pagi, bolehkah diriku ini meminta barang seteguk madu dari mahkotamu yang putih lagi berbahagia?”
Dan krisan tetap diam,
bunganya sekali lagi bergoyang ditiup semilir angin sore yang lembut. Kupu-kupu
biru menggerutu dalam hati,
Alangkah sombongnya dirimu wahai krisan, pantas saja tak ada satu tanaman pun yang mampu tumbuh di bawah naunganmu
Lalu kupu-kupu biru itu
pun pergi, terbang menembus gerimis menuju langit sore yang mendung, semendung
hatinya. Mungkin kupu-kupu biru tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, mungkin
kupu-kupu biru tidak akan pernah tau atau bahkan sudah tak mau tau.
Bunga krisan yang indah
itu bisu,
lalu tangkainya
bergoyang perlahan tertiup angin.
Comments
Post a Comment