Engkau menyembunyikan hujan, di atas awan-awan putih. Melabur mendung dengan pelangi. Mengatakan pada semua orang bahwa kemarau kali ini lama sekali. Alasanmu hujan hanya menghambat aspal jalanan memuai, menumpuk mobil dan motor di jalur kanan dan basah itu menyebalkan.
Engkau pandangi sungai besar yang arusnya hampir tak terlihat, memaki hujan karena menimbulkan warna cokelat susu persis seperti seruputanmu setiap malam minggu.
Engkau bilang hujan itu sia-sia karena rambut jadi lepek, kaki jadi mengkerut, dan berlumpur. Jelek. Panaslah juaranya, kalau kepanasan masuk saja ruangan berpendingin.
Lalu hujan turun dengan deras, menyapu aspal dari debu dan sisa bungkus permen.
Engkau pandangi sungai besar yang arusnya hampir tak terlihat, memaki hujan karena menimbulkan warna cokelat susu persis seperti seruputanmu setiap malam minggu.
Engkau bilang hujan itu sia-sia karena rambut jadi lepek, kaki jadi mengkerut, dan berlumpur. Jelek. Panaslah juaranya, kalau kepanasan masuk saja ruangan berpendingin.
Lalu hujan turun dengan deras, menyapu aspal dari debu dan sisa bungkus permen.
Comments
Post a Comment