Sayang, ku lihat bulan di ujung selatan langit malam
pendarnya pudar seperti dirimu padaku
Entah lensa mataku yang tak mau berakomodasi atau memang bahumu yang berlalu pergi
bisakah aku mulai mencari lagi
rasanya percuma bergumam pada awan jikalau telingamu telah terkubur dalam lautan.
Sayang, perkotaan ini kadang membosankan
kuharap karbon monooksida tidak membuatmu kesakitan
karena deretan mobil dan motor berdempetan
atau kecemasan yang menggilakan
dan kelezatan menu-menu kekinian
ah, mungkin bagimu itu semua adalah kebahagiaan.
Sayang, hidup ini sudah mulai menghambar
tak ada rasa pasti yang tercecap
aku yang pahit
kau yang manis
Sayang, prosa ini memuakkan
seperti dirimu
persis.
Comments
Post a Comment