Aku melewatkan bulan kedua dengan tak ingat apa-apa, karena melawan hari-hari biasa saja seperti sudah tak bernyawa. Bagai mumi yang mati tapi tak mati, membakar kertas-kertas mantra.
Bahwa tua adalah jalan yang sudah diduga sebelumnya, entah puluhan kali berapa bulan ber-revolusi, layaknya sepeda yang lama dikayuh, jauh.
Hujan, banjir, kekeringan, kebakaran, hujan lagi, banjir lagi, terus begitu. Musim-musim tertawa dan ditertawakan, seru dan membosankan.
Kedinginan di sepertiga malam, hanya untuk menarik selimut dan kembali terpejam, karena toh tidur juga kebutuhan. Meremehkan.
Hidup itu tidak pernah panjang, karena sebagian besarnya disia-siakan. Setipe kalau sadar kan lumayan.
Bulan ketiga sudah seminggu saja, aku sih tak apa, tapi ternyata tak bisa seenaknya soalnya datang kedunia bukan dari sulapan topi kelinci.
Comments
Post a Comment