Skip to main content

Flamboyan

Perjalanan ini dimulai saat bunga-bunga flamboyan bermekaran, memperlihatkan rantingnya yang kering dan polong-polong hitam panjang berserakan di tepi jalan. Musim hujan belum datang memang, air akan berebut masuk tanah saat mahkota-mahkota merah menyala itu melapisi rumput kering, seumpama permadani alam yang indah tersulam.
Cerita ini telah diplot jauh-jauh hari, bulan bahkan terbilang tahun. Alurnya memang belum jelas, tapi temanya telah lama dituliskan, diucapkan dan sekarang diwujudkan. Kisah ini baru memasuki prolog dan aku pun tak tau bagaimana epilognya.
Mahkota, kelopak dan tangkainya gugur, digantikan pucuk-pucuk hijau flamboyan. Daunnya yang kecil akan melebar lalu berwarna hijau tua, kuning dan gugur kembali. Buga flamboyan kuncup dan bermekaran menggantinya, begitu terus berulang. Maka hidup adalah siklus yang tak terputus. Tak perlu ada tangis di setiap musim gugur, tak perlu menyembunyikan senyuman di saat musim semi datang. Ikutilah harmoni alam, berusahalah menjadi pucuk terbaik, bunga tertegar dan polong yang iklhas.

Musim hujan akan datang sayang, siapkan payungmu, mari berjalan melewati senja bergerimis tipis. Momen ini terlalu romantis untuk tidak dinikmati. Keluarlah meskipun sendiri, meskipun diluar terlihat sunyi, dengarkan baik-baik senja ini, matahari sedang bernyanyi menyambut malam yang akan mengganti.


Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.