Skip to main content

Kelak engkau akan tau

Daun-daun jambu air mulai mengering, berwarna coklat lalu jatuh ke tanah. Menutupi tanah kapur dan semut-semut kecil, mengotori halaman belakang. Engkau memandangnya sambil lalu, mencoba memahami bahwa hidup ini tak pernah keliru, menempatkan apa saja ditempatinya. Menghembuskan angin badai bukan sesukanya. Jadi pasti ada, ada sesuatu yang kelak sekali baru engkau tau.
Hatimu keras lagi kaku, bukan terbentuk dari batu, tapi karena engkau telah disakiti berkali-kali, sehingga layaknya kulit kaki yang menebal. Sebenarnya sama lukanya tapi engkau tidak asing rasanya. Maka setiap luka itu adalah anugrah, yang menjadikannya mengerti bahwa melukai bukanlah tindakan sejati.
Berdiri, engkau sekuat tardigrada yang mampu melewati ini. Hatimu akan terlahir kembali, hati yang jujur, kuat dan menerima. Hati paling indah yang pernah engkau punya, karena dengan begitulah aku tau engkaulah pemenangnya.
Jangan kalah, engkau tidak salah. Tersenyumlah, buat hidupmu lebih berharga..
Daun-daun kering itu kini basah, diguyur hujan gerimis di sore yang haru.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.