Seperti permukaan daun kering yang telah lama menguning, seperti sisa-sisa bayangan saat petang menjelang, seperti keindahan matahari yang ditelan lautan, itulah sebuah penghabisan. Akhir dari segala kerupawanan perasaan. Mendayu-dayu melantukannya tak akan merubah apa-apa, menggubahnya menjadi sajak berirama cinta tak mampu menahannya. Karena kepergian adalah kepergian. Bukan karena rasa yang mati, tapi justru sebaliknya. Perasaan itu terlalu kuat untuk diungkapkan, terlalu dahsyat untuk diwujudkan dan mungkin memang ada sedikit sifat pecundang sehingga menyembunyikannya dalam-dalam adalah sebuah pilihan.
Aku menitipkan rindu pada para angin yang berlalu, namun terkadang entah telingamu atau angin itu, telah merubah merindukamu menjadi tinggalkanku. Aduh kasihan, seperti cerita lama yang lakonnya tidak bisa bersama meski sejatinya memendam cinta.
Malam ini, bisa jadi salam terakhirku -karen terlalu lelah menunggumu- padamu yang akan kutitipkan pada kunang-kunang sehingga meski gelap pekat kau akan tetap bisa melihatnya.
Jika sudah terlihat, balas ya.
Aku menitipkan rindu pada para angin yang berlalu, namun terkadang entah telingamu atau angin itu, telah merubah merindukamu menjadi tinggalkanku. Aduh kasihan, seperti cerita lama yang lakonnya tidak bisa bersama meski sejatinya memendam cinta.
Malam ini, bisa jadi salam terakhirku -karen terlalu lelah menunggumu- padamu yang akan kutitipkan pada kunang-kunang sehingga meski gelap pekat kau akan tetap bisa melihatnya.
Jika sudah terlihat, balas ya.
Comments
Post a Comment