Skip to main content

Anggap aku sang bulan

Bulan lalu aku lupa menuliskan sesuatu disini, mungkin karena bulan disini tak seindah bulan disana atau bulan sekarang tak semenarik bulan yang dulu, padahal bulan dari dulu sama saja. Bulat, abu-abu dan bopeng-bopeng. Tapi kenapa bisa bulan begitu mempesona saat dilihat dari tempat yang berbeda, sebut saja bumi. Bulan, yang abu-abu, bisa serupa batu bata, warnanya merah, kadang kuning, malahan pujangga bilang keemasan. Kenapa ya? Kalau kata anak IPA, bulan memantulkan sinar matahari, bulan menerima semua panjang gelombang matahari yang sampai padanya lalu memantulkannya kembali, bahkan lebih indah dari sinar sebuah bintang yang menjadi pusat tata surya kita. Kenapa lebih indah? Karena bulan hadir saat malam yang gulita, saat manusia meratapi kesunyiannya, saat angin lebih dingin dari biasanya. Matahari terlalu cerah, matahari hadir setiap hari tak pernah absen. Tak sama dengan bulan yang hanya bisa dilihat penuh pada malam kelimabelas. Nah tahu kan, pertemuan yang jarang adalah seni lain dari keindahan. Ia memberikan jeda untuk sebuah masa yang bernama rindu, menguatkan akar yang menjalar di bilik hati. Jadi anggap saja aku ini bulan, yang bisa kau jumpai cuma sekali-sekali, itu pun jika kamu tidak lupa menengok langit di malam hari.

Ps. Meskipun kau anggap aku bulan tapi aku tidak bulat, abu-abu dan bopeng-bopeng.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.