Bulan lalu aku lupa menuliskan sesuatu disini, mungkin karena bulan disini tak seindah bulan disana atau bulan sekarang tak semenarik bulan yang dulu, padahal bulan dari dulu sama saja. Bulat, abu-abu dan bopeng-bopeng. Tapi kenapa bisa bulan begitu mempesona saat dilihat dari tempat yang berbeda, sebut saja bumi. Bulan, yang abu-abu, bisa serupa batu bata, warnanya merah, kadang kuning, malahan pujangga bilang keemasan. Kenapa ya? Kalau kata anak IPA, bulan memantulkan sinar matahari, bulan menerima semua panjang gelombang matahari yang sampai padanya lalu memantulkannya kembali, bahkan lebih indah dari sinar sebuah bintang yang menjadi pusat tata surya kita. Kenapa lebih indah? Karena bulan hadir saat malam yang gulita, saat manusia meratapi kesunyiannya, saat angin lebih dingin dari biasanya. Matahari terlalu cerah, matahari hadir setiap hari tak pernah absen. Tak sama dengan bulan yang hanya bisa dilihat penuh pada malam kelimabelas. Nah tahu kan, pertemuan yang jarang adalah seni lain dari keindahan. Ia memberikan jeda untuk sebuah masa yang bernama rindu, menguatkan akar yang menjalar di bilik hati. Jadi anggap saja aku ini bulan, yang bisa kau jumpai cuma sekali-sekali, itu pun jika kamu tidak lupa menengok langit di malam hari.
Ps. Meskipun kau anggap aku bulan tapi aku tidak bulat, abu-abu dan bopeng-bopeng.
Comments
Post a Comment