Skip to main content

Lampu-lampu Jalan

Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Sucralose, Ace-K dan karbondioksida telah bersentuhan dengan udara. Hujan dari sore juga sudah reda. Meja-meja di atas atap sudah dilap. Menu yang dipesan telah siap disantap. Memainkan pita suara hingga menguap.
Malam ini adalah malam yang panjang karena syahdunya kelembapan telah bersatu dengan malam sabtu, membuat rindu tak lagi mengganggu. Tanaman hias yang berdebu turut menikmati langit malam yang tak pernah gelap, tak pernah berbintang. Tak ada bintang, tak nampak bulan, tak apa karena tempat ini tak butuh itu semua. Aspal hitamnya, paving trotoarnya, gedung-gedungnya, pohon-pohonnya, kesibukannya akan membuat masalalu menjadi masalalu. Jauh sekali. Ketidakpastian dan keremangan. Kesempatan dan kekecewaan. Kucing jalanan yang lucu.
Ditempat ini engkau bisa pergi kapan saja dan kembali kapan saja. Seluas laut, sesempit pembuluh darah. Dimana plastik-plastik licin dan berwarna dipelihara. Menyenangkan!!
Lampu-lampu jalan akan dimatikan. Sucralose, Ace-K dan karbondioksida telah bersentuhan dengan asam klorida. Hujan baru saja turun, membasahi meja-meja di atap, tanaman hias, aspal hitam, paving trotoar, gedung-gedung, pohon-pohon dan kucing jalanan. Ah ya, hujan juga membasahi lampu-lampu jalan.
Apa engkau lupa membawa payung?


Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.