Skip to main content

Kita bermimpi

Malam ini mari kita bermimpi. Memupuk imajinasi agar kita terbang sejajar dengan para bintang. Berlarian di atas bulan. Tenang saja, kali ini mimpi kita sangat indah. Bintang dan bulan bukan cuma batu yang gompal disana-sini, lebih dari itu mereka tampak bercahaya dan lucu. Kau tak suka lucu? Jangan protes karena hanya malam ini saja kita mengarungi galaksi bersama. Sebelum itu pejamkanlah matamu, tidurlah yang tenang, pakai selimutmu dan jangan lupa berdoa.

Aku sudah ngantuk sekali. Apakah kau berdoa agar kita bertemu dalam mimpi? Benarkah? Kenapa? Kau ini pecundang sekali.

Jadi kita mulai dari mana? Apakah kita bertemu di atas sana atau dimana? Baiklah kita bertemu di atas awan cumulonimbus yang putihnya tak menyala karena gulita, dari situ kita terus terbang melewati stratosfer, tenang ini mimpi spesial kita jadi tak perlu baju astronot atau takut tak bisa bernapas karena malam ini kita bebas kemana saja, karena ini mimpi kita. Setelah melewati atmosfer mungkin kita akan sedikit kedinginan, aku sengaja agar kau menyesal karena tak membawa jaket. Sudah, lupakan saja. Lihat betapa indahnya bima sakti untuk kita. Entah bagaimana, kita telah tiba di bulan, memandangi bumi, mars, venus, matahari dan rigel. Kau suka sekali melihat planet mars, entah kenapa. Kenapa? Kau tak suka mars? Anggap saja suka. Atau kau lebih suka jupiter? Ya sudah. Kau suka sekali melihat planet jupiter. Kalau aku lebih suka planet venus. Sebenarnya aku ingin mendekati sirius, tapi terlalu jauh dan kau pasti malas diajak kesana jadi aku cukup puas melihat rigel. Indah ya. Kita menikmatinya sambil bercerita, lebih banyak tertawa dan menganga sih. Aku juga sempat menunjukkan padamu cygnus, lyra dan aquila. Mimpi ini memang luar biasa.

Sudah hampir pagi, sebentar lagi alarmmu akan berdering dan kau akan terbangun dari tidurmu. Saatnya kita kembali..

Tapi

Alarmku tak pernah berdering. Aku tak pernah terbangun dari mimpi ini. Aku tertinggal disini, di dunia imajinasi...

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.