Skip to main content

Puisi

Bagiku rangkaian kata di blog ini adalah luapan amarahku, ke-kesalanku, ke-absurd-an ku dan helaian-helaian salamku untukmu. Aku tak berniat menulis puisi, tapi jika memang ingin menulis kenapa tak sekalian yang presisi??!

Seperti malam ini, kau kira malam ini sama dengan malam-malam sebelumnya? Kau pikir tidak apa melewatkannya begitu saja? Kau ini..

Dari sekian sisi yang ku miliki, berimajinasi adalah keahlianku yang paling mumpuni. Aku bisa merubahmu menjadi apa saja; air, oksigen, elang, kelipuk, ilalang, bintang, laut bahkan sesuatu yang tak ku sebut. Aku pun sanggup membawamu kemana saja; palung, taman, cumolonimbus, luar angkasa, jalan tol, kebun teh, atap rumah, bahkan ke tempat yang tak kasat.

Menurutmu aku sedang menulis puisi? Bukan, bukan. Curahan hati? Tidak, tidak. Aku hanya sedang berimajinasi, karena keahlian juga butuh latihan. Aha!
Yah, bersabarlah, mau bagaimana lagi, aku memang begini..

Selamat hari puisi, hari yang sama dengan hari-hari saat kau tak disini atau kau tak pernah disini? Setidaknya hari ini hari jum'at. Seperti itu...


Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.