Pasir pantai terbawa arus laut, menempel pada kaki-kaki telanjang. Angin yang sepoi membelai dagumu, menemani terik matahari. Kau menghela napas, merasakan syukur yang sangat ketika melihat ujung lautan. Tersenyum pada kapal-kapal yang tak dikenal.
Lalu dalam hati, dengan segala keindahan ini apa yang sebenarnya kau cari? Kekasih hati? Keridhoan ilahi? Tidak, kau tidak tau jawabannya. Hidup ini terlalu penuh nafsu untuk sesederhana itu. Hatimu menjadi kecut, tapi untuk apa saat secuil surga ada di depan mata?
Maka renungan itu selalu cepat berlalu, secepat camar yang terbang dari ranting pohon bakau tua. Mengepakkan sayap mengikuti kawanannya.
Riak ombak menenggelamkan telapak kaki, membasuh kulit yang kering. Sekali lagi sebelum pergi melompat ke dermaga kau hayati birunya samudera. Jika ini semua tak ada, lalu apa?
...
Lalu dalam hati, dengan segala keindahan ini apa yang sebenarnya kau cari? Kekasih hati? Keridhoan ilahi? Tidak, kau tidak tau jawabannya. Hidup ini terlalu penuh nafsu untuk sesederhana itu. Hatimu menjadi kecut, tapi untuk apa saat secuil surga ada di depan mata?
Maka renungan itu selalu cepat berlalu, secepat camar yang terbang dari ranting pohon bakau tua. Mengepakkan sayap mengikuti kawanannya.
Riak ombak menenggelamkan telapak kaki, membasuh kulit yang kering. Sekali lagi sebelum pergi melompat ke dermaga kau hayati birunya samudera. Jika ini semua tak ada, lalu apa?
...
Comments
Post a Comment