Skip to main content

Gabut

Siang ini aku melihat danau saat keluar tol. Banyak pepohonan yang berjaga disampingnya, sejuk. Pengennya sih duduk disitu, tapi pasti banyak yang bisik-bisik gini 'Lapo se wong iku, kurang gawean ta?'*), berisik woey! Heran deh. Eh itu cuma pikiranku ding. Tapi kalau mau beneran duduk disitu sendiri itu bakal sendirian banget nget. Gak tau ya, harusnya tempat itu favorit buat cari udara segar -dalam artian yang sesungguhnya-, tapi setiap lewat situ sepi, mau sore siang pagi tetep aja sepi. Yah mungkin selera orang emang berbeda kali ya. Sebulan lalu di danau itu pernah ditemukan mayat bayi laki-laki, sedih banget gak sih. Liat keponakanku yang masih bayi trus mikir kok ada orang yang tega ngebuang bayi yang lemah lembut gemulai tak berdaya. Kalau nonjok orang nyebelin sih aku masih bisa maklum ya. Hmm, kembali lagi emang indera perasa orang beda-beda sih. Kayak cowok yang kalau duduk di kursi kendaraan umum ngangkang banget sampek butuh satu setengah kursi jadi yang duduk disebelahnya harus mampu mengusai ilmu melipat diri. Bisa sih ditegur tapi itu akan membuahkan hasil jika mas-masnya otaknya kebawa, bakal susah sih kalau ternyata otaknya ketinggalan atau jatuh ditengah jalan. Mau dibeliin otak-otak biar (perut) ada isinya dikit tapi gak kenal jadi yaudahlah ya tabah aja. Ada lagi orang -sejauh ini yang kutemui bapak-bapak- ngerokok sambil nyetir, trus pas lampu merah asapnya kemana-manaaaa. Apalagi pas macet, beh karbon monooksida, timbal, nikotin dan lainnya bersatu padu deh rebutan masuk paru-paru. Pake maskerlah! Udah! Bau rokoknya masih kecium! Parah lagi sih kalau naik mobil sambil ngerokok trus puntungnya dibuang seenaknya ditengah jalan - di kanan jalan loh bukan di kiri-. Itu beneran kejadian. Kalau kena pengendara lain gimana? Kalau kena mata orang gimana? Kalau kena muka yang habis di facial gimana - aku gak pernah facial sih, ini pengandaian aja-? Nah itu pasti otak sopirnya kelindes kereta sih. Jadi pengen ngasih saran dari pada beli mobil mending beli otak-otak, ups.

Ini adalah tulisan gabut di parkiran minimarket. Chuu~

*) 'Ngapain sih orang itu, kurang kerjaan apa? (subtitle red.)

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.