Skip to main content

Jangan pergi

jalan ini sudah ribuan kali kulewati
dengan amarah
dengan gundah
dengan gembira
dengan biasa saja
dengan segala pikiranku
dengan segala pikiranku tentang hari ini
dengan segala pikiranku tentang besok
dengan segala pikiranku tentang lusa
dengan segala pikiranku tentangmu
dan dari semua itu
kebosananlah yang menjemukanku
lalu kebosanan itu pergi
karena hari-hari yang akan datang
aku tak lagi melewati jalanan ini
dan aku rindu
rindu saat-saat memikirkanmu
dan aku takut
takut saat-saat ini akan berganti 
dan pasti berganti
karena tak ada yang tau esok hari
apalagi isi hati

maka kulewati jalanan ini sekali lagi
agar aku nanti tak merindukannya lagi
agar aku tidak menangis karenanya

aku ketakutan
aku tak pernah begini sebelumnya

ku lewati jalanan ini untuk terakhir kali
berharap lampu-lampu jalannya mati
bunga-bunganya berdebu
dengan begitu
aku bisa pergi tanpa masalalu

aku bisa saja pergi tanpamu
kamu tak bisa pergi tanpaku
jadi jangan pergi

jadi jangan pergi

aku hanya tak melewati jalan ini lagi
jalan yang juga tak pernah kau lewati

jadi jangan pergi 
jangan pergi
jangan

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.