Kaki-kaki dingin melompat di atas kubangan, menggilas kerikil dan pasir basah. Angin-angin kencang membuat kulit mengkerut, memutihkan ujung-ujung jari. Sampai sekian malam perjalanan ini tak kunjung usai, meski pohon bidara telah tumbang melintang hingga tepian parit berumput hijau.
Punggung bungkuk yang berdiri tegak, menggapai sarang kupu-kupu, membuat lelah dan kebodohan menjadi satu. Panas memanggang telah ditantang namun hujan topan mengguyurkan kedinginan. Hal-hal mempesona tak seperti itu sama sekali.
Lalu baru disadari, jika sudah tersesat sejauh ini. Dan bila semua arah terlihat sama maka harus bagaimana?
Comments
Post a Comment