Lingkaran hitam dan abu-abu berputar dikepalaku, menghisap mata-mata raga. Terkulai dengan kelopak terbuka, menghayati dinding dan helaan napas. Aku ingin tertidur dengan damai, berselimut hangat, menyapa angin yang berhembus. Hati berkecamuk, mejalar ke nalar, tergeletak dengan tatapan nanar. Rasanya begitu sepi.
Lagi. Tak ada yang dipunya selain diri sendiri. Bahkan diri ini bukan milik sendiri.
Kilat-kilat menyambar dengan terang benderang, memberi tahu jalan menuju awan kelabu.
Buku baru telah sobek ujungnya, menyisakan pena biru ditepian meja, mengunciku dalam kata. Gunting kuku lapuk dan peniti karatan terguncang, sisa kulit arinya berguguran.
Masih disudut rak buku, semut merah tersesat jauh, tak mati juga tak pulang. Gigitannyalah pengantar ajal.
Ketakutan tak pernah senyata ini.
Comments
Post a Comment