Aku seperti menjadi dua. Satu saat ini dan satu lagi yang muncul tiba-tiba. Kami berdua terlihat telah jauh berlari tapi ternyata aku sendiri, tapi ternyata aku tak berlari. Aku yang saat ini hanya menunggu mati, sedang aku yang tiba-tiba masih bernapas satu dua. Dipundaknya diikatkan aku yang saat ini dengan kain cokelat tersimpul didada. Entah kemana. Saat aku yang saat ini jemu dengan siang dan petang, aku yang tiba-tiba menulis paragraf semu sambil bernyanyi lagu-lagu sendu.
Lalu di pagi buta, aku terjaga. Aku menyesali mimpi yang sebenarnya tak ada. Mengangguk-angguk seolah mengerti bagaimana hidup ini bekerja. Menendang selimut berlapis dua, mencoba merapal doa agar diriku tetap bisa bernyawa.
Comments
Post a Comment