Skip to main content

Najandra

Aku seperti mati suri, tapi matinya hidup dan hidupnya mati. Seperti tergagu apa aku harus terjaga atau tetap menipu diri sendiri. Hidupnya tajam, hujaman apa saja mungkin bisa dilawan, tapi tidak dengan kenyataan. Jika menyelam ke dalam samudera bisa membasuh semua keraguan maka sekarang saja aku mau berlari, terjun bebas dari tebing karang. Meski matahari hampir tenggelam aku tak pernah takut akan kegelapan, aku tak pernah gamang dengan kesendirian, aku hanya tak bisa berteriak dari diriku sendiri, dari apa yang bisa terjadi. Lalu aku harus apa? Menangis menderu bukan tabiatku, mengiba merana bukan prinsipku, aku terlalu mandiri untuk ini atau aku terlalu sendiri untuk diriku sendiri. Aku terlalu kuat untuk terlihat lemah dan aku terlalu lemah untuk benar-benar kuat. Dari ujung waktu ke waktu aku selalu sadar, teramat sadar bahwa tak ada yang ku punya di dunia ini selain diriku sendiri.
Ya, buat apa? Toh kita nanti mati juga.

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.