Skip to main content

Belasan kali dalam sehari

Kenapa aku terus menulis? Kenapa matahari masih sudi bersinar? Kenapa hujan tak segan jatuh ke tanah? Karena setiap ucap bisa salah. Karena kepatuhan melebihi keegoisan. Karena memberi tak kenal kata mati.
Setiap cahaya yang kau pantulkan akan kembali padamu, setiap senyum yang kau ulum akan mencerahkan hatimu dan setiap panah yang kau lepaskan akan menancap juga di jantungmu.

Alur ini seperti sungai di pegunungan nun jauh, arusnya mengalir deras, jernih dan menyejukkan. Meski terhantam batu berkali-kali, melewati pusaran yang bertubi-tubi airnya tetaplah jernih dan menyejukkan. Kita tak pernah tau kapan aliran itu berubah menjadi hijau lalu coklat susu, kita tak pernah menyadari kapan batu-batu itu tak terlihat lagi diganti kelipuk, kita juga tak harus mengerti saat arus hilang sama sekali.
Andai akhir dari alur ini adalah laut, yang meskipun air berwarna coklat, lumpur, cadmium, timbal terus menerus mengalirinya air laut masih tetap biru. Tak seorang pun bisa menjamin.
Jika hidup adalah aliran sungai maka berbahagialah jika kau menjadi ikan, bersyukurlah jika kau menjadi batu dan bergembiralah jika kau menjadi kelipuk karena menjadi air bisa jadi sangat menderita, bisa jadi kau akan menangis belasan kali dalam sehari namun tak satupun mengetahui. Kenapa? Karena air mata juga air, air akan menerima segalanya, dari mana saja.

...

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.