Skip to main content

Say No to Golput

Apa sih yang ada dipikiran orang yang golput saat pemilihan presiden? Kecuali memang lagi berhalangan banget, eh nyantai-nyantai golput itu lho gak ngerti aku sama jalan pikiran mereka. Kenapa disini yang dibahas pemilihan presiden karena presiden adalah kandidat kuat yang bakalan di'cacati' orang dari pada caleg, lurah, menteri atau walikota. Kalau lurah sih paling yang nyacati orang-orang cangkrukan di warung, ibu-ibu yang suka nggosip, levelnya sih masih desa. Yang lain? Jarang banget dah. Tapi kalau presiden? Huuuuuhhhh kebanyakan pasti pernah nyacat. Kembali ke topik awal, orang-orang golput ini alasan klasiknya sih gak ada yang pas di hati, calon-calon gak ada yang bener makanya mereka pada gak mau milih. Lah, kalau orang se-Indonesia pikirannya kayak mereka mau jadi apa tata kepemerintahan negara ini? Presiden kosong, gak ada yang milih. Trus mau jadi apa negara ini? Trus pemuli lagi? Duit lagi, duit negara loh itu, duit kita juga. Trus golput lagi-pemilu lagi-golput lagi-dst kayak lingkaran setan dong jadinya. Sama sekali gak masuk akal!!!
Nah untungnya warga negara kita otaknya masih banyak yang waras, meskipun warasnya kadang gara-gara uang (sogok red.) akhirnya terpilih lah yang takdirnya terpilih, tapi, sekali lagi, setelah pemilu selesai masa jabatan dimulai orang-orang golput ini akan dengan senang hati nyacat yang udah terpilih, dibilang gak becus lah, inilah, itulah. Emang yang milih siapa? Orang golput jawab, bukan gue.
Sekarang gue tanya sama lo-lo yang pada golput: Trus mau lo apa? Disuruh milih gak milih! Giliran udah ada yang kepilih lo nyalah2in. Trus mau lo apa???????????
Jadilah orang yang bertanggung jawab, dan beranilah menjadi bagian dari masa depan. Caoo....

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.