Skip to main content

Mari Berpesta

Dari pada boneka sebesar badanmu lebih baik berikan aku satu set peralatan lukis, atau cat nya saja deh, emm kanvas doang boleh kok karena aku suka melukis. Aku sangat suka melukis namamu di hatiku, melukis senja yang berwarna-warni dan melukis ilalang yang terus tegak menghadap mentari. Melukis itu seperti menciptakan duniamu, tentu kau pasti akan menyayangi segala karyamu, karena itu adalah jerih payahmu, seperti aku juga aku sangat suka melihat hasil lukisanku. Campuran warnanya dan temanya membuatku terlalu kagum pada diri sendiri. Sombong, haha.
Mencampurkan warna, memilih warna apa dalam melukis seperti menata mimpi. Ramuan dan pilihan yang tetap akan menghasilkan lukisan yang bukan cuma indah tapi juga menyentuh hati. Tatanan yang kau bangun sekarang adalah pondasi mimpimu dimasa depan. Aku sangat suka bermimpi, ini, itu, banyak sekali. Tak pernah ada batas maksimum dalam bermimpi pun berimajinasi.
Bisakah kau bayangkan, saat ini kau sedang melihat lukisan sebuah danau di kala senja, dengan sebuah pulau kecil ditengahnya. Pulau itu ditumbuhi pohon-pohon berwarna hijau muda hingga tua, tepiannya menghitam seumpama bayangan. Jauh ditepinya dataran berwarna coklat gelap, bertumpuk-tumpuk laksana gunung nun jauh. Air danau itu berwarna biru muda, semakin jauh semakin berwarna biru tua, terkadang dibeberapa bagian tampak cat yang warnanya menebal, menandakan pada daerah itu agak dalam. Dan kau harus melihat langitnya, langitnya coklat susu bersampur jingga. Awan-awan putih terlukis jelas, bentuknya seperti buaya yang menganga, siap memakan matahari yang penuh.
Mungkin kau berpikir itu tak indah, karena bayanganmu tak pernah sama dengan bayanganku. Tenanglah, itu tak jadi masalah.
Mari berpesta dengan mimpi, semangat dan usaha. Masa depan begitu indah, tak terbayangkan!!!!!
Berpesta dengan warna-warni cat minyak, semarak huruf yang berdesakan dalam satu barisan. Mari berpesta, karena hari ini adalah harimu, karena hari ini adalah milikmu. Mimpi itu kamu yang punya, imajinasi itu kamu yang rasa, biarkan dirimu bersorak dengan gembira. Orang-orang yang mencibir hanyalah tempat gelap yang tak tersorot lampu pesta, tak perlu kau risaukan, karena kau sibuk berpesta!!
Pesta malam ini dihadiri boneka-boneka bisu, kue-kue lucu, imajinasi yang menggebu-gebu dan semangat yang menyala-nyala.
Jadi, apa yang kau tunggu??

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.