Skip to main content

Ini sangat sulit

Kadang aku menyembunyikan keinginanku yang sebenarnya, berusaha mengelak sebisa mungkin, takut membuat orang terluka, atau takut semuanya berantakan, tapi aku tidak bisa hidup dalam kepura-puraan. Aku bisa berpikir, aku memiliki logika, kata 'harus' menjadi kaku bagiku. Apakah aku harus bertanya dengan jujur? Atau aku harus terus mengelak dan membiarkan orang lain berasumsi tentangku, atau bagaimana?
Jika aku bertanya mungkin bagi mereka ini adalah pertanyaan konyol, sangat konyol setelah bertahun-tahun aku menjalaninya. Mungkin mereka akan menganggap aku hanya main-main saja selama ini, tidak sungguh-sungguh, munafik dan sebagainya. Tapi.. hey, yang menilai diriku bukan orang lain, semua yang kusembunyikan dan ku utarakan akan kupertanggujng jawabkan, tapi bukan pada mereka. Aku hanya takut salah jalan, salah mengambil keputusan, atau lebih ekstrim orang akan menggapapku sesat, maksudku -orang yang seperti itu. Mengapa harus ada orang seperti ini dan orang seperti itu? Apakah hak kita untuk membedakan diri dengan orang lain, mengganggap kita lebih baik, sebentar apakah aku mulai sekuler?
Ini membuatku pusing.
Jadi mana keputusan yang benar? Dimanakah aku harus mencari kebenaran? Sebenarnya semua berjalan lancar baik-baik saja, aku mempercainya, bukan karena aku mudah percaya -aku sangat sulit percaya orang lain- tapi menggunakan logikaku untuk memikirkannya dan aku menerimanya. Tapi disaat seperti ini, ini baru pertama terjadi dan aku mulai ragu. Aku agak berpikir ini seperti sebuah mungkin lebih mirip atau agak memaksa. Itulah masalahnya!! Aku bukan tipe orang yang bisa dipaksa, didikte harus melakukan apa! Aku akan melakukan sesuatu dengan senang jika itu sejalan dengan pikiranku, tapi yang ini tidak. Mungkin aku memiliki jiwa pemberontak sehingga semakin dipaksa semakin aku ingin memberontak. Kau tau, mungkin kata paksa itu terlalu kasar tapi aku tidak menemukan kata lain yang tepat jadi terpaksa ku gunakan kata itu.
Jadi aku harus bagaimana? Aku sama sekali tidak menemukan orang yang tepat untuk membicarakan ini...
Ada yang bilang atau aku pernah baca, ikutilah kata hatimu.. tapi bagaimana kalau hatiku keliru? Bagaimana kalau hatiku tak sengaja dibisiki setan?
Jujur, sebenarnya aku hanya butuh jujur dan melontarka satu pertanyaan, HANYA satu pertanyaan, jika jawabannya  ya, berarti tak ada maslah aku bisa bernapas lega persetan apa yang mereka pikirkan, hemm jika jawabannya bertele-tele, atau pada intinya adalah tidak? Aku harus bagaimana dalam bersikap? Ayolah ndah, kamu sudah dewasa, kamu sudah harus bisa mengambil keputusan!!
Oke, akan kuputuskan, terserah apa tanggapannya, yang penting hatiku tenang.
Kau tau, ini sangat sulit..

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.