Skip to main content

Happy Fasting Month

Happy Ramadhan, yap awal bulan ini umat muslim menjalankan ibadah puasa, keep fight guys.
Ceritanya bulan puasa kali ini dilewati di tiga kota (insyaAllah), puasa pertama diawali di Gresik. Saya menjalani tarawih pertama di sebuh desa yang agak pinggir, lumayanlah ya dari kota. Di satu desa ini ada sebuah masjid yang menjadi pusat ibadah penduduk seluruh desa jadi ya yang shalat tarawih banyak banged. Berdasarkan tips saya berangkat saat qiro'ah -qiro'ah itu saat masjid memperdengarkan orang membaca Al Qur'an, biasanya sih kaset, sebelum adzan dikumandangkan-, keadaan masjid masih sepi, yah mungkin gak sampek sepuluh sehingga leluasa memilih tempat. Dalam hati saya sempet mearsa nyesel gitu, wah kayaknya aku berangkat terlalu cepat ini. Tapi begitu adzan sudah berkumandang, belum selese muadzin itu sudah penuh sesak sampek keteras-terasnya. Oh, pilihan tepat berangkat lebih awal. Dihari-hari berikutnya malah waktu masih Gusduran (istilah saat masjid masih melantunkan puji-pujian yang dibuat Gus Dur sebelum qiro'ah) saya sudah berangkat dan itu masjid sudah penuh. Alhamdulillah. Yang gak kalah seru adalah waktu selesai shalat tarawih orang-orang berebut keluar masjid dan bingung mencari sandal, haha. Menyenangkan sekali bulan puasa di tempat ini, suasananya sangat mendukung.
Kota kedua yang disinggahi saat bulan puasa adalah Surabaya, olala. Surabaya adalah kota favorit untuk menjalankan ibadah puasa dibanding kota lain yang pernah saya singgahi saat ramadhan (lamongan, malang, magetan red.). Di kota ini kita bisa milih mau sholat dimasjid mana, berapa rakaat tapi yang jelas berapapun rakaatnya imamnya gak ada yang bacaannya diuber, mantap! Mau 11 rakaat, bacaan mantap, ceramahan plus AC, ada! Mau outdoor, 23 rakaat, bacaan mantap, ceramahan, bareng tetangga, ada! Mau indoor, megah, jama'ahnya banyak, 23 rakaat, bacaan mantap, deket tempat nongkrong, ada! Mau yang jauh, jama'ahnya banyak, bacaan mantap 1 juz, sekalian ziarah wali, ada! Tinggal pilih, hehe.
Kota ketiga masih list ya. Ramadhan 3 kota ini mengingatkan akan ramadhan 2 tahun lalu yang juga dilewatkan di tiga kota, Malang, Surabaya dan Magetan.
Wookee, 

Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.