Skip to main content

Kupu-kupu bersedih

Seperti seekor kupu-kupu yang terbang hingga ke atas dahan, dia melihat sarang burung yang penuh dengan telur burung parkit. Di bawah naungan pohon meliuk-liuk seekor ular coklat yang sedang mencari mangsa. Perlahan ular tersebut merambat naik ke atas, seolah mengetahui adanya telur-telur lezat yang terkumpul dalam sebuah sarang, telur yang jika menetas nantinya akan menjadi penerus baru, para penjelajah angkasa, penghias langit, pembawa asa dari spesies. Ular itu tinggal sedepa lagi, sang kupu-kupu berteriak meminta tolong, dia memohon kepada dedaunan, batang pohon jambu, angin yang sedang bertiup, manusia yang lalu lalang, tapi mereka semua tidak mendengar. Tapi mereka semua pura-pura tidak mendengar. Tapi meskipun mereka mendengar bagi mereka tidak ada yang bisa mereka lakukan karena begitulah peraturan alam. Kupu-kupu tersebut juga tidak bisa melakukan apapun, selain meratap sedih, merapal do'a dalam hati melihat satu demi satu telur itu dimangsa ular, membayangkan satu demi satu penerus spesies itu hilang tertelan alam dan tak ada satu pun yang bisa dia selamatkan.
Hujan turun membasahi tanah, juga membasahi daun jambu air yang menjadi naungan sang kupu-kupu. Kupu-kupu menyadari bahwa tak pernah ada keadilan di dunia ini, bahwa yang tak banyak yang bisa dia lakukan selain menghisap sari-sari bunga, selain membantu penyerbukan para bunga, selain memendam dalam hati lewat lantunan do'a. Karena sang kupu-kupu hanyalah seekor serangga, satu dari ribuan bahkan jutaan mahluk di dunia ini.
Kupu-kupu bersedih, kupu-kupu mengepakkan sayap, membelah hujan yang mulai rintik, menuju bunga mawar di ujung senja.


Comments

Popular posts from this blog

Api ini

Api ini, masih menjadi diriku baranya berwarna merah jingga tergores sedikit oksigen saja nyalanya akan menghanguskan bumi asapnya merasuk sampai ke mata karbon dioksidanya bagai menghujam dada jelaganya tertinggal di hati jika aku adalah api dan akan terus menjadi api meninggalkan luka bakar yang tak pernah hilang memiliki abu yang selalu kelabu api ini, hanya bisa dikendalikan oksigen bukan air, tanah atau udara ...

Pertemuan

Ada yang pernah bilang bahwa Tuhan tak pernah salah mempertemukan kita dengan seseorang. Entah kesakitan atau kebahagian yang dibawa dan terbawa saat perkenalan maupun perpisahan. Perpisahan? Sesungguhnya tak pernah ada perpisahan untuk sesuatu yang pernah singgah dihidup kita selama kita masih bernapas. Mungkin terlupakan atau memang tidak diperkenankan oleh waktu. Bisa saja, esok hari atau beberapa tahun lagi akan bertemu kembali, menghidupkan kenangan lama yang mulai membusuk dipojokan memori. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita selain kita sendiri. Pertemuan yang dulu akan terganti dengan pertemuan yang baru, begitu seterusnya. Pilihanlah yang menjadikan kita memilih pertemuan lama dengan kejutan-kejutan baru setiap harinya. Akan terus berlanjut jika kita kuat menghadapi segala kebosanan, pertikaian, dan godaan pertemuan baru.  Lalu berapa banyak pertemuan yang singgah di hatimu? Sudahkah kau ingin berlabuh pada satu dermaga? Atau masihkah dirimu menanti pertemuan...

Datang -atau pulang

Hari ini aku datang -atau entah pulang. Rasa yang tak bisa dituliskan. Dan ada hadiah yang indah, bunga-bunga flamboyan bermekaran. Merah merona menghias jalanan beraspal. Melihatmu setelah 12 purnama berlalu ternyata tak mengubah hati ini sama sekali. Aku tetap menyukaimu. Dulu, jika dirimu masih ingat, aku berangkat diiringi musim semi mu. Ah, prosaku sekarang kurang syahdu, mungkin karena hati ini telah membatu. Gerombolan mahkotamu membuat semarak, menghibur langit yang biru saat pagar jalan membisu. Tenanglah, aku masih padamu, mengagumi tiap kelopak yang indah. Tetaplah bersamaku, melewati sisa usia bumi yang kesepian. Dan aku ingin pergi jauh sekali, sendiri.