Seperti seekor kupu-kupu yang terbang hingga ke atas dahan, dia melihat sarang burung yang penuh dengan telur burung parkit. Di bawah naungan pohon meliuk-liuk seekor ular coklat yang sedang mencari mangsa. Perlahan ular tersebut merambat naik ke atas, seolah mengetahui adanya telur-telur lezat yang terkumpul dalam sebuah sarang, telur yang jika menetas nantinya akan menjadi penerus baru, para penjelajah angkasa, penghias langit, pembawa asa dari spesies. Ular itu tinggal sedepa lagi, sang kupu-kupu berteriak meminta tolong, dia memohon kepada dedaunan, batang pohon jambu, angin yang sedang bertiup, manusia yang lalu lalang, tapi mereka semua tidak mendengar. Tapi mereka semua pura-pura tidak mendengar. Tapi meskipun mereka mendengar bagi mereka tidak ada yang bisa mereka lakukan karena begitulah peraturan alam. Kupu-kupu tersebut juga tidak bisa melakukan apapun, selain meratap sedih, merapal do'a dalam hati melihat satu demi satu telur itu dimangsa ular, membayangkan satu demi satu penerus spesies itu hilang tertelan alam dan tak ada satu pun yang bisa dia selamatkan.
Hujan turun membasahi tanah, juga membasahi daun jambu air yang menjadi naungan sang kupu-kupu. Kupu-kupu menyadari bahwa tak pernah ada keadilan di dunia ini, bahwa yang tak banyak yang bisa dia lakukan selain menghisap sari-sari bunga, selain membantu penyerbukan para bunga, selain memendam dalam hati lewat lantunan do'a. Karena sang kupu-kupu hanyalah seekor serangga, satu dari ribuan bahkan jutaan mahluk di dunia ini.
Kupu-kupu bersedih, kupu-kupu mengepakkan sayap, membelah hujan yang mulai rintik, menuju bunga mawar di ujung senja.
Comments
Post a Comment