Aku terdampar di negeri mimpi, dengan sejuta bintang yang menghiasi langitnya, dengan rembulan bulat penuh yang berwarna merah bata, dikelilingi kurcaci-kurcaci lusuh. Airnya berwarna coklat keruh, dinaungi ratusan pohon kelapa. Disana akan kau temui puluhan spesies burung berbagai warna, suaranya sahut-menyahut saat senja tiba. Negeri itu memiliki sebuah laut yang tenang, dengan pinggiran berwarna hitam dan tosca di tengahnya. Akan kau temui juga ikan-ikan beraneka ragam. Dari yang berwarana hitam, merah muda, kuning, coklat hingga putih berenang-renang di bawah sampan kayu, bersembunyi dibalik tiang dermaga, terapung pasrah dimainkan ombak atau tersangkut mata kail.
Keindahan negeri ini seperti mimpi, tapi tahukah kamu? Mimpi tetaplah sebuah mimpi. Indahnya sebuah mimpi tak akan pernah menghapus kenyataan. Mungkin ibarat wonderland aku sedang tersesat di kerajaan ratu merah, bukan berarti tidak baik, tapi petualangan dan kenyataan hiduplah yang menjadi daya tariknya, yang terkadang tarikannya terlalu kuat sehingga bisa mengoyak kelopak mata.
Mimpi ini adalah mimpi yang luar biasa, karena ditempuh dengan tawa dan air mata, didatangi dengan hati dan kaki. Pada akhirnya tubuh ini akan terjaga, meninggalkan negeri mimpi, melewati waktu dan rindu, menyisakan sebuah kisah.
Kisah ini sudah dimulai, prolognya mungkin telah selesai, aktor, aktris, latar dan settingnya begitu sempurna, perlahan alur ceritanya mengalir menuju klimaks. Sayangnya ini bukan sesuatu yang mudah ditebak, maka yang bisa kulakukan hanya terus memainkan peran sebaik mungkin.
Kisah di negeri mimpi, kisah sejati tentang kehidupan, kisah yang tak akan pernah terulang. Kisah ini sungguh berarti, karena hanya akan dibacakan satu kali..
Dua belas purnama di negeri mimpi.
Comments
Post a Comment